Pasha Anggap Kemen PPPA Tak Punya Program Pemberdayaan Perempuan, Wamen Veronica Tan: Masih Belajar
Pasha mengkritik Kemen PPPA tidak memiliki program pemberdayaan perempuan. Wamen Veronica Tan lantas menjawab masih belajar.
Penulis:
Yohanes Liestyo Poerwoto
Editor:
Facundo Chrysnha Pradipha
Ringkasan Berita:
- Pasha mengkritik Kemen PPPA yang tidak memiliki program spesifik yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan.
- Dalam raker, dia menganggap Kemen PPPA justru hanya berkutat dalam kasus kekerasan terhadap perempuan alih-alih terkait pemberdayaan.
- Bahkan, ia menyindir kementerian tersebut layaknya polres karena seakan hanya menerima laporan hukum terus menerus.
- Menjawab sindirian itu, Wamen Veronica Tan menjawab masih belajar karena orang baru.
TRIBUNNEWS.COM - Debat sempat terjadi ketika rapat kerja (raker) dan rapat dengar pendapat (RDP) yang digelar oleh Komisi VIII DPR bersama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada Senin (26/1/2026) lalu.
Perdebatan itu terjadi ketika anggota Komisi VIII dari Fraksi PAN Sigit Purnomo atau yang dikenal Pasha mempertanyakan program Kementerian PPPA yang dianggap tidak mendorong pemberdayaan perempuan.
Pasha mengatakan, selama membaca paparan program Kementerian PPPA, seluruhnya hanya berisi penyelesaian masalah terhadap perempuan.
Mantan vokalis band Ungu itu pun sampai menyindir Kementerian PPPA layaknya kepolisian karena hanya menampung laporan yang dialami perempuan.
"Dari sekian halaman yang saya baca, semuanya (isi pemaparan) persoalan tentang perempuan (seperti) kekerasan, penculikan."
"Jadi ini sebenarnya kementerian atau Polres. Soalnya tidak ada (program) pemberdayaan sama sekali," katanya dikutip dari YouTube TV Parlemen, Jumat (30/1/2026).
Baca juga: Kementerian PPPA Beri Pendampingan Untuk Korban dan Terduga Pelaku Peledakan di SMAN 72 Jakarta
Lalu, Pasha justru semakin heran ketika program Kementerian PPPA tidak ada yang spesifik terkait pemberdayaan perempuan dan justru bersinggungan dengan kementerian atau lembaga lain seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, hingga Koperasi Desa Merah Putih.
"Di mana guru-guru madrasah? Ini guru-guru banyak perempuan. Guru ngaji kok nggak ada? Ini juga banyak perempuan."
"Guru honorer yang sekarang sedang memperjuangkan mereka punya hidup ini, juga banyak perempuan, tapi tak ada disinggung di sini," tegas Pasha.
Pasha pun mengaku prihatin ketika kerja Kementerian PPPA seakan tergantikan dengan KPAI, padahal secara hierarki lebih rendah.
Bahkan, menurutnya, ketika ada kasus yang menyangkut perempuan, Kementerian PPPA juga tergantikan dengan influencer.
Dia juga sampai mendorong agar Kementerian PPPA dipisah agar bisa menjalankan fungsinya secara optimal.
"Ini luar biasa kerjanya KPAI, anggarannya cuma segitu. Ini kenapa nggak kita usulkan saja ke Bapak Presiden, dipisahkan saja ini ada Kementerian Perlindungan Anak, ada Kementerian Pemberdayaan Perempuan."
"Karena yang dikerjakan oleh KPAI ini, dari setiap kejadian-kejadian mau perempuan atau anak, yang tampil itu juga malah influencer. Sekarang influencer lebih kuat dari kementerian," kata Pasha.
Baca juga: Kasus Perdagangan Bayi ke Singapura Terbongkar, Kemen-PPPA Siap Bantu Cari Keluarga Bayi
Awal Mula Debat: Pasha Anggap Wamen Veronica Tan Tak Paham Fungsi
Debat terjadi ketika Wakil Menteri (Wamen) PPPA Veronica Tan tengah menjelaskan terkait upaya-upaya yang dilakukan kementerian ketika adanya kasus terkait perempuan dan anak.
Baca tanpa iklan