BMKG Catat 11 Kali Gempa Susulan usai Gempa M7,6 di Bitung-Ternate
BMKG mencatat ada 11 kali gempa susulan yang terjadi setelah gempa berkekuatan M7,6 mengguncang Ternate, Maluku Utara dan Bitung, Sulawesi Utara.
Penulis:
Sri Juliati
Editor:
Suci BangunDS
Ringkasan Berita:
- BMKG mencatat ada 11 kali gempa susulan yang terjadi setelah gempa berkekuatan M7,6 mengguncang Ternate, Maluku Utara dan Bitung, Sulawesi Utara, Kamis (2/4/2026).
- Sebelumnya, gempa yang terjadi pada pukul 05.48.14 WIB dan mengguncang wilayah Pantai Barat Daya Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara merupakan gempa tektonik.
- Gempa dirasakan di sejumlah wilayah di Maluku Utara dan Sulawesi Utara dengan intensitas yang berbeda-beda.
TRIBUNNEWS.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, sebanyak 11 kali gempa susulan (aftershock) terjadi setelah gempa berkekuatan M7,6 mengguncang Ternate, Maluku Utara dan Bitung, Sulawesi Utara, Kamis (2/4/2026).
Berdasarkan monitoring BMKG hingga pukul 06.50 WIB, gempa susulan itu berkekuatan paling besar M5,5.
"Hingga pukul 06.50 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 11 aktivitas gempabumi susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar M5.5," kata Plt Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono dalam keterangan resminya.
Salah satu gempa susulan terjadi pada pukul 06.07.23 WIB yang berlokasi di laut pada jarak 108 km barat laut Ternate dengan kedalaman 10 Km.
Rahmat menjelaskan, gempa yang terjadi pada pukul 05.48.14 WIB dan mengguncang wilayah Pantai Barat Daya Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara merupakan gempa tektonik.
Gempa tektonik adalah getaran bumi yang disebabkan oleh pelepasan energi mendadak akibat pergeseran, patahan, atau tumbukan lempeng tektonik di lapisan kerak bumi.
Hasil analisis BMKG menunjukkan, episenter gempabumi terletak pada koordinat 1,25° LU ; 126,27° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 129 Km arah Tenggara Bitung, Sulawesi Utara pada kedalaman 33 km.
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat adanya aktivitas deformasi kerak bumi."
"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan, gempa memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault)," lanjut Rahmat.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, gempa tersebut dirasakan di sejumlah wilayah di Maluku Utara dan Sulawesi Utara dengan intensitas yang berbeda-beda.
Di Ternate, gempa dirasakan dengan intensitas V-VI MMI yaitu getaran dirasakan oleh semua penduduk. Kebanyakan semua terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh dan cerobong asap pada pabrik rusak, kerusakan ringan).
Baca juga: Gempa Guncang Sulut, BMKG Deteksi Potensi Tsunami hingga 3 Meter
Sementara di Manado, gempa dirasakan dengan intensitas IV-V MMI. Artinya getaran dirasakan hampir semua penduduk, orang banyak terbangun.
Di Gorontalo, Bone Bolango, dan Gorontalo Utara dengan intensitas III MMI. Yaitu getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu.
Terakhir di Kabupaten Boalemo dan Pohuwato, gempa dirasakan dengan intensitas II-III MMI. Getaran gempa dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang.
Hasil pemodelan menunjukkan, gempa ini berpotensi tsunami dengan status SIAGA di: