Mengenang 45 Tahun Pembajakan Pesawat Garuda DC-9 Woyla: 4 Hari Terasa di Neraka
Eksklusif! Kesaksian pramugari & co-pilot Garuda Woyla soal 4 hari mencekam di bawah ancaman bom. Simak kisah heroik pembebasannya di sini!
Penulis:
Abdi Ryanda Shakti
Editor:
Acos Abdul Qodir
Ringkasan Berita:
- Mantan pramugari Deliyanti kenang detik-detik mencekam pembajakan pesawat Garuda Woyla oleh kelompok teroris.
- Sandera alami teror psikis selama empat hari di dalam kabin sebelum penyerbuan kilat Kopassus.
- Kisah trauma mendalam para awak pesawat yang bertahan di tengah todongan senjata dan bom.
TRIBUNNEWS.COM, DEPOK – Masih jelas terbayang di benak Deliyanti (66), mantan pramugari pesawat Garuda DC-9 "Woyla" dengan nomor penerbangan 206, momen saat pesawatnya dibajak oleh lima orang teroris 45 tahun silam.
Setiap menit peristiwa mencekam yang terjadi pada 28-31 Maret 1981 itu masih melekat kuat dalam ingatannya.
Bagi para penumpang dan awak pesawat, waktu empat hari di bawah todongan senjata kelompok yang mengaku dari Komando Jihad itu terasa seperti berada di neraka.
Mengira Sedang Syuting
Wartawan Tribunnews.com, Abdi Ryanda Shakti, berkesempatan mendengar langsung penuturan Deliyanti mengenai peristiwa yang dipimpin oleh Imran bin Muhammad Zein tersebut.
Deliyanti, yang mengenakan gamis putih dengan kerudung hijau, bercerita bahwa pesawat rute Jakarta-Medan itu lepas landas dari lapangan terbang Kemayoran pada 28 Maret 1981.
Sambil menatap ke atas mencoba mengingat detail, Deliyanti menyebut pesawat berisi 48 penumpang dan 5 awak itu sempat transit di Bandara Talang Betutu, Palembang, sebelum kembali mengudara ke Medan pada Sabtu pagi.
Di sanalah, para teroris naik secara diam-diam dengan menyamar sebagai penumpang.
"Setelah (lampu) seat belt-nya off, mereka langsung menyerang kokpit. Langsung kami kaget, 'Apa ini? Apakah mau buat film?' gitu kan, kaget," kenang Deliyanti saat ditemui di Sanggar Suluk Nusantara, Depok, Jawa Barat, Rabu (1/4/2026).
Tangan Deliyanti terus bergerak memeragakan suasana kabin kala itu. Sejumlah pembajak memerintahkan pramugari ke kabin belakang, sementara yang lain menguasai kokpit.
Awalnya, pembajak memaksa pesawat menuju Kolombo, Sri Lanka.
Namun, karena kondisi bahan bakar tidak mencukupi, Kapten Herman Rante dan Co-pilot Heddy Juwantoro bernegosiasi agar bisa mengisi bahan bakar di Penang, Malaysia.
Saat transit di Malaysia, pembajak melepaskan satu sandera, Hulda Panjaitan, karena terus-menerus menangis. Setelah itu, pesawat lepas landas menuju Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand.
"Saya bilang sama pemimpin pembajaknya, Mahrizal, 'Tidak bisa ke luar negeri karena kapten tidak punya license luar negeri'. Dijawab, 'Ah, kapten kamu kan pintar, dia bisa baca peta'," ungkapnya.
Baca juga: Kisah Pemudik 63 Tahun Bawa THR Rp 50 Juta ke Kampung: Nyetir Jakarta-Sumatra, Tidak Tidur 2 Hari
Peluru dari Kotak Odol hingga Ancaman Bom
Suasana makin mencekam saat negosiasi berlangsung. Deliyanti melihat salah satu pembajak membuka kotak odol yang ternyata berisi tumpukan peluru.
"Saya kira mereka mau gosok gigi, eh tahunya pas dikeluarkan, peluru semuanya," ucapnya.
Baca tanpa iklan