Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

DPR Minta Kemendiktisaintek Tak Gegabah Tutup Prodi, Industri Terus Bergerak

Komisi X DPR mengingatkan Kemendikti agar tidak gegabah menutup program studi. Industri terus bergerak, kebutuhan masa depan sulit diprediksi.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Reza Deni
zoom-in DPR Minta Kemendiktisaintek Tak Gegabah Tutup Prodi, Industri Terus Bergerak
Istimewa
PENGHAPUSAN PROGRAM STUDI - Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani saat mengikuti rapat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Terkini, ia meminta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tidak gegabah menutup program studi yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan industri. 

Ringkasan Berita:
  • DPR meminta penutupan prodi dilakukan lewat kajian mendalam.
  • Industri dinilai berubah cepat dan sulit diprediksi.
  • Prodi tertentu bisa relevan di pasar global.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Komisi X DPR RI dari Fraksi PKB, Lalu Hadrian Irfani, meminta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tidak gegabah menutup program studi (prodi) yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan industri.

Menurutnya, kebijakan strategis di sektor pendidikan tinggi harus disusun melalui kajian mendalam dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari akademisi, pelaku industri, hingga masyarakat.

"Harus ada kajian mendalam, dan prosesnya perlu melibatkan banyak pihak, termasuk akademisi, pelaku industri, serta masyarakat," ujar Lalu Ari kepada wartawan, Senin (27/4/2026).

Pernyataan itu disampaikan merespons wacana Kemendikti yang akan mengevaluasi, bahkan menutup, sejumlah program studi di perguruan tinggi.

Industri Sulit Diprediksi

Lalu Ari menilai pemerintah tidak bisa semata-mata mengukur relevansi prodi berdasarkan kebutuhan industri saat ini.

Ia mengingatkan, perkembangan industri bergerak sangat cepat dan kerap berubah dalam waktu singkat.

Rekomendasi Untuk Anda

"Pertumbuhan industri sangat dinamis. Pemerintah sendiri belum tentu bisa memprediksi industri apa yang akan muncul ke depan," katanya.

Karena itu, keputusan menutup prodi dinilai harus mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang, bukan sekadar tren pasar sesaat.

Prodi Bisa Relevan di Pasar Global

Politikus PKB itu juga menyoroti kemungkinan suatu program studi belum terserap optimal di dalam negeri, tetapi justru dibutuhkan di pasar internasional.

Menurut dia, persoalannya bukan selalu pada kualitas atau relevansi prodi, melainkan kesiapan ekosistem industri nasional.

"Bisa saja suatu prodi masih relevan dengan industri di luar negeri, tetapi industrinya belum berkembang di Indonesia. Dalam kondisi seperti itu, bukan prodinya yang tidak relevan, melainkan kita yang belum mampu menciptakan ekosistem industrinya," kata Lalu Ari.

Ia menegaskan, pemerintah tidak hanya bertugas menyesuaikan pendidikan dengan kebutuhan industri, tetapi juga mendorong lahirnya sektor-sektor industri baru.

"Perlu kajian yang benar-benar mendalam agar kebijakan yang diambil tidak justru merugikan masa depan pendidikan dan kebutuhan jangka panjang bangsa," pungkasnya.

Baca juga: Kemendikdasmen Buka Program Pendidikan Jarak Jauh, Sasar 3.500 Anak Putus Sekolah

Kemendikti Siapkan Evaluasi Prodi

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kemendikti, Badri Munir Sukoco, menyatakan pemerintah tengah menyiapkan evaluasi terhadap sejumlah program studi.

Langkah itu bertujuan meningkatkan relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan pasar kerja dan industri strategis nasional.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas