Setahun Berjalan, Program Makan Bergizi Gratis Ubah Pola Makan Siswa
Hasil kajian RISED, menunjukkan adanya perubahan signifikan pada rutinitas konsumsi nutrisi harian siswa penerima manfaat.
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Erik S
Ringkasan Berita:
- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti efektif mengubah pola makan anak Indonesia menjadi lebih sehat dan tidak pilih-pilih makanan menurut survei RISED
- Selain meningkatkan kualitas nutrisi, evaluasi LabSosio UI menunjukkan bahwa 66,4 persen siswa menjadi lebih bersemangat dan fokus belajar di kelas
- Program ini pun mendapat dukungan luas dari orang tua karena memberikan rasa aman terhadap pemenuhan gizi anak.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Satu tahun berjalan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti memberikan dampak positif bagi kebiasaan makan anak-anak di Indonesia.
Hasil kajian terbaru dari Research Institute of Socio Economic Development (RISED) menunjukkan adanya perubahan signifikan pada rutinitas konsumsi nutrisi harian siswa penerima manfaat.
Berdasarkan survei RISED terhadap 1.800 responden, sekitar 80% orang tua menyatakan anak-anak mereka kini lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi.
Temuan ini mematahkan narasi negatif di media sosial yang sempat meragukan kualitas nutrisi program tersebut.
Direktur RISED, M. Fajar Rachmadi, menjelaskan bahwa program ini memberikan efek mikro-harian yang nyata.
"Sebanyak 55% orang tua setuju bahwa anak-anak mereka kini tidak lagi pilih-pilih makanan (picky eater) setelah mengikuti program MBG," ujar Fajar dalam keterangannya, Jumat (27/2/2026).
Selain perubahan perilaku anak, program ini memberikan rasa tenang bagi keluarga.
Data menunjukkan bahwa 81% orang tua dari keluarga prasejahtera mendukung penuh keberlanjutan program ini karena merasa kebutuhan gizi anak mereka di sekolah telah terjamin.
Intervensi Medis dan Sosial
Senada dengan temuan tersebut, spesialis penyakit dalam dr. Andi Khomeini Takdir, Sp.PD-KPsi, menilai paparan harian terhadap menu yang beragam sangat efektif membentuk selera makan sehat.
"Banyak masyarakat kita yang tidak mampu mencukupi gizi. Namun, masalah ini juga terjadi di kelas ekonomi menengah ke atas yang seringkali mengonsumsi makanan tidak sehat. MBG adalah intervensi yang sangat bagus untuk semua kalangan," jelas Andi.
Baca juga: Seskab Bantah Dana Pendidikan Tersedot MBG: 16 Ribu Sekolah Rusak Direnovasi
Evaluasi dari Laboratorium Sosiologi Universitas Indonesia (LabSosio UI) mencatat dampak signifikan pada proses belajar mengajar yakni 66,4% murid mengaku lebih bersemangat mengikuti pelajaran; peningkatan energi, konsentrasi, dan motivasi belajar secara keseluruhan.
Dampak nyata ini juga dirasakan oleh pihak sekolah. Sientje Martentji Ajomi, Kepala SD Negeri 24 Rufei Kota Sorong, memberikan kesaksian bahwa kehadiran MBG membuat suasana kelas menjadi lebih hidup.
"Anak-anak kini lebih aktif bertanya, lebih ceria, dan lebih fokus mengikuti materi sepanjang hari," ungkapnya.