AS Invasi Venezuela, PKS Minta Pemerintah Antisipasi Lonjakan Harga Minyak Dunia
Mulyanto meminta Pemerintah RI untuk mengantisipasi dampak ekonomi pasca-invasi Amerika Serikat (AS) ke Venezuela.
Penulis:
Chaerul Umam
Editor:
Hasanudin Aco
Menurutnya, semua negara berdaulat harus mengupayakan penyelesaian krisis melalui mekanisme hukum internasional dan multilateralisme, sembari mendorong transisi damai.
Serangan AS dan Penangkapan Presiden Maduro
Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat warga ibu kota Venezuela, Caracas, dikejutkan oleh dentuman keras disertai suara pesawat yang terbang rendah.
Dari kejauhan, nyala api terlihat membubung, sedangkan asap pekat mengepul ke langit.
Kegelapan dini hari berubah menjadi merah menyala, menandai awal dari serangan besar-besaran yang mengguncang negara Amerika Selatan tersebut.
Beberapa jam setelah kejadian itu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengonfirmasi bahwa "Negeri Paman Sam" telah melancarkan operasi militer berskala besar ke Venezuela.
Lewat unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa pasukan gabungan militer dan penegak hukum AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, lalu menerbangkan keduanya keluar dari negara tersebut.
Donald Trump mengakui mengincar minyak Venezuela yang disebut-sebut memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.
Trump mengatakan AS akan mendapatkan 30 juta hingga 50 juta barel minyak dari Venezuela.
Trump membuat pengumuman tersebut kemarin waktu Amerika dan berjanji untuk menggunakan hasil penjualan minyak tersebut "untuk kepentingan rakyat" kedua negara.
Dengan harga minyak sekitar $56 per barel, transaksi tersebut bisa bernilai hingga $2,8 miliar.