Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Bicara Pers, AI & Transformasi Digital, Dahlan Dahi: Ini Soal Informasi Apa yang Akan Kita Wariskan

Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers, Dahlan Dahi bicara soal pers, AI, dan transformasi digital dalam acara Konvensi Nasional Media.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Ringkasan Berita:
  • Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers, Dahlan Dahi bicara soal pers, AI, dan transformasi digital dalam acara Konvensi Nasional Media, di Banten, Minggu (8/2/2026).
  • Dahlan Dahi menilai, saat ini kita tidak hanya mengelola dampak internet saja, tapi juga AI.
  • Untuk itu penting bagi pers untuk tidak hanya sekadar memberikan informasi, tapi juga memikirkan tentang informasi apa yang akan kita siapkan untuk membentuk masyarakat dan bangsa yang akan kita wariskan ke depan.
 

 

TRIBUNNEWS.COM - Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers, Dahlan Dahi membahas tentang perkembangan pers, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan transformasi digital dalam Konvensi Nasional Media Massa dalam rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Banten, Minggu (8/2/2026).

Dalam peringatan HPN 2026 bertema 'Pers, AI, dan Transformasi Digital: Membangun Ekosistem Informasi untuk Kepentingan Publik', Dahlan Dahi menilai saat ini adalah momen untuk semua media dan wartawan melihat kembali ke belakang dan melakukan refleksi.

Pasalnya di era sekarang ini, tak hanya wartawan atau jurnalis saja yang bisa memproduksi berita dan memberikan informasi. Tetapi ada juga entitas lain di luar jurnalis yang bisa memproduksi sebuah informasi.

"Momentum saat ini adalah momentum kita untuk melihat ke belakang, untuk melihat ke depan. Maka metodenya adalah refleksi dan bertanya tentang kita para wartawan berurusan dengan apa."

"Kita berurusan dengan berita, tetapi pada saat yang sama, ada entitas di luar jurnalis yang juga memproduksi informasi. Maka saya mulai dengan informasi, bukan tentang berita," kata Dahlan.

Lebih lanjut Chief Executive Officer (CEO) of Tribun Network itu kemudian membahas soal betapa informasi memiliki kekuatan yang luar biasa.

Rekomendasi Untuk Anda

Karena informasi bisa mempengaruhi apa yang ada dalam pikiran kita. 

Informasi juga tak hanya mempengaruhi imajinasi kita, tapi  bisa mempengaruhi tingkah laku kita, bahkan tindakan kita juga.

"Kita bisa bekerja sama, karena informasi. Bapak dan Ibu bisa duduk di sini karena informasi yang kalian, terbentuk melalui forum ini. Saya dengar teman-teman banyak yang diam, karena ada story di kepala kalian, tentang apa yang sedang kita diskusikan. Itu yang saya sebut dengan Collective Imagination."

"Informasi tidak hanya membentuk imajinasi kita, tapi mempengaruhi behavior, tentang pilihan-pilihan kita. Kita pilih barang apa, atau kita pilih politisi yang mana, kita mendukung atau kita menolak. Dia mempengaruhi action, tindakan kita. Jadi informasi sangat powerfull," terang Dahlan Dahi.

Baca juga: Nezar Patria Sebut Industri Media Sempoyongan Dua Kali Diterpa Badai Disrupsi

Produksi Informasi

ARUS INFORMASI - Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers Dahlan Dahi saat memaparkan materinya dalam Konvensi Nasional Media Massa Hari Pers Nasional 2026, di kawasan Serang, Banten , Minggu (8/2/2026).
ARUS INFORMASI - Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers Dahlan Dahi saat memaparkan materinya dalam Konvensi Nasional Media Massa Hari Pers Nasional 2026, di kawasan Serang, Banten , Minggu (8/2/2026). (Tribunnews.com)

Dahlan Dahi kemudian membahas soal bagaimana informasi ini diproduksi.

Sejauh ini, wartawan memiliki peran untuk mencari, mengolah, melaporkan, dan mendistribusikan informasi.

Namun ketika Google muncul pada tahun 1998, wartawan bukan lagi satu-satunya entitas yang bisa mendistribusikan informasi.

Kemudian pada tahun 2022 muncul ChatGPT atau Generative AI yang jauh berbeda dengan internet.

Karena berbeda dengan Google, internet dan sosial media yang hanya menarik informasi yang ada dalam sistem mereka, AI bisa melakukan hal lebih dengan menciptakan informasi baru.

"Siapa yang memproduksi informasi, kita para wartawan mencari, mengolah, melaporkan, dan mendistribusikan informasi. Ketika tahun 98 Google muncul, kita menyadari bahwa wartawan bukan satu-satunya entitas dalam sistem sosial yang mencari, mengolah, dan mendistribusikan informasi."

"Saya rasa dari tahun 1998 sampai hari ini, itulah yang kita saksikan, satu dunia, di mana informasi tidak hanya diciptakan oleh wartawan. 2022 kita mengenal ChatGPT, atau Generative AI, dan ini berbeda dengan internet."

"Internet, Google, sosial media,  itu menarik informasi yang sudah tersedia di jaringan komputer, tetapi dia tidak menciptakan informasi baru. AI menciptakan informasi baru. Jadi kita ada jurnalis, non-jurnalis, human memproduksi informasi," ungkap Dahlan Dahi.

Baca juga: Dahlan Dahi Ingatkan Dahsyatnya Perubahan Informasi terhadap Imajinasi Kolektif Bangsa

Generative AI dan Agentic AI

Sejak November 2022 lalu, Dahlan Dahi menilai industri media sedang menghadapi satu situasi, dimana ada sebuah mesin yang juga bisa menciptakan informasi.

Bahkan mesin tersebut bisa membuat keputusan, dan terus bertumbuh menjadi semakin pintar.

Jika sebelumnya industri media harus beradaptasi dengan kemunculan Generative AI, kini sudah muncul lagi Agentic AI.

Generative AI (GenAI) berfokus pada pembuatan konten (teks, gambar, kode) berdasarkan prompt pengguna secara reaktif. 

Sebaliknya, Agentic AI (AI Agen) berfokus pada tindakan otonom dan pencapaian tujuan jangka panjang melalui penalaran, perencanaan, dan pemecahan masalah multi-langkah tanpa intervensi manusia terus-menerus. 

"Sejak November 2022 kita menghadapi satu situasi ada mesin yang juga menciptakan informasi. Karena mesin ini bisa membuat keputusan. Dan makin pintar-pintar. Baru saja media beradaptasi dengan Generative AI, baru belajar, baru mau paham. Kini ada satu entitas namanya Agentic AI. Apa yang dimaksud, dia seperti AI, tetapi dia lebih hebat lagi."

"Dia otonom dan memecahkan masalah. Jadi misalnya saya menggunakan Agentic AI, saya bisa setting dia untuk 'saya mau berita tentang A, kalau ada berita tentang B langsung dihapus' bisa terjadi seperti itu, karena dia otonom."

"Kalau kita menghadapi buzzer, itu human buzzer, kalau ada Agentic AI kita akan mendapatkan mesin buzzer. Coba apa yang Agentic AI bisa membantu jurnalis, kita bisa menentukan satu aturan untuk memonitor isu tertentu, tentang tokoh tertentu, pejabat tertentu, by design bisa." 

"Sebelum 1998, kita datang ke pembaca membawa koran satu bandel, 16 atau 24 halaman, dan seluruh informasi dikontrol dalam media surat kabar. Tapi apa yang terjadi setelah 1998, adalah orang mencari piece by piece. Jadi tidak informasi lagi dalam satu bandel. Dan hari ini Agentic AI bisa membantu semua penggunanya untuk membaca berita yang dia suka saja. Jadi semua berita yang tidak dia suka tidak bisa tampil di dalam screen dia," jelas Dahlan Dahi.

Baca juga: Optimisme Ketua Dewan Pers di Tengah Disrupsi Digital dan AI: Publik Tetap Mencari Media Terpercaya

Informasi yang Membentuk Masyarakat dan Bangsa

Dahlan Dahi menilai, saat ini kita hidup dalam dunia yang tidak hanya mengelola dampak internet saja, tapi juga harus berhadapan dengan AI. 

Diperparah lagi dengan disrupsi AI yang jauh lebih besar, daripada disrupsi yang dibawa oleh internet.

"Kita hidup di satu dunia, kita sedang mengelola dampak internet, Google Search masih ada, sosial media masih ada. Tapi sekarang kita sedang berhadapan dengan Generative AI dan kita sekarang juga kita menghadapi Agentic AI. Jadi disruption yang dibawa oleh AI lebih besar lagi daripada disruption yang akan dibawa oleh internet."

"1450 ketika mesin cetak ditemukan, lalu kita butuh 393 tahun sebelum terjadi disruption di industri kita. Tapi Google hanya butuh 20 tahun lebih, kemudian didisrupsi  oleh AI, dan kita belum sembuh, kemudian datang Generative AI, dan Agentic AI," tutur Dahlan Dahi.

Dahlan Dahi beranggapan gelombang transformasi digital ini telah datang begitu cepat dan di saat kita belum siap. Kemudian sudah muncul lagi gelombang lain yang lebih besar.

Untuk itu di era transformasi digital dan AI ini, Dahlan Dahi menilai penting bagi pers untuk tidak hanya sekadar memberikan informasi. 

Namun juga memikirkan tentang informasi apa yang akan kita siapkan untuk membentuk masyarakat dan bangsa yang akan kita wariskan ke depan.

"Yang saya mau katakan adalah, gelombang itu begitu cepat dan kita belum siap, lalu muncul gelombang yang lebih besar daripada itu."

"Jadi ini kesimpulan, kita sedang mendiskusikan pers? Tidak. Yang kita diskusikan adalah tentang informasi yang membentuk masyarakat dan bangsa yang hendak kita wariskan," pungkasnya.

(Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani)

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas