Indeks Keselamatan Jurnalis 2025 Menurun, 67 Persen Jurnalis Pernah Alami Kekerasan
Kondisi keselamatan pers di Indonesia menunjukkan sinyal waspada. Hasil riset menunjukkan penurunan skor menjadi 59,5%
Editor:
Dodi Esvandi
Ringkasan Berita:
- Skor Indeks Keselamatan Jurnalis (IKJ) 2025 turun menjadi 59,5 persen, yang menandakan iklim kerja pers di Indonesia semakin berisiko.
- Terjadi peningkatan tajam jumlah jurnalis yang mengalami kekerasan, melonjak dari 40 persen di tahun 2024 menjadi 67 persen di tahun 2025.
- Sebanyak 80% jurnalis mengaku melakukan swasensor (menyensor tulisan sendiri), terutama pada isu sensitif seperti Proyek Strategis Nasional (PSN) dan Makan Bergizi Gratis (MBG), demi menghindari konflik dan tekanan struktural.
TRIBUNNEWS.COM. JAKARTA – Kondisi keselamatan pers di Indonesia menunjukkan sinyal waspada.
Hasil riset Indeks Keselamatan Jurnalis (IKJ) 2025 yang dirilis oleh Yayasan Tifa bersama Konsorsium Jurnalisme Aman dan Populix menunjukkan penurunan skor menjadi 59,5%.
Meski masih berada dalam kategori "agak terlindungi", angka ini turun sekitar 1 poin dibandingkan tahun sebelumnya.
Direktur Eksekutif Yayasan Tifa, Oslan Purba, menegaskan bahwa indeks tahun ketiga ini merupakan alarm bagi kebebasan pers.
"Indeks ini penting untuk memastikan jurnalis bekerja dengan aman agar hak masyarakat atas informasi terpenuhi," ujarnya di Erasmus Huis, Jakarta, Senin (9/1/26).
Lonjakan Kekerasan dan Paradoks Kesadaran
Temuan paling mencolok dalam riset ini adalah lonjakan drastis pengalaman kekerasan.
Sebanyak 67% responden mengaku pernah mengalami kekerasan, naik signifikan dari angka 40% pada tahun 2024.
Policy and Society Research Manager Populix, Nazmi Tamara, menjelaskan bahwa meski kekerasan fisik menurun, pola ancaman bergeser menjadi pelarangan liputan dan pembatasan pemberitaan.
Uniknya, di tengah meningkatnya ancaman, pengetahuan jurnalis mengenai mitigasi risiko justru naik 20 poin.
Artinya, jurnalis kini lebih sadar akan bahaya yang mengintai mereka, namun lingkungan kerja tidak kunjung membaik.
Baca juga: Indeks Keselamatan Jurnalis 2024 Meningkat, tapi Mayoritas Jurnalis Ragu Masa Depan Kebebasan Pers
Tren Swasensor: Isu Strategis Jadi "Tabu"
Riset terhadap 655 jurnalis di 38 provinsi ini mengungkap fakta mengkhawatirkan mengenai independensi ruang redaksi:
72% jurnalis pernah mengalami sensor.
80% jurnalis mengaku melakukan swasensor (self-censorship).
Praktik swasensor ini dilakukan mulai dari level reporter hingga pimpinan redaksi untuk menghindari konflik dan melindungi keselamatan pribadi.
Dua isu nasional yang paling sering "dihindari" atau disensor adalah:
- Makan Bergizi Gratis (MBG)
- Proyek Strategis Nasional (PSN)
Baca tanpa iklan