Don Muzakir: Program MBG Dorong Petani Berani Tingkatkan Produksi
Don Muzakir Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia menyebut, program MBG memberi dampak nyata bagi sektor pertanian nasional.
Ringkasan Berita:
- Program Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai membuka pasar pasti bagi petani.
- Ketua Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir, menyebut petani tak lagi bergantung pada fluktuasi pasar karena hasil panen terserap konsisten.
- Di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, petani seperti Gili Jenadi merasakan lonjakan permintaan hortikultura hingga panen habis diborong, sehingga berani memperluas tanam dan menambah komoditas.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai memberi dampak nyata bagi sektor pertanian nasional.
Tak hanya menjamin asupan gizi anak-anak, program ini juga membuka pasar yang pasti bagi hasil panen petani di berbagai daerah.
Ketua Umum Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir, mengatakan MBG menjawab persoalan klasik petani yang selama ini bergantung pada fluktuasi pasar.
“Program MBG sangat baik karena mampu menyerap banyak hasil panen petani. Petani tidak lagi bingung mencari pasar. Hasil tanam mereka jelas dibutuhkan dan terserap,” ujar Don Muzakir kepada wartawan, Rabu (25/2/2026).
Menurut Don, kepastian penyerapan hasil panen membuat pendapatan petani lebih stabil. Ketika produksi terserap secara konsisten, roda ekonomi desa ikut bergerak dari hulu hingga hilir.
“Ketika hasil panen terserap dengan baik, pendapatan petani meningkat. Roda ekonomi desa ikut bergerak. Produksi, distribusi, sampai konsumsi menjadi lebih hidup,” katanya.
Ia menilai MBG sebagai langkah strategis karena mampu menghubungkan kebutuhan gizi anak sekolah dengan kekuatan produksi pertanian dalam negeri.
Don Muzakir berharap program MBG dijalankan secara berkelanjutan. Konsistensi dinilai menjadi kunci agar petani berani meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas jenis tanaman.
“Program ini harus terus diperkuat. Keberlanjutan sangat penting agar petani tetap semangat menanam dan anak-anak tetap mendapatkan asupan gizi,” ucapnya.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi lintas kementerian agar pasokan pangan untuk MBG berjalan lancar.
“Kementerian Pertanian sudah mendorong peningkatan produksi. Kementerian lain juga harus memastikan distribusi dan pelaksanaan di lapangan berjalan baik,” ujarnya.
Meski memberi dampak positif, Don menegaskan evaluasi tetap diperlukan, terutama terkait pendataan, pengawasan, dan distribusi bahan pangan.
“Kalau masih ada kekurangan, harus segera diperbaiki. Pengawasan dan distribusi harus tepat sasaran agar manfaatnya benar-benar dirasakan petani,” kata dia.
Dampak MBG juga dirasakan petani di daerah. Di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, permintaan hortikultura meningkat tajam seiring kebutuhan dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).