Aktivis dan Influencer Diteror usai Kritik Banjir Sumatra, Kompolnas Singgung Hak yang Dilindungi
Kompolnas mendesak polisi mengungkap pelaku dan dalang di balik teror terhadap influencer dan aktivis.
Penulis:
Pravitri Retno Widyastuti
Editor:
Garudea Prabawati
Ringkasan Berita:
- Kompolnas mendesak kepolisian untuk mengungkap pelaku teror terhadap aktivis dan influencer buntut mengkritik penanganan bencana di Sumatra.
- Menurut Kompolnas, kritik merupakan hak yang dilindungi oleh konstitusi.
- Kompolnas menilai teror tersebut merugikan semua pihak.
TRIBUNNEWS.com - Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), M Choirul Anam, buka suara mengenai teror yang diterima aktivis dan influencer karena mengkritik pemerintah terkait penanganan bencana banjir di Sumatra.
Anam menilai apapun bentuk dan motif dari teror tersebut, tak hanya merugikan korban, melainkan juga semua pihak.
"Teror yang dialami oleh para aktivis dan influencer, apapun motivasinya, apapun bentuk dan tujuan dari teror tersebut, itu merugikan kita semua," kata Anam, Rabu (31/12/2025), dikutip dari YouTube KompasTV.
Padahal, kritik yang disampaikan aktivis dan influencer, imbuh Anam, adalah hak mereka.
Kritik merupakan pendapat pribadi yang dilindungi oleh konstitusi, undang-undang, hingga prinsip hak asasi manusia (HAM).
"Apa yang mereka lakukan (mengkritik menyampaikan pendapat), itu bagian hak yang dilindungi konsitusi kita, dilindungi undang-undang kita, dilindungi oleh prinsip hak asasi manusia," jelasnya.
Baca juga: Dukungan Ferry Irwandi untuk DJ Donny usai Rumahnya Dilempar Bom Molotov: Stay Safe, Bang
Karena itu, Anam mendesak polisi untuk mengungkap pelaku dan dalang di balik teror terhadap aktivis dan influencer.
"Oleh karenanya penting kepolisian untuk mengungkap siapa pelaku di balik aksi teror ini, dan siapa di balik dalang ini," tegasnya.
Sebelumnya, aktivis Greenpeace, Iqbal Damanik; influencer asal Aceh, Sherly Annavita; dan disjoki asal Aceh, DJ Donny; menerima teror pada Selasa (30/12/2025).
Pada Selasa pagi, Iqbal mendapati ada bangkai ayam di teras rumahnya.
Teror itu disertai pesan bernada ancaman yang ditulis pada kertas dan dibungkus plastik, lalu diikat ke kaki bangkai ayam.
Pesan itu bertuliskan, "JAGALAH UCAPANMU APABILA ANDA INGIN MENJAGA KELUARGAMU, MULUTMU HARIMAUMU".
Sementara, Sherly mendapat kiriman sekantong plastik telur busuk yang dilempar ke depan rumahnya.
Bersama bungkusan itu, ada gulungan kertas berisikan pesan bernada ancaman yang meminta Sherly tak menjadikan banjir Sumatra sebagai konten di media sosial.
Mobilnya yang terparkir di luar juga dicoret menggunakan cat merah.
Seperti Iqbal, DJ Donny juga menerima paket teror berisi bangkai ayam hitam yang dibungkus kotak plastik bening.
Ia juga menerima pesan bernada ancaman.
"Jaga mulutmu! Terutama di medsos. Jangan pecah belah bangsa atau kamu akan jadi seperti ayam ini!" tulis pesan tersebut, dikutip Tribunnews.com dari Instagram Donny.
"Kau akan jadi seperti ayam ini jika mulut dan medsosmu kelakuannya seperti b*n*t*ng! Jangan main-main."
Keesokan harinya, Donny kembali menerima teror berupa bom molotov yang dilempat ke rumahnya pada Rabu (31/12/2025) dini hari.
Ia pun langsung melaporkan teror tersebut ke Polda Metro Jaya karena dianggap bisa merugikan banyak orang dan termasuk tindak kriminal.
Baca juga: Profil DJ Donny Dapat Teror Bangkai-Bom Molotov, Diduga karena Kritik Banjir Sumatra, Eks Caleg PDIP
"Alhamdulillah Allah masih baik, api di bom molotov keburu mati, sebelum kena mobil gue."
"Karena ini sudah berupa tindakan kriminal yang menurut gue bisa merugikan orang banyak, siang ini gue langsung lapor ke SUBDIT 1 KAMNEG Unit V DITRESKRIMUM POLDA METRO JAYA," ungkapnya lewat unggahan di Instagram, Rabu.
Greenpeace Duga Kuat karena Kritik Banjir Sumatra
Kepala Greenpeace Indonesia, Leonardo Simanjuntak, menduga kuat teror yang diterima Iqbal dan dua influencer lainnya karena vokal mengkritik penanganan pemerintah terkait banjir di Sumatra.
Ia menilai ada kemiripan pola soal teror yang diterima Iqbal, Sherly, dan Donny.
"Sulit untuk tak mengaitkan kiriman bangkai ayam ini dengan upaya pembungkaman terhadap orang-orang yang gencar menyampaikan kritik atas situasi Indonesia saat ini."
"Ada satu kemiripan pola yang kami amati, sehingga kami menilai ini teror yang terjadi sistematis terhadap orang-orang yang belakangan banyak mengkritik pemerintah ihwal penanganan bencana Sumatra," kata Leonard, dikutip dari laman Greenpeace, Rabu (31/12/2025).
Terpisah, politisi PDIP, Mohamad Guntur Romli, turut memberikan tanggapannya atas teror yang diterima aktivis dan influencer.
Ia menilai teror terhadap para influencer dan aktivis lingkungan itu merupakan tindakan pengecut.
"Tujuannya untuk membungkam kritik. Suatu respons yang menunjukkan tidak siap berdemokrasi dan memegang amanah kekuasaan."
"Akhirnya menyalahgunakan kekuasaan untuk menebarkan ancaman dan ketakutan,” kata Guntur Romli, Kamus (1/1/2026).
Guntur pun mengingatkan, suara dari rakyat, sekecil dan selemah apapun harus didengar.
Maka, Guntur pun menegaskan bahwa PDI Perjuangan mengecam tindakan teror itu.
Tak hanya itu, dia turut mendesak penegak hukum untuk bertindak cepat mengungkap dalang aksi teror tersebut.
"Vox Populi Vox Dei. Suara Rakyat adalah Suara Tuhan," tegasnya.
"Ini preseden yang buruk dalam kehidupan bermasyarakat kita. Harus diungkap, siapa pelaku lapangan dan siapa dalangnya," pungkas dia.
(Tribunnews.com/Pravitri Retno W/Faisal Mohay/Fransiskus Adhiyuda)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.