Kesepakatan Dagang AS-RI, Pengamat: Amerika Mitra Penting, tapi Indonesia Tak Punya Banyak Opsi
Indonesia dinilai tidak memiliki banyak opsi saat menghadapi Amerika Serikat (AS) terkait kesepakatan dagang resiprokal AS-RI
Penulis:
Rizkianingtyas Tiarasari
Editor:
Sri Juliati
"Karena mereka memiliki lebih banyak mitra-mitra yang nilai perdagangannya baik secara volume maupun secara nominal dollar itu lebih signifikan dibandingkan dengan Indonesia."
"Dan dengan begitu, kita bisa menduga kuat bahwa karena keterbatasan pilihan ini Indonesia kemudian tidak punya banyak opsi atau tidak punya banyak 'kartu' untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat."
Ketimpangan
Dokumen ART yang terdiri atas 45 halaman ini menuai sorotan lantaran Indonesia dinilai memiliki beban kewajiban lebih besar daripada AS, meskipun memakai istilah 'reciprocal' (timbal balik), sebagaimana dikritisi oleh lembaga think tank independen CORE Indonesia.
Satu di antaranya adalah komitmen komersial dan pembelian besar-besaran dari AS senilai sekitar 33 miliar dollar AS, angka ini melonjak 45 persen dari sebelumnya, yakni hanya 22,7 miliar dollar AS.
Komitmen komersial itu setara dengan sekitar 15 persen dari APBN Indonesia 2026, sangat besar dan berpotensi membebani neraca perdagangan serta anggaran negara.
Sementara itu, istilah 'shall' dalam Agreement on Reciprocal Trade (ART) ini yang menunjukkan kewajiban hukum yang mengikat (mandatory obligation) menjadi sorotan.
Dipantau Tribunnews.com, ada selisih besar dalam jumlah kata 'Indonesia shall' dan 'United States shall', rinciannya: 'Indonesia shall' muncul sebanyak 214 kali dalam teks, sedangkan 'United States shall' hanya muncul 9 kali.
Saat istilah 'shall' untuk satu pihak jauh lebih banyak, itu dapat menandakan beban kewajiban yang tidak seimbang atau asimetri dalam perjanjian.
CELIOS: Ada 7 Poin Bermasalah dalam Kesepakatan Dagang Resiprokal AS-RI
Ekonom sekaligus Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, isi dari Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat (AS) merugikan kepentingan ekonomi nasional.
Celios mencatat ada tujuh poin yang bermasalah dalam perjanjian tersebut.
Pertama, poin yang dinilai bermasalah adalah banjir impor produk pangan, teknologi, dan migas menekan neraca perdagangan dan neraca pembayaran sekaligus.
"Rupiah bisa melemah terhadap dollar AS," ucap dia dalam keterangan tertulis, Sabtu (21/2/2026), dilansir Kompas.com.
Poin kedua yang merugikan Indonesia dalam ART adalah poison pill yang membuat Indonesia dibatasi melakukan kerja sama dengan negara lainnya.
Baca tanpa iklan