Polisi Intensifkan Pengambilan Sampel Antemortem dan Tes DNA Keluarga Penumpang ATR
Polda Sulsel kumpulkan data antemortem 8 keluarga korban ATR jatuh di Bulusaraung, identifikasi lewat DNA.
Editor:
Glery Lazuardi
Penyiagaan pos ante mortem ini dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk mendukung proses identifikasi korban apabila diperlukan.
Kombes Pol dr Muhammad Haris menyampaikan harapannya agar seluruh penumpang dan kru pesawat dapat ditemukan dalam kondisi selamat. Meski demikian, pihaknya tetap menyiapkan seluruh prosedur sesuai standar DVI.
“Semoga seluruh kru dan penumpang masih selamat. Namun jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kami sudah menyiapkan posko di Biddokkes,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Pos Ante Mortem berfungsi untuk mengumpulkan data dan identitas korban melalui keluarga, sementara Pos Post Mortem disiapkan untuk pemeriksaan jenazah apabila ditemukan. Seluruh tahapan akan dijalankan sesuai dengan prosedur DVI yang berlaku.
“Ante mortem untuk pendataan korban, sedangkan post mortem untuk pemeriksaan jenazah,” jelasnya.
Salah satu keluarga korban yang telah menjalani pemeriksaan DNA adalah Bambang Muchwanto, ayah dari Dwi Murdiono, penumpang pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport. Bambang datang jauh-jauh dari Kota Malang bersama anak ketiganya, Tarmizi, demi menunggu kepastian nasib sang putra.
Bambang tiba di Makassar sekitar pukul 20.00 WITA dan langsung menjalani pengambilan sampel DNA di Pos Ante Mortem pada Minggu (18/1/2026) malam. Meski telah menjalani proses tersebut, ia memilih tetap bertahan di Makassar sambil menunggu kabar terbaru dari tim SAR terkait pencarian di kawasan Gunung Bulusaraung.
“Saya berangkat dari rumah siang tadi, sampai di Makassar malam. Saya nunggu di sini dulu, sampai anak saya ditemukan,” ujar Bambang dengan suara lirih.
Ia mengaku pertama kali mendapat kabar bahwa Dwi menjadi salah satu korban pesawat dari seorang rekan pada Sabtu (17/1/2026) siang. Sejak saat itu, Bambang hanya bisa berharap dan menunggu kabar baik.
“Setelah itu saya cuma bisa nunggu. Semoga anak saya selamat,” katanya.
Dwi Murdiono merupakan anak sulung dari empat bersaudara dan satu-satunya yang mengikuti jejak sang ayah di dunia penerbangan sebagai engineer pesawat.
Bambang yang telah pensiun sejak pandemi Covid-19 kini hanya bisa memanjatkan doa agar putranya segera ditemukan dan keluarganya mendapat kepastian.
“Saya cuma ingin anak saya ditemukan,” tutupnya.