Gagasan Pembatasan Minimarket Dinilai Strategis bagi UMKM dan Koperasi
Para produsen lokal dan koperasi maupun UMKM harus mendapatkan perlindungan agar tidak diadu langsung dengan produk perusahaan ritel modern
Penulis:
Reza Deni
Editor:
Muhammad Zulfikar
Ringkasan Berita:
- Perlunya pembatasan ekspansi dua ritel modern Indonesia di desa-desa yang sudah berdiri koperasi, seperti Koperasi Desa Merah Putih
- Para produsen lokal dan koperasi maupun UMKM harus mendapatkan perlindungan agar tidak diadu langsung dengan produk perusahaan ritel modern
- Nasrullah mencemaskan produk-produk lokal desa di koperasi tak akan mampu bersaing dengan produk sejenis yang ditawarkan ritel modern
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) mendukung gagasan Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengenai perlunya pembatasan ekspansi ritel modern Indonesia di desa-desa yang sudah berdiri koperasi, seperti Koperasi Desa Merah Putih.
"Demi keadilan ekonomi dan distribusi ekonomi dan keadilan sebaiknya Indomart dan Alfamart tidak expansi di desa-desa yang sudah berdiri Koperasi," kata Ketua Umum Pimpinan Pusat KB PII, Dr. Nasrullah Larada di Jakarta, Selasa (24/2/2026).
Baca juga: Ketua Banggar Sebut DPR Tak Punya Wewenang Tutup Ritel Modern
KB PII adalah wadah alumni dari organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII). PII berdiri pada 4 Mei 1947 di Yogyakarta, sebagai organisasi kepelajaran dan pengkaderan berbasis Islam. Tujuannya adalah membentuk pelajar Muslim yang berilmu, berakhlak, dan berkontribusi bagi bangsa.
Menurut Nasrullah, para produsen lokal dan koperasi maupun UMKM harus mendapatkan perlindungan agar tidak diadu langsung dengan produk perusahaan ritel modern yang punya jaringan lebih luas.
Baca juga: Menteri Ferry Sebut Impor 105 Ribu Kendaraan untuk Kopdes Bukan Wewenang Kementerian Koperasi
Kalau tidak ada perlindungan, Nasrullah mencemaskan produk-produk lokal desa di koperasi tak akan mampu bersaing dengan produk sejenis yang ditawarkan ritel modern.
Karena itu, lanjut Ketua Umum KB PII itu, gagasan Menkop Ferry Juliantono agar ada pembatasan expansi ritel modern di desa-desa yang sudah ada koperasi dan usaha ritel lokal harus didukung.
"Koperasi itu untungnya kembali ke warga/anggota di desa sehingga memakmurkan warga. Sementara ritel modern untungnya mengalir ke pemodal besar di kota," ujar Nasrullah.
Ia mengingatkan sebelum ada Koperasi Desa Merah Putih pun sudah banyak berdiri koperasi di desa-desa. Namun umumnya koperasi ini sulit berkembang terutama sejak masuknya ritel modern seperti Indomaret dan Alfamarta.
Kehadiran perusahaan ritel modern di desa-desa itu, lanjut Nasrullah, tidak hanya mematikan koperasi. Tapi juga telah mematikan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di desa-desa karena produknya sulit bersaing dengan produk-produk yang ditawarkan industri ritel modern.
"Jadi ritel modern ini tidak hanya mematikan daya saing koperasi, tapi juga mematikan UMKM di desa-desa," jelas Nasrullah.
Nasrullah juga menyambut baik gagasan untuk Menteri Koperasi agar melibatkan generasi muda Milenial dan Gen Z dalam pengembangan koperasi karena mereka akan mendominasi 50 persen penduduk Indonesia.
"Sekitar 144 juta generasi Milenial dan Gen Z akan mendominasi populasi Indonesia," ujarnya.
Usaha yang digagas kalangan milenial dan Gen Z banyak yang menonjolkan unsur kreatifitas, inovasi dan kemandirian. "Usaha tersebut sangat layak diwadahi oleh koperasi berbasis komunitas," tambah Nasrullah.
Sebelumnya Menkop Ferry Juliantono dalam perbincangan daring, Jumat (20/2) meminta ritel modern untuk menghentikan penambahan gerai baru di wilayah pedesaan.
Baca juga: Pemerintah Diminta Kaji Ulang Rencana Impor 105 Ribu Unit Mobil untuk Koperasi Merah Putih
Baca tanpa iklan