Polemik LPDP dan Kisah Para Alumni yang Memilih Mengabdi untuk Indonesia
Polemik LPDP mencuat, 44 alumni melanggar kewajiban. Di tengah sorotan, kisah dokter hingga lurah tetap mengabdi untuk Indonesia.
Editor:
Glery Lazuardi
“Saya alumni LPDP. Jelas tugas saya adalah berkontribusi bagi negara lewat kemampuan saya (yang kecil ini),” tulisnya.
Theo memilih bertugas di wilayah pesisir utara Pulau Jawa. Bagi dia, pengabdian bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan tanggung jawab moral karena pendidikannya dibiayai negara.
Ia mengaku sering menerima bentuk terima kasih sederhana dari pasien, mulai dari buah hingga makanan ringan.
“Hal-hal seperti ini yang bikin saya kerasan,” tulisnya.
Devi Ulumit Tyas: Dari Rumah di Atas Got hingga Master ITB
Kisah lain datang dari Devi Ulumit Tyas, perempuan asal Ambulu, Kabupaten Jember. Ia menempuh perjalanan panjang dari kehidupan penuh keterbatasan hingga meraih gelar Master Teknik Kelautan dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Devi sempat gagal masuk ITB pada percobaan pertama. Dengan tekad kuat, ia mengulang persiapan selama setahun sambil bekerja serabutan. Setelah diterima, perjuangan belum usai. Ia pernah tidak makan selama tiga hari demi menghemat pengeluaran.
Memasuki semester dua, ia memperoleh beasiswa penuh. Setelah lulus S1, Devi mengikuti program Indonesia Mengajar dan mengabdi di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Ia kemudian melanjutkan studi S2 melalui LPDP dan lulus dalam satu kali percobaan pada 2019.
Kini, Devi menjadi konsultan di bidang Teknik Kelautan dan pengajar. Ia bercita-cita melanjutkan studi doktoral dan membantu mahasiswa dari latar belakang ekonomi sulit.
“Cara paling mudah untuk mengubah hidup adalah pendidikan. Kalau ada masalah, cari jalan lain. Jangan meratapi, lanjut saja,” ujarnya.
Baca juga: Sosok Arya Iwantoro, Suami Dwi Sasetyaningtyas Penerima Beasiswa LPDP, Anak Eks Petinggi Kementan
Alumni Lain yang Mengabdi
Selain Theo dan Devi, sejumlah alumni LPDP juga menunjukkan dedikasi serupa.
Asriadi Sakka, lulusan Master of Renewable Energy dari Tokyo Institute of Technology, mendirikan Sekolah Alam La Cendekia di Indonesia.
Sekolah tersebut mengusung pendidikan berbasis sains dengan nilai-nilai Islam untuk membentuk generasi peduli lingkungan dan berintegritas.
Sementara itu, Maria Jochu, lulusan Master of Human Resources dari Marshall University, Amerika Serikat, memilih kembali ke Papua dan mengabdi sebagai lurah.
Ia menolak berbagai tawaran pekerjaan di luar negeri demi membangun daerah asalnya yang masih menghadapi tantangan infrastruktur dan layanan publik.
Di tengah polemik yang berkembang, kisah para alumni yang mengabdi menjadi pengingat bahwa di balik sorotan kontroversi, terdapat banyak penerima beasiswa negara yang memilih bekerja dalam diam dan berkontribusi nyata bagi Indonesia.
Baca tanpa iklan