Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Mengenang 45 Tahun Pembajakan Pesawat Garuda DC-9 Woyla: 4 Hari Terasa di Neraka

Eksklusif! Kesaksian pramugari & co-pilot Garuda Woyla soal 4 hari mencekam di bawah ancaman bom. Simak kisah heroik pembebasannya di sini!

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Mengenang 45 Tahun Pembajakan Pesawat Garuda DC-9 Woyla: 4 Hari Terasa di Neraka
Tribunnews.com/Abdi Ryanda Shakti
TRAGEDI PESAWAT WOYLA - Mantan pramugari Garuda Woyla, Deliyanti (66), menceritakan kembali peristiwa pembajakan pesawat bernomor penerbangan 206 oleh lima teroris pada 45 tahun silam di Depok, Jawa Barat, Rabu (1/4/2026). Empat hari mencekam di bawah ancaman bom tersebut berakhir setelah penyerbuan heroik Kopassus di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand, yang menyelamatkan para sandera. 

Situasi mereda setelah Jenderal Benny Moerdani naik ke pesawat. Dalam operasi kilat selama 3 menit itu, kelima pembajak tewas.

Penumpang selamat, namun Kapten Herman Rante gugur setelah sempat dirawat akibat luka tembak di kaki.

Trauma yang Tak Pernah Pergi

TRAGEDI PESAWAT WOYLA - Mantan co-pilot Garuda Woyla, Heddy Juwantoro, menceritakan kembali momen mencekam pembajakan pesawat bernomor penerbangan 206 oleh lima teroris di Depok, Jawa Barat, Rabu (1/4/2026). Peristiwa 45 tahun silam tersebut berakhir melalui penyerbuan kilat Kopassus di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand, yang berhasil menyelamatkan para penumpang dan awak pesawat.
TRAGEDI PESAWAT WOYLA - Mantan co-pilot Garuda Woyla, Heddy Juwantoro, menceritakan kembali momen mencekam pembajakan pesawat bernomor penerbangan 206 oleh lima teroris di Depok, Jawa Barat, Rabu (1/4/2026). Peristiwa 45 tahun silam tersebut berakhir melalui penyerbuan kilat Kopassus di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand, yang berhasil menyelamatkan para penumpang dan awak pesawat. (Tribunnews.com/Abdi Ryanda Shakti)

Meski selamat, luka psikis menetap selamanya.

Deliyanti mengaku rasa takut dan suara tembakan masih sering menghantuinya saat bertugas.

Namun, ia tetap profesional dan lanjut menjadi pramugari hingga 11 tahun pasca-insiden. 

"Saya akan ingat peristiwa itu seumur hidup saya, tapi saya akan tetap terbang," tegasnya.

Sementara itu, Heddy Juwantoro juga tidak meninggalkan profesinya dan sempat menempuh pendidikan di Boeing Seattle, AS.

Rekomendasi Untuk Anda

Namun, ia tak bisa menghindari trauma. Suara saklar lampu atau kunci yang diputar sering membuatnya kaget karena terdengar seperti senjata yang dikokang.

"Cuma kalau saya mendengar pistol dikokang, itu kadang-kadang saya kaget. Pokoknya ada suara krak-krak gitu meskipun cuma kunci yang dibuka, kaget saya," pungkas Heddy.

Empat hari mencekam di dalam pesawat Woyla memang berakhir dalam hitungan menit lewat penyerbuan kilat, namun bekasnya menetap seumur hidup—sebuah pengingat abadi tentang betapa mahalnya harga sebuah keselamatan di cakrawala.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 3/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas