Dilantik Jadi Tenaga Ahli DPN, Noe Letto Bantah Berada di Bawah Bahlil dan Gibran
Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe Letto membantah bahwa dia sudah masuk ke dalam sistem pemerintahan.
Penulis:
Febri Prasetyo
Editor:
Whiesa Daniswara
Ringkasan Berita:
- Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe Letto diangkat sebagai Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional.
- Noe mengklaim masih di luar sistem pemerintahan, tetapi di dalam sistem negara.
- Menurut Noe, posisinya sebagai TA tidak mengubah apa pun dalam forum Maiyah.
TRIBUNNEWS.COM - Sabrang Mowo Damar Panuluh atau yang lebih dikenal sebagai Noe Letto buka suara setelah setelah dilantik menjadi Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional (TA DPN) pada hari Kamis, (15/1/2026), di Jakarta.
DPN adalah lembaga nonstruktural yang dipimpin langsung Presiden RI dan dibentuk melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 202 Tahun 2024. DPN memberikan pertimbangan dan merumuskan kebijakan strategis pertahanan negara.
Tugas utama lembaga ini meliputi penyusunan kebijakan terpadu pertahanan, pengerahan komponen pertahanan dalam mobilisasi dan demobilisasi, penilaian risiko kebijakan, serta integrasi pemeliharaan alutsista agar berkelanjutan.
Adapun pelantikan Noe sebagai Tenaga Ahli DPN dilakukan oleh Menteri Pertahanan sekaligus Ketua Harian Dewan Pertahanan Nasional, Sjafrie Sjamsoeddin. Tidak hanya Noe, ada 11 orang lain yang turut dilantik.
“Para tenaga ahli ini akan mengisi posisi krusial sebagai Tenaga Ahli Utama, Madya, dan Muda pada kedeputian bidang geoekonomi, geopolitik, serta geostrategi,” ujar Karo Infohan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, Jumat, (16/1/2026).
Putra budayawan Emha Ainun Nadjib itu kemudian mengomentari kritik-kritik yang diarahkan kepadanya setelah dia dilantik.
Noe mengaku ada banyak yang marah dan kecewa setelah di dilantik menjadi TA DPN. Ada yang menuding Noe sudah jatuh dalam kekuasaan. Meski demikian, ada pula yang mendukung Noe.
Dia mengaku sudah mengetahui sumber-sumber keresahan orang dan sudah memperkirakan bakal ada polemik. Lalu, dia menjelaskan tugasnya sebagai TA DPN.
“Tenaga ahli itu memberi masukan kepada pemerintah, mungkin bisa diteruskan ke presiden, terhadap situasi, risiko, dan rekomendasi," kata dia di kanal YouTube miliknya, Rabu, (21/1/2026).
“Posisi saya sebagai TA tidak mengubah apa pun sama sekali, Maiyahan. Saya tetap Maiyahan posisinya karena itu primer. Itu nomor satu,” katanya.
Adapun Maiyahan berasal dari kata Maiyah, yaitu semacam pengajian atau forum yang diinisiasi oleh ayah Noe, Cak Nun.
Baca juga: Sosok Noe Letto Jadi Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional: Anak Cak Nun Lulusan Ganda Kanada!
“Masalah utamanya adalah bagaimana koneksi antara apa yang kita obrolkan ke Maiyah untuk sampai ke yang bisa mendengarkan dengan jernih,” ujarnya.
Dia membantah bahwa nantinya dia akan berada di bawah perintah para pejabat tinggi.
“Kalau ada yang khawatir apa saya di bawah [Menteri ESDM] Bahlil, di bawah [Wakil Presiden] Gibran, ya enggak mungkin. Enggak ada urusan.”
“Kalau berada di bawah Bahlil, di bawah siapa segala macam. No, no, no. Kita enggak di bawah siapa-siapa” katanya menegaskan.
Baca tanpa iklan