7 Kisah Arief Hidayat Jelang Pensiun Sebagai Hakim MK: Hampir Jadi Caleg PDI Hingga Diprotes Anak
Arief Hidayat akan resmi purnatugas atau pensiun setelah 13 tahun mengabdi sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) pada Selasa (3/2/2026).
Penulis:
Gita Irawan
Editor:
Adi Suhendi
Ringkasan Berita:
- Arief hampir menjadi calon legislatif dari Partai Demokrasi Indonesia pada 1998
- Arief menceritakan andil dari almarhum Taufiq Kiemas dalam perjalanan kariernya
- Saat menjadi Hakim Mahkamah Konstitusi, Arief senantiasa mendapat kritik anak-anaknya
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hakim Konstitusi Arief Hidayat akan resmi purnatugas atau pensiun setelah 13 tahun mengabdi sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) pada Selasa (3/2/2026) pukul 24.00 WIB.
Menjelang pensiun di usia 70 tahun, Arief meluncurkan tujuh buku memoar yang berisi kisah hidupnya sejak kecil, pengalaman sebagai akademisi, hingga ujung perjalanan kariernya di MK.
Peluncuran tujuh buku yang diawali menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza itu digelar di Aula Gedung MK, Jakarta Pusat pada Senin (2/2/2026).
Dalam sambutannya, Arief menceritakan setidaknya tujuh kisah singkat terkait dengan perjalanan kariernya baik sebagai akademisi maupun sebagai hakim MK.
Tujuh kisah itu disampaikannya di hadapan sejumlah hakim konstitusi, mantan hakim konstitusi, Wakil Ketua MPR, anggota Persatuan Alumni GMNI, dan putra Presiden RI pertama Soekarno yakni Guntur Soekarnoputra yang hadir dalam acara tersebut.
Baca juga: Hakim Arief Hidayat Sorot Dugaan Intervensi Menkes Dalam Pendidikan Dokter Spesialis di UU Kesehatan
Berikut ini tujuh kisah tersebut:
1. Hampir Jadi Caleg PDI
Arief bercerita sempat hampir menjadi calon legislatif dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada tahun 1998.
Saat itu, kata dia, sejumlah tokoh di Jawa Tengah mengajaknya untuk mencalinkan diri sebagai anggota DPR melalui PDI.
Namun, ia batal maju karena nasihat dari Guru Besar Bidang Hukum Universitas Diponegoro Prof Dr Satjipto Rahardjo yang juga dekat dengan ibunya.
Prof Satjipto saat itu, kata Arief, berpesan kepadanya jabatan tertinggi seorang dosen adalah Guru Besar.
Baca juga: Rapat Paripurna DPR Setujui Inosentius Samsul Jadi Hakim MK Gantikan Arief Hidayat
"Maka saya pada waktu tahun 1998, sebetulnya sudah diajak oleh teman-teman tokoh-tokoh di Jawa Tengah melalui Partai PDI. Pak Prof. Dimyati Hartono mengajak saya untuk mencalon menjadi anggota DPR pada tahun 1998," ungkap Arief.
"Tapi waktu itu saya izin ke Prof Satjipto, beliau tidak mengizinkan, karena pesan Ibu saya kepada beliau karena kenal dekat, Arief harus jadi seorang Guru Besar," imbuhnya.
2. Foto Bung Karno di Ruang Dosen
Dia juga terkenang pengalamannya saat masih menjadi dosen muda.
Ia bercerita seorang Guru Besar yang tak disebutkan namanya, pernah berkomentar terkait foto Bung Karno yang dipajangnya di ruang dosen.
Dia mengaku Guru Besar tersebut mengajaknya untuk meninggalkan pemikiran-pemikiran Bung Karno karena dianggap tidak akan mungkin bisa mencari nafkah.