Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Psikolog Soroti Tragedi Bocah SD di NTT: Bukan Sekadar Kematian, tapi Isyarat Luka Batin Anak

Psikolog Abdi Keraf menyoroti tragedi bocah SD NTT akhiri hidup karena ekonomi, ia menilai adanya beban emosional yang tak tertampung

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Psikolog Soroti Tragedi Bocah SD di NTT: Bukan Sekadar Kematian, tapi Isyarat Luka Batin Anak
TribunFlores.com
KEMATIAN ANAK NTT - Psikolog sekaligus Dosen Program Studi Psikologi FKM Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Abdi Keraf, S.Psi., M.Si., M.Psi, menyoroti tragedi meninggalnya bocah kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), berinisial YBS (10) yang memilih mengakhiri hidup karena orang tuanya tak mampu membelikan buku dan pena, Jumat (30/1/2026) (Tribun Flores/Gordy) 

Ringkasan Berita:
  • Psikolog Abdi Keraf menyoroti tragedi meninggalnya bocah kelas IV SD di Kabupaten Ngada, NTT, yang memilih mengakhiri hidup karena orang tuanya tak mampu membelikan buku dan pena
  • Menurutnya, peritiwa itu bukan hal yang sepele, sebab ini merupakan persoalan psikologis yang tidak mampu tertangani
  • Bocah tersebut secara psikologis merasakan perasaan sedih, bingung, dan rasa bersalah yang dipendam dalam diam

TRIBUNNEWS.COM - Psikolog sekaligus Dosen Program Studi Psikologi FKM Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Abdi Keraf, S.Psi., M.Si., M.Psi, ikut menyoroti tragedi meninggalnya bocah kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), berinisial YBS (10).

Bocah tersebut memilih mengakhiri hidup karena orang tuanya tak mampu membelikan buku dan pena.

Menurut Abdi, kejadian ini seharusnya menjadi cermin bagi semua pihak baik orang tua, pendidik, lembaga agama, pemerintah, hingga masyarakat luas tentang adanya persoalan psikologis anak yang kerap luput dari perhatian.

Abdi menekankan tragedi ini tidak bisa dipahami semata-mata karena usia korban yang masih sangat belia.

Hal penting yang perlu diperhatikan adalah pesan singkat yang ditinggalkan sang anak, yang secara psikologis menggambarkan perasaan sedih, bingung, dan rasa bersalah yang dipendam dalam diam.

Ia menegaskan peristiwa ini bukanlah kesalahan individu semata, melainkan hasil dari akumulasi tekanan psikologis yang tidak tertangani.

Rekomendasi Untuk Anda

"Tidak juga menggambarkan adanya 'kebencian' mendalam yang terpendam, melainkan suatu ungkapan emosi anak yang merasa tidak mampu menghadapi situasi yang sedang dialaminya."

"Dari sudut pandang psikologi, pesan seperti ini bukanlah tanda keinginan ma*i semata, melainkan isyarat kuat tentang beban emosional yang tidak tertampung. Anak sekecil ini, seakan ingin meminta untuk dimengerti, namun ia tidak menemukan saluran yang aman untuk menyampaikan perasaannya secara langsung," ujar Abdi, Jumat (30/1/2026) dikutip dari Tribun Flores.

Abdi menjelaskan, anak usia SD masih berada pada tahap perkembangan emosi yang belum matang dan belum mampu menamai perasaan seperti tertekan, takut, atau putus asa.

Dalam kondisi tertekan, emosi anak kerap mengendap dalam diam.

"Anak (lalu) cenderung menyalahkan diri sendiri atas konflik yang terjadi, merasa gagal ketika tidak memenuhi harapan orang dewasa, mengalami ketakutan berlebihan terhadap hukuman, rasa malu, atau penolakan."

Baca juga: Profil Melki Laka Lena, Gubernur NTT Malu soal Siswa SD di Ngada Akhiri Hidup: Kita Gagal Urus Warga

"Bahkan dalam kondisi tertentu, anak bisa sampai pada perasaan tidak berharga dan tidak ada jalan keluar, sehingga memahami kematian secara terbatas, tanpa sepenuhnya mengerti konsekuensi permanennya," ujar Abdi.

Bagi orang dewasa, keadaan ini mungkin biasa terjadi, namun tidak bagi anak.

Tekanan psikologis pada anak, lanjut Abdi, sering bersumber dari teguran keras yang berulang, perbandingan dengan anak lain, rasa malu di depan teman, konflik keluarga, perundungan baik verbal maupun nonverbal, hingga tidak adanya ruang aman untuk bercerita.

"Belajar dari pesan yang disampaikan oleh anak di Ngada (NTT), memperlihatkan bahwa beban tersebut dipikul sendirian," ujar Abdi.

Jadi Alarm Keras

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas