Lewat Pendekatan Humanis, Kementerian HAM Redam Penolakan Penggusuran TPU Menteng Pulo II
Pendekatan humanis yang dilakukan Kementerian HAM dinilai menjadi faktor kunci dalam meredam penolakan penggusuran di TPU Menteng Pulo II.
Penulis:
Chaerul Umam
Editor:
Wahyu Aji
Ringkasan Berita:
- Kehadiran langsung jajaran Kementerian HAM, termasuk KaKanwil Mikael Azedo Harwito, menjadi titik balik komunikasi dengan warga yang sebelumnya alot.
- Awalnya dianggap formalitas, namun sikap empati dan komunikasi tanpa sekat birokrasi membuat warga menilai pemerintah tulus mencari solusi.
- Pendekatan humanis meredam penolakan, hingga 105 kepala keluarga bersedia direlokasi ke Rusunawa Jagakarsa secara kondusif.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pendekatan humanis yang dilakukan Kementerian Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, dinilai menjadi faktor kunci dalam meredam penolakan penggusuran di TPU Menteng Pulo II.
Satu di antara motor penggerak aksi penolakan, Ronal, mengakui kehadiran langsung jajaran kementerian menjadi titik balik komunikasi antara warga dan pemerintah yang sebelumnya berjalan alot.
Menurut Ronal, perwakilan kementerian, termasuk Kepala Kantor Wilayah Kementerian HAM, Mikael Azedo Harwito, turun langsung ke lokasi dan menawarkan solusi konkret kepada warga.
“Pihak Kementerian HAM, Pak Azedo, KaKanwil HAM yang mau turun tangan akhirnya memberikan solusi ke kami,” kata dia dilihat dalam perbincangan di Channel Youtube Torpedo Podcast, Minggu (15/2/2026).
Ia mengungkapkan, pada awalnya warga memandang kedatangan pejabat pemerintah sebatas formalitas.
Ronal bahkan sempat menduga kehadiran tersebut hanya bagian dari rutinitas administratif tanpa kesungguhan untuk mendengar aspirasi masyarakat.
“Saya pikir hanya tugas pemerintah saja, formalitas turun ke lapangan, jepret-jepret, selesai. Saya pikir seperti itu. Ternyata beliau tidak seperti itu,” katanya.
Namun, persepsi itu berubah setelah melihat pendekatan yang dilakukan secara personal dan menyentuh sisi kemanusiaan warga.
Ronal menilai dialog yang dibangun tidak berjarak dan tidak dibatasi sekat birokrasi.
“Beliau langsung ketemu warga itu dari hati, bukan secara birokrasi. Turun ke sini dengan kondisi tempat yang mecek-mecekan, tanah merah, langsung lihat,” tuturnya.
Kehadiran langsung di tengah kondisi lapangan yang tidak mudah disebutnya sebagai bukti keseriusan negara dalam mencari solusi.
Proses komunikasi berlangsung terbuka dan memberi ruang bagi warga untuk menyampaikan pandangan mereka.
“Memang beliau salah satu yang membuat akhirnya warga meredam dan mau diajak kerja sama. Kita sudah dewasa dan bisa melihat mana yang benar-benar tulus membantu,” ungkap Ronal.
Ia menambahkan, setelah hasil komunikasi tersebut disampaikan kepada warga lainnya, respons yang muncul justru positif dan kondusif.
“Akhirnya kita sampaikan ke warga dan warga juga mendengar. Tidak ada penolakan dari warga, kita percayakan ke beliau,” pungkasnya.
Baca tanpa iklan