Arahan Prabowo, Menkop Ungkap 3 Indikator Keberhasilan Koperasi Desa Merah Putih
Tiga indikator Kopdes Merah Putih: harga murah, kredit bunga 6 persen, dan serap hasil desa. Strategi ini ditujukan lawan rentenir dan pinjol
Penulis:
Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Menkop Ferry Juliantono menetapkan tiga indikator keberhasilan Kopdes Merah Putih: menyediakan kebutuhan pokok lebih murah, memberi pembiayaan berbunga rendah sekitar 6 persen, dan menyerap hasil produksi desa.
- Skema ini ditujukan melindungi warga dari rentenir dan pinjol
- Selain itu, koperasi berperan sebagai offtaker agar hasil petani tidak jatuh ke tengkulak dengan harga rendah
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono membeberkan tiga indikator utama yang menjadi tolok ukur keberhasilan program strategis Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.
Salah satu poin krusial yang ditekankan adalah peran koperasi dalam memberantas praktik rentenir dan pinjaman online (pinjol) melalui penyaluran pembiayaan dengan bunga rendah sebesar 6 persen per tahun.
Ferry menegaskan bahwa indikator pertama adalah kemampuan Kopdes Merah Putih dalam menyediakan barang kebutuhan pokok dengan harga yang lebih murah bagi masyarakat desa.
Dengan begitu, hal ini akan mengurangi beban hidup masyarakat di desa.
"Bagi kami di Kementerian Koperasi, indikator keberhasilan Koperasi Desa Merah Putih yang pertama adalah bisa menjual barang dengan harga yang lebih murah," kata Ferry Juliantono dalam acara Halalbihalal di Kantor Kementerian Koperasi, Kuningan, Jakarta, Senin (30/3/2026).
Baca juga: Deputi Kemenkop Ingatkan Pentingnya Tata Kelola Akuntabel di Koperasi
Indikator kedua, lanjut Ferry, berkaitan dengan fungsi lembaga keuangan mikro yang berada di bawah naungan Kopdes.
Koperasi diharapkan mampu memberikan skema permodalan dengan bunga yang relatif rendah dibandingkan suku bunga pasar, yakni di kisaran 6 persen per tahun sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Sehingga masyarakat dapat program kredit modal kerja untuk kegiatan produktif bagi warga desa dan anggota Kopdes.
"Bisa membantu pembiayaan dari kegiatan lembaga keuangan mikro yang ada di Koperasi Desa Merah Putih itu dengan tingkat suku bunga yang relatif rendah dibandingkan suku bunga yang berlaku," jelasnya.
Ferry menyebut, kehadiran bunga rendah ini merupakan strategi pemerintah untuk melindungi warga desa dari jeratan utang yang mencekik.
Apalagi, Presiden kerap memperhatikan rakyat Desa yang justru terjerat hutang untuk keperluan usaha dan kebutuhan hidup.
“Itu adalah untuk menjadikan alternatif bagi masyarakat supaya masyarakat tidak terjebak kepada praktik rentenir, pinjaman online, dan lain sebagainya," tegas Ferry.
Sementara indikator ketiga adalah peran Kopdes sebagai offtaker atau penyerap hasil produk masyarakat desa. Supaya, tata niaga hasil dari petani tidak jatuh kepada tengkulak dengan harga rendah.
Apalagi, gudang-gudang yang disiapkan disetiap Kopdes Merah Putih harus difungsikan untuk menampung hasil panen petani dan masyarakat.
Ferry menyatakan pihaknya tengah melakukan Rapat Pimpinan (Rapim) untuk mematangkan skema serap hasil produksi ini.