Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

"Kami Punya Uang!": Momen Panas Mahasiswa Tolak Takjil Polwan Berkerudung di Mabes Polri

"Kami punya uang!" Tolak takjil Polwan, mahasiswa tuntut keadilan maut Arianto. Ketegangan memuncak di Mabes Polri, simak fakta panasnya!

Tayang:
Diperbarui:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Reynas Abdila
zoom-in
Tribunnews.com/Reynas Abdila
DEMO MAHASISWA DI MABES POLRI — Massa mahasiswa menolak pemberian takjil dari sejumlah Polwan berkerudung putih saat berunjuk rasa di depan Gedung Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (27/2/2026). Sambil meneriakkan "Kami punya uang!", para pengunjuk rasa menegaskan sikap tersebut sebagai bentuk protes keras atas tewasnya pelajar asal Tual, Arianto Tawakkal. 

Ringkasan Berita:
  • Tolak takjil Polwan, mahasiswa teriak lantang "Kami punya uang!"
  • Di balik penolakan takjil, ada tuntutan maut Arianto Tawakkal.
  • Akankah reformasi Polri terwujud usai aksi panas di Mabes?

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Suasana unjuk rasa di depan Gedung Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, memanas saat waktu berbuka puasa tiba pada Jumat (27/2/2026).

Di tengah tensi tinggi menuntut keadilan bagi almarhum Arianto Tawakkal (14), massa mahasiswa secara terbuka menolak pemberian hidangan berbuka atau takjil dari pihak kepolisian sebagai bentuk ketegasan sikap.

Sebagai bagian dari upaya pengamanan di bulan suci Ramadan, Polri mengerahkan sejumlah personel dengan atribut religi.

Polisi laki-laki tampak mengenakan kopiah dan sorban putih, sementara para Polwan menggunakan kerudung putih.

Namun, pendekatan persuasif ini justru berbenturan dengan prinsip perlawanan mahasiswa yang sedang menuntut reformasi institusi.

Pantauan visual di lokasi menunjukkan sejumlah Polwan awalnya membagikan takjil kepada warga di sekitar Jalan Trunojoyo.

Rekomendasi Untuk Anda

Namun, suasana berubah seketika saat para Polwan menyodorkan bungkusan kresek putih kepada barisan massa aksi.

Secara serentak, mahasiswa menolak pemberian tersebut dengan pernyataan yang menohok.

"Enggak perlu, kami punya uang!" sorak para demonstran dengan nada tinggi.

Menghadapi penolakan telak tersebut, para Polwan tetap bersikap tenang.

Tampak seorang perwira polisi merespons dengan mengacungkan kedua jempolnya sebagai bentuk penghormatan atas sikap mahasiswa.

Ketegangan yang sempat menyelimuti area selama beberapa menit itu pun kembali cair sebelum akhirnya massa bergerak meninggalkan lokasi pada pukul 18.20 WIB.

Keadilan untuk Arianto: Lima Tuntutan Utama

Aksi yang dimotori oleh perwakilan BEM Universitas Indonesia (UI), BEM Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), dan BEM UPN Veteran Jakarta ini dipicu oleh tewasnya pelajar Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Tual, Maluku, Arianto Tawakkal (14) di tangan oknum Brimob Polda Maluku, Bripda Masias Siahaya.

Hafidz Hernanda dari BEM UI menegaskan bahwa aksi mereka bukan sekadar seremoni, melainkan membawa lima tuntutan konkret:

  • Hukuman pidana seberat-beratnya bagi pelaku pembunuhan Arianto dan aparat represif.
  • Pencopotan Kapolri Jenderal Listyo Sigit dan Kapolda Maluku Irjen Dadang Hartanto.
  • Pembebasan seluruh tahanan politik yang dikriminalisasi.
  • Penegakan batasan kewenangan dan penarikan Polri dari jabatan sipil.
  • Reformasi Polri secara struktural, kultural, dan instrumental melalui Komisi Percepatan Reformasi Polri.

"Kami sangat kecewa karena tidak dapat menyampaikan aspirasi langsung kepada Kapolri," ungkap salah satu orator yang juga berjanji akan membawa massa lebih besar jika tuntutan tidak terpenuhi.

Baca juga: Demo di Mabes Polri, Mahasiswa: Aksi di Bulan Suci di Tempat Tak Suci

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas