Teddy dan Gibran Berpotensi Bersaing Jadi Cawapres Prabowo di Pilpres 2029
Teddy dan Gibran dinilai memiliki modal kedekatan dengan pusat kekuasaan dan eksposur publik yang tinggi.
Penulis:
Igman Ibrahim
Editor:
Hasanudin Aco
Ringkasan Berita:
- Analis politik Hendri Satrio memperkirakan Pilpres 2029 akan menghasilkan banyak tokoh baru dan persaingan yang lebih dinamis.
- Nama-nama yang dinilai potensial antara lain Gibran Rakabuming Raka, Teddy Indra Wijaya, Agus Harimurti Yudhoyono, Puan Maharani hingga Dedi Mulyadi.
- Hensa menilai seluruh peta politik itu bisa berubah jika Prabowo Subianto memutuskan kembali maju sebagai petahana pada Pilpres 2029.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Analis Komunikasi Politik Hendri Satrio memprediksi kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 akan sangat dinamis dan diramaikan oleh munculnya banyak wajah baru, terutama dari kalangan tokoh muda yang sedang membangun basis elektoral.
Tak hanya itu, bayang-bayang penantang dari luar orbit kekuasaan utama juga mulai terlihat, mengintip peluang di celah-celah peta politik yang terbuka.
"Pilpres 2029 itu akan sangat berbeda. Selain kemungkinan besar Prabowo akan kembali maju sebagai petahana, kita akan melihat banyak tokoh yang sebelumnya hanya berada di orbit kekuasaan kini berani tampil ke depan. Di sisi lain, ada juga bayang-bayang penantang yang sedang mengintip dan mencari celah kesempatan," ujar Hensa kepada wartawan, Kamis (7/5/2026).
Dua nama yang disebut Hensa paling potensial mengisi posisi RI-2 adalah Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Keduanya dinilai memiliki modal kedekatan dengan pusat kekuasaan dan eksposur publik yang tinggi.
"Teddy dan Gibran menurut saya yang paling potensial saat ini. Gibran jelas sebagai Wapres incumbent, Teddy sering mendampingi Prabowo sehingga elektabilitasnya terus terasah. Tapi keduanya masih butuh mesin politik yang kuat karena belum terafiliasi partai mana pun," katanya.
Basis dukungan dipertanyakan
Meski begitu, Hensa menilai keduanya perlu mesin politik yang lebih kuat mengingat keduanya tak terafiliasi partai mana pun. Basis dukungan partai dinilai krusial agar langkah keduanya bisa lebih jauh di kontestasi politik.
"Keduanya meski kuat, tinggal masalah cari partai saja yang mana yang mau mendukung mereka. Di Indonesia perlu dukungan partai untuk maju di Pilpres," ujar Hensa.
Selain Gibran dan Teddy
Selain dua nama tersebut, Hensa juga menyoroti Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai figur yang tidak bisa dilepaskan dari kalkulasi politik 2029.
AHY memiliki mesin partai yang solid dan nama besar dari Susilo Bambang Yudhyono (SBY), namun tantangannya adalah membuktikan elektabilitasnya mampu melampaui batas loyalis partai untuk meraih pemilih yang lebih luas.
"AHY ini oke, tapi menurut saya posisinya paling realistis adalah sebagai calon wakil presiden yang dipasangkan dengan tokoh berpengaruh, baik secara independen maupun dari partai besar lain," ujarnya.
Nama Puan Maharani, Ketua DPR RI sekaligus putri Megawati Soekarnoputri, juga masuk dalam radar Hensa.
Puan membawa legitimasi politik yang besar beserta mesin PDI Perjuangan yang sudah teruji.
Tantangannya, kata Hensa, bersifat personal, yaitu ia perlu meningkatkan penerimaan publik yang selama ini masih terbatas di luar kantong-kantong pemilih PDI Perjuangan.
"Saya memang menyarankan jika PDI-P ingin solid ya Ibu Megawati yang maju. Namun jika Ibu Megawati tidak berkenan, maka buat saya Puan menjadi salah satu kandidat yang bisa didorong untuk maju di Pilpres 2029, karena pengalamannya panjang termasuk dua periode menjadi Ketua DPR," kata Hensa.
Baca tanpa iklan