Jembatani Korut-Korsel, Megawati Diminta Perankan Lagi Diplomasi Soekarno
Utusan khusus Korsel sowan ke Menteng. Megawati diminta jembatani perdamaian dengan Korut lewat warisan diplomasi Bung Karno. Simak!
Penulis:
Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor:
Acos Abdul Qodir
Ringkasan Berita:
- Penasihat Presiden Korea Selatan Prof Kim Soo Il menemui Megawati Soekarnoputri untuk membahas reunifikasi Semenanjung Korea.
- Pihak Korsel berharap Megawati kembali menjadi utusan khusus perdamaian dunia mengingat kedekatan historisnya dengan kedua negara.
- Dialog berlangsung hangat dalam bahasa Indonesia dan ditutup dengan candaan santai mengenai usia.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menerima kunjungan khusus Penasihat Presiden Korea Selatan, Prof Kim Soo Il, di kediamannya, Menteng, Jakarta, Jumat (8/5/2026). Pertemuan ini membahas langkah strategis terkait upaya reunifikasi (penyatuan kembali) Semenanjung Korea.
Megawati, yang didampingi Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto dan Prof Rokhmin Dahuri, kembali diminta untuk mengambil peran sebagai utusan khusus (special envoy) dalam menjembatani ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan.
"Dalam pertemuan, disinggung kembali harapan agar Ibu Megawati menjalankan peran strategis guna mendorong perdamaian di Semenanjung Korea," ujar Hasto Kristiyanto di lokasi.
Baca juga: Dunia Tak Menentu, Prabowo Desak ASEAN Rombak Total Sistem Energi
Warisan Diplomasi Bung Karno
Harapan Korea Selatan ini bukan tanpa alasan.
Peran Megawati dipandang tak terlepas dari sejarah panjang persahabatan Bung Karno dengan pemimpin pertama Korea Utara, Kim Il Sung.
Simbol kedekatan itu bahkan abadi melalui bunga "Kimilsungia", anggrek ungu pemberian Soekarno yang hingga kini menjadi bunga nasional Korea Utara.
Kedekatan historis ini terus dirawat Megawati melalui berbagai kunjungan diplomatik ke Pyongyang maupun Seoul, hingga penganugerahan gelar profesor kehormatan dari Seoul Institute of the Arts pada 2022 lalu.
"Apa yang dilakukan Ibu Megawati merupakan aktualisasi dari pemikiran Bung Karno yang sejak awal mendorong perdamaian guna menghindari perpecahan satu bangsa," tambah Hasto.
Candaan Santai di Akhir Dialog
Pertemuan berlangsung cair lantaran Prof Kim Soo Il sangat fasih berbahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan ia pernah menjabat sebagai Konsul Kehormatan RI di Busan selama 14 tahun.
Menariknya, dialog yang membahas isu geopolitik berat itu ditutup dengan suasana santai saat Megawati berseloroh menanyakan usia sang profesor.
"Sekarang berapa umur Prof Kim?" tanya Megawati sambil tersenyum.
"Saya 73 tahun," jawab Prof Kim lugas.
"Masih lebih muda. Saya 79," sahut Megawati yang disambut tawa hangat, menutup pertemuan diplomatik tersebut dengan penuh keakraban.
Baca tanpa iklan