Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Pengamat Kritik Usulan KPK: Aneh Jika Capres Wajib Kader Partai Tapi Pilkada Boleh Non-kader

Jamiluddin Ritonga, mengkritik usulan KPK yang mendorong agar Capres-Cawapres wajib berasal dari kader partai politik.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Igman Ibrahim
Editor: Adi Suhendi
zoom-in Pengamat Kritik Usulan KPK: Aneh Jika Capres Wajib Kader Partai Tapi Pilkada Boleh Non-kader
Tribunnews.com/istimewa
SOL CAPRES - Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M Jamiluddin Ritonga. Ia mengkritik usulan KPK yang mendorong agar Capres-Cawapres wajib berasal dari kader partai politik. 

Ringkasan Berita:
  • Usulan KPK dinilai diskriminatif karena menutup ruang bagi warga negara potensial di luar struktur partai
  • Kualitas kepemimpinan tidak melulu ditentukan jenjang kaderisasi di dalam partai, melainkan dari proses rekrutmen awal partai itu sendiri
  • Pemerintah dan DPR RI diharapkan mempertimbangkan matang-matang aspek keadilan ini dalam penyusunan draf perubahan UU Pemilu mendatang agar tidak terjadi ketimpangan hak politik

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, mengkritik usulan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang mendorong agar calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) wajib berasal dari kader partai politik.

Jamiluddin menyoroti ketidakkonsistenan logika hukum jika usulan tersebut diterapkan dalam UU Pemilu.

Ia menilai aturan tersebut diskriminatif karena menutup ruang bagi warga negara potensial di luar struktur partai.

"Karena itu, kiranya aneh bila capres dan cawapres dari kader partai, namun kandidat Pilkada dibolehkan dari non kader partai," kata Jamiluddin saat dikonfirmasi, Sabtu (25/4/2026).

Menurutnya, usulan tersebut sangat kontradiktif dengan aturan pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang justru membuka pintu bagi calon dari jalur independen atau non-kader.

Ia mengingatkan bahwa hak untuk memimpin adalah hak setiap anak bangsa.

Baca juga: KPK Usul Capres Harus Kader Partai, Golkar: Kalau Ada yang Terbaik dari Luar, Beri Kesempatan

Rekomendasi Untuk Anda

"Lagi pula, membatasi capres dan cawapres hanya dari kader partai, tentu menutup peluang bagi anak bangsa yang potensial untuk memimpin Indonesia. Apalagi banyak anak bangsa yang potensial tidak mau masuk partai politik," jelasnya.

Jamiluddin juga memaparkan bahwa kualitas kepemimpinan tidak melulu ditentukan jenjang kaderisasi di dalam partai, melainkan dari proses rekrutmen awal partai itu sendiri.

"Kalau hasil rekrutmen kurang baik, maka sebaik apapun pendidikan politik yang dilakulan partai politik tidak akan menghasilkan kader yang mumpuni," ucapnya.

Baca juga: KPK Usul Capres-Cawapres Wajib Kader Partai, Pengamat Ingatkan Risiko Pembatasan Demokrasi

Ia membandingkan kondisi di Indonesia dengan Amerika Serikat (AS), di mana secara konstitusi tidak ada kewajiban bagi kandidat untuk menjadi kader partai tertentu.

Meskipun pada praktiknya didominasi dua partai besar, ruang bagi individu tetap terbuka.

"Di Amerika Serikat (AS) juga tidak mengharuskan capres dan cawapres dari kader partai. Konstitusi AS hanya mensyaratkan capres dan cawapres sebagai warga negara kelahiran asli, berusia minimal 35 tahun, dan tinggal di AS selama 14 tahun," ungkapnya.

Lebih lanjut, Jamiluddin menekankan bahwa pembatasan calon hanya dari kalangan kader partai bisa mencederai prinsip keadilan yang dijamin oleh dasar negara.

"Bila yang di luar partai politik ditutup peluangnya untuk menjadi capres dan cawapres, hal itu tentu tak sejalan dengan semangat konstitusi dan Pancasila yang mengedepankan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia," tuturnya.

Jamiluddin berharap pemerintah dan DPR RI mempertimbangkan matang-matang aspek keadilan ini dalam penyusunan draf perubahan UU Pemilu mendatang agar tidak terjadi ketimpangan hak politik.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas