Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Modernisasi Alutsista, Pemerintah Diminta Perkuat Industri Pertahanan dalam Negeri

Lonjakan anggaran pertahanan Rp337 triliun di APBN 2026 jadi ujian konsistensi pemerintah membangun industri dalam negeri.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Modernisasi Alutsista, Pemerintah Diminta Perkuat Industri Pertahanan dalam Negeri
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
PAMERAN ALUTSISTA - Pengunjung berfoto di kendaraan alutsista saat TNI Fair di Monas, Jakarta, Sabtu (20/9/2025). Tiga matra TNI yakni TNI AD, TNI AL, dan TNI AU menggelar pameran alutsista beserta stan edukasi yang berlangsung hingga 21 September dalam rangka menyambut HUT ke-80 TNI. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Ringkasan Berita:
  • Lonjakan anggaran pertahanan dalam APBN 2026 yang mencapai Rp337 triliun, salah satu terbesar dalam sejarah fiskal Indonesia.
  • Pengamat geopolitik Rasminto menilai anggaran ini menjadi ujian konsistensi pemerintah dalam membangun industri pertahanan dalam negeri, bukan sekadar belanja impor alutsista.
  • Meski diarahkan untuk modernisasi alutsista dan penguatan TNI, praktik sebelumnya menunjukkan modernisasi sering dimaknai sebagai pembelian impor.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lonjakan anggaran pertahanan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 kembali menempatkan sektor ini di bawah sorotan. 

Pemerintah mengalokasikan anggaran pertahanan sekitar Rp337 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Lonjakan anggaran pertahanan--salah satu yang terbesar dalam sejarah postur fiskal Indonesia-- ini menempatkan sektor tersebut di bawah sorotan.

Pengamat geopolitik dari Human Studies Institute, Rasminto, menilai APBN 2026 menjadi ujian konsistensi pemerintah dalam membangun industri pertahanan dalam negeri. 

Menurut dia, belanja pertahanan berisiko kembali menjadi instrumen impor berskala besar jika tidak disertai kebijakan penyerapan anggaran yang tegas dan terukur.

“APBN 2026 bisa menjadi momentum penguatan industri pertahanan nasional, atau sebaliknya, sekadar menjadi etalase belanja alutsista luar negeri dengan label modernisasi,” kata Rasminto.

Rekomendasi Untuk Anda

Dalam dokumen kebijakan fiskal, anggaran pertahanan 2026 diarahkan untuk modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista), penguatan organisasi dan personel Tentara Nasional Indonesia (TNI), serta peningkatan kesiapan pertahanan nasional. 

Namun, pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa modernisasi kerap dimaknai sempit sebagai pembelian platform impor, bukan penguatan kapasitas industri nasional.

Secara nominal, anggaran pertahanan 2026 menempati posisi teratas kedua dalam APBN. Meski demikian, proporsinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada di bawah 1 persen. 

Pemerintah menargetkan peningkatan bertahap hingga kisaran 1–1,5 persen PDB dalam jangka menengah. Rasminto menyebut target tersebut tidak akan bermakna tanpa perubahan paradigma belanja.

“Masalahnya bukan sekadar rasio terhadap PDB. Yang lebih krusial adalah struktur belanja. Apakah uang itu memperkuat ekosistem industri nasional, atau justru memperdalam ketergantungan pada pemasok luar negeri,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan secara eksplisit mengamanatkan pemenuhan kebutuhan alutsista melalui produksi dalam negeri, dengan impor sebagai pilihan terakhir. 

Namun dalam praktiknya, celah kebijakan masih terbuka lebar. Skema pengadaan strategis bernilai besar kerap minim keterikatan pada transfer teknologi, offset industri, maupun kewajiban produksi lokal.

Di sisi BUMN, pemerintah membentuk holding industri pertahanan DEFEND ID pada April 2022, yang membawahi PT Len Industri, PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, PT PAL Indonesia, dan PT Dahana. Holding ini dirancang untuk mengonsolidasikan kemampuan produksi dan memperkuat daya saing industri pertahanan nasional.

Sejumlah kontrak modernisasi telah diberikan kepada anggota holding tersebut, seperti modernisasi pesawat C-130 Hercules oleh PT Dirgantara Indonesia dan modernisasi kapal perang TNI AL oleh PT PAL Indonesia dengan nilai sekitar US$1,1 miliar. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas