Eks Anggota UNIFIL: Penugasan di Lebanon Sangat Berisiko Tinggi
Terkait gugurnya tiga prajurit TNI yang bertugas di Lebanon, Muhtar menyampaikan bela sungkawa dan duka mendalam.
Editor:
Hasanudin Aco
Ringkasan Berita:
- Tiga anggota TNI yang bertugas sebagai penjaga perdamaian meninggal dunia dalam misi di Lebanon.
- Jenazah ketiga anggota TNI itu telah tiba di tanah air pada Sabtu (4/4/2026) malam.
- Eks Anggota UNIFIL menceritakan pengalamannya selama bertugas di Lebanon sebagai pasukan penjaga perdamaian.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tiga anggota TNI yang bertugas sebagai anggota United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meninggal dunia dalam misi perdamaian dunia di Lebanon.
Jenazah ketiga anggota TNI itu telah tiba di tanah air pada Sabtu (4/4/2026) malam.
Lalu bagaimana sebenarnya kondisi di media tempur, mengapa pasukan perdamaian PBB masalah sering diserang di Lebanon?
Eks Anggota UNIFIL 2010-2011, Serma (Purn) Muhtar Efendi, menceritakan pengalamannya selama bertugas di Lebanon sebagai pasukan penjaga perdamaian.
Ia menyebut Israel merupakan pihak yang sering tidak mematuhi Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701 tanggal 11 Agustus 2006 dan menyulut perang dengan Lebanon.
Menurut informasi dari laman PBB, Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701 bertujuan mengakhiri permusuhan antara Hizbullah dan Israel.
Dewan Keamanan menyerukan gencatan senjata permanen yang didasarkan pada pembentukan zona penyangga.
Muhtar menceritakan drone-drone dari Israel selalu masuk ke wilayah Lebanon yang digunakan untuk memantau warga Lebanon.
Pasukan PBB juga tak lepas dari pantauan pasukan Israel.
"Sudah barang tentu drone ini diterbangkan oleh Israel. Selain untuk memantau kegiatan daripada masyarakat Lebanon, juga memplotting dan memapping posisi-posisi atau titik-titik koordinat daripada pasukan-pasukan PBB yang sedang bertugas di Lebanon," ungkap Serma (Purn) Muhtar Efendi dikutip dari Kompas.TV, Senin (6/4/2026).
Terkait gugurnya tiga prajurit TNI yang bertugas di Lebanon, Muhtar menyampaikan bela sungkawa dan duka mendalam.
Muhtar mengatakan tugas pasukan penjaga perdamaian di Lebanon memang memiliki risiko tinggi.
"Penugasan di Lebanon itu memang sangat mengandung risiko yang tinggi walau katakanlah kita sudah dibekali dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) atau rules of engagement (aturan keterlibatan) yang jelas dan nyata," tuturnya.
Ia mengatakan risiko itu tidak bisa dihindari karena pasukan UNIFIL berada di tengah-tengah dua wilayah yang sedang berkonflik yaitu Israel dengan Lebanon.
Muhtar juga menjelaskan dalam menjalankan misinya, pasukan penjaga perdamaian tidak boleh memihak kepada salah satu blok, baik ke Israel maupun Lebanon.
Baca tanpa iklan