Surat Terbuka untuk Prabowo, Pemuda Dayak Soroti Ketimpangan Pembangunan dan Kerusakan Lingkungan
Pemuda Dayak kirim surat terbuka ke Presiden Prabowo, soroti ketimpangan pembangunan dan konflik SDA di Kalimantan.
Penulis:
Facundo Chrysnha Pradipha
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
Ringkasan Berita:
- Pemuda Dayak mengirim surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto menyoroti ketimpangan pembangunan dan kerusakan lingkungan di Kalimantan.
- Surat yang diunggah melalui Instagram itu memuat kritik soal konflik lahan, eksploitasi sumber daya alam, dan terbatasnya akses pendidikan serta kesehatan.
- Pemuda Dayak berharap pemerintah membuka ruang dialog langsung untuk mencari solusi pembangunan yang lebih adil.
TRIBUNNEWS.COM – Sekelompok pemuda Dayak menyampaikan surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto untuk menyoroti berbagai persoalan yang mereka nilai masih membelit masyarakat Kalimantan, mulai dari ketimpangan pembangunan, konflik sumber daya alam, hingga kerusakan lingkungan.
Surat terbuka tersebut dipublikasikan melalui media sosial Instagram @pemuda_dayak_kalbar belum lama ini oleh komunitas mengatasnamakan Pemuda Dayak Kalbar dan berisi seruan agar pemerintah pusat memberikan perhatian lebih serius terhadap kondisi masyarakat lokal di wilayah yang kaya sumber daya alam tersebut.
Ketua Umum Pemuda Dayak, Srilinus Lino, mengatakan surat terbuka itu merupakan hasil perumusan bersama sejumlah pemuda Dayak yang berangkat dari kegelisahan atas berbagai persoalan yang dialami masyarakat di daerah.
Menurut dia, penyusunan surat terbuka tersebut melibatkan sejumlah anggota organisasi Pemuda Dayak serta pemuda lain yang tidak terafiliasi secara formal, namun memiliki kapasitas pemikiran dan kontribusi dalam merumuskan isi surat.
“Dalam proses perumusannya kami melibatkan anggota organisasi, baik pengurus inti maupun anggota lainnya. Selain itu beberapa pemuda Dayak yang tidak tergabung secara formal dalam organisasi tetapi memiliki kapasitas pemikiran yang baik juga turut memberikan kontribusi,” ujarnya kepada Tribunnews.com melalui pesan langsung, Senin (9/3/2026).
Lino menjelaskan gagasan penyusunan surat terbuka sebenarnya telah muncul sejak lama, seiring meningkatnya eksploitasi sumber daya alam di Kalimantan yang dinilai belum memberikan dampak kesejahteraan yang seimbang bagi masyarakat setempat.
Ia menyoroti ekspansi perkebunan kelapa sawit serta aktivitas pertambangan yang dinilai memicu konflik dengan masyarakat lokal dan berdampak pada lingkungan.
“Gagasan ini berangkat dari berbagai persoalan yang terjadi di Kalimantan, terutama sejak wilayah ini menjadi kawasan pengembangan perkebunan kelapa sawit secara besar-besaran serta eksploitasi sumber daya alam yang lebih banyak menguntungkan kepentingan tertentu,” kata Lino.
Selain faktor ekonomi dan lingkungan, kegelisahan pemuda Dayak juga dipicu oleh persoalan simbolik yang berkaitan dengan identitas budaya. Salah satunya terkait hilangnya falsafah Dayak yang sebelumnya tertulis di gerbang kawasan Ibu Kota Nusantara.
“Bagi masyarakat Dayak, kalimat ‘Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata’ bukan sekadar tulisan, tetapi falsafah hidup yang sangat penting. Hilangnya simbol tersebut menimbulkan perasaan bahwa keberadaan masyarakat Dayak sebagai bagian sah dari bangsa ini perlahan tidak lagi mendapat pengakuan yang semestinya,” terangnya.
Soroti ketimpangan pembangunan
Baca juga: Sosok Panglima Jilah, Temui Jokowi di Solo, Tagih Janji Bangun Dayak Center
Dalam surat terbuka tersebut, pemuda Dayak menyoroti berbagai persoalan struktural yang menurut mereka masih dihadapi masyarakat di Kalimantan.
Mulai dari kerusakan hutan, pencemaran sungai, konflik lahan dengan industri, hingga keterbatasan infrastruktur dan layanan dasar.
Mereka menilai sumber daya alam dari Kalimantan terus diambil untuk kepentingan nasional, namun masyarakat setempat belum merasakan dampak kesejahteraan yang sepadan.
Surat itu juga menyebut kondisi infrastruktur yang masih tertinggal, seperti jalan rusak, terbatasnya fasilitas kesehatan, serta ketimpangan akses pendidikan di sejumlah wilayah pedalaman.
“Pesan utama kami adalah agar Presiden dapat melihat secara langsung kondisi dan jeritan masyarakat di Kalimantan,” kata Lino.
Baca tanpa iklan