9 Kapal Perang, Drone Kamikaze hingga MLRS TNI AL Dikerahkan ke Babel
Ledakan, drone kamikaze, hingga sembilan kapal perang dikerahkan TNI AL di Babel. Latihan dramatis ini jadi sorotan publik dan bukti kesiapan.
Penulis:
Gita Irawan
Editor:
Acos Abdul Qodir
Ringkasan Berita:
- Ledakan dan tembakan keras warnai latihan TNI AL
- Drone kamikaze buatan Indonesia diuji pertama kali
- Sembilan kapal perang dikerahkan ke perairan Babel
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ledakan hingga rentetan suara tembakan mewarnai latihan terbaru anti-akses dan anti-amfibi TNI Angkatan Laut (AL) di perairan Muara Tengkorak, Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Minggu (15/2/2026).
Api tampak membumbung tinggi di tengah aksi prajurit Jalasena yang menampilkan kemampuan mengoperasikan alutsista dan senjata untuk mempertahankan kedaulatan.
Sebanyak sembilan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) dikerahkan dalam Latihan Anti Akses dan Anti Amfibi.
Kapal perang itu antara lain KRI Brawijaya-320, KRI Raden Eddy Martadinata-331, KRI John Lie-358, KRI Cut Nyak Dien-375, KRI Tjiptadi-381, KRI Halasan-630, KRI Surik-645, KRI Semarang-594, dan KRI Pulau Fani-731.
Selain kapal perang, TNI AL juga mengerahkan Satgas Udara berupa Pesawat Patroli Maritim CN-235 MPA, Pesawat Cassa untuk penerjunan tempur, dua Helikopter Panther, dan Camcopter Puspenerbal.
Latihan juga melibatkan drone kamikaze, pasukan pendarat, Roket Multi Launcher Rocket System (MLRS) Korps Marinir, serta satuan pendukung lain yang terintegrasi dalam skenario operasi.
Dalam video resmi Dinas Penerangan TNI AL, prajurit KRI Brawijaya-320 bersenjata laras panjang dan berpelindung diri terlihat melakukan Visit Board Search and Seizure (VBSS) ke kapal kayu.
Mereka memanjat tangga sambil membawa senjata.
Di sisi lain, KRI Raden Eddy Martadinata-331 melakukan penembakan Meriam 76 MM. Prajurit Korps Marinir menembakkan roket RM-70 Grad (Vampire) ke sasaran laut, senjata yang biasanya digunakan untuk sasaran darat.
Prajurit juga menembakkan General Purpose Machine Gun (GPMG) atau Gimpy dan mortir MO-60 untuk pertahanan pantai. Pasukan pendarat Korps Marinir pun diterjunkan melaksanakan pendaratan amfibi.
Dari kejauhan, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali tampak memantau jalannya latihan menggunakan teropong. Di sampingnya duduk Gubernur Bangka Belitung Hidayat Arsani, menyaksikan langsung jalannya latihan.
Ali menegaskan latihan pertahanan pantai anti akses dan anti amfibi ini baru pertama kali dilatihkan. Salah satu hal baru adalah penggunaan sistem peluncur roket multi-laras (MLRS) 122 mm buatan Cekoslowakia RM-70 Grad (Vampire) untuk sasaran laut.
“Kita latihkan baru pertama kali, dan kita berupaya melibatkan seluruh teknologi yang baru kita terima, seperti drone surveillance, drone kamikaze, hingga mobile command,” kata Ali.
Menurutnya, alutsista yang mampu meluncurkan 40 roket dalam 20 detik dengan jangkauan 20–40 km terbukti efektif untuk sasaran laut.
Baca juga: Media Internasional Soroti Rencana Indonesia Operasikan Kapal Induk: Kekuatan Laut Regional Berubah?
Latihan ini merupakan pengembangan dari latihan anti akses dan anti amfibi yang akan ditugaskan kepada Komandan Kodaeral untuk melaksanakan pertahanan pantai dari kemungkinan serangan lawan.
Baca tanpa iklan