Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

MPR Minta Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Diulang: Jurinya Arogan, Mereka Harus Belajar dari Peserta

MPR RI melihat adanya arogansi dari juri LCC tersebut. Padahal, seharusnya dewan juri bisa memberikan contoh yang baik.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Rifqah
Editor: Suci BangunDS
zoom-in MPR Minta Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Diulang: Jurinya Arogan, Mereka Harus Belajar dari Peserta
tangkapan layar
LOMBA CERDAS CERMAT - Video Final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat menjadi sorotan publik setelah beredar di media sosial. MPR RI melihat adanya arogansi dari juri LCC tersebut. Padahal, seharusnya dewan juri bisa memberikan contoh yang baik. 

Ringkasan Berita:
  • Lalu mengatakan MPR dan DPR sangat menyayangkannya. Padahal, tujuan diadakannya acara itu untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan mensosialisasikan empat pilar yang merupakan pondasi dalam berbangsa dan bernegara. 
  • Oleh karena itu, Lalu meminta agar lomba cerdas cermat tersebut diulang dan harus dijadikan sebagai ajang untuk menanamkan kecintaan terhadap tanah air.
  • Lalu juga melihat adanya arogansi dari juri LCC tersebut. Padahal, seharusnya dewan juri bisa memberikan contoh yang baik.

 

TRIBUNNEWS.COM - Anggota MPR RI Fraksi PKB, Lalu Hadrian Irfani, meminta agar Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), diulang.

LCC tersebut, sebelumnya menjadi kontroversi setelah video perdebatan peserta dan dewan juri ramai di media sosial, yakni saat Grup C dari SMAN 1 Pontianak memprotes keputusan juri yang menganggap jawaban mereka salah dalam sesi rebutan pertanyaan saat perlombaan berlangsung.

Kala itu, jawaban dari peserta Grup C soal mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dianggap salah sehingga nilainya dikurangi lima poin. 

Sedangkan saat Grup B dari SMAN 1 Sambas menjawab dengan jawaban yang sama persis, mereka dinyatakan benar dan mendapatkan tambahan 10 poin.

Meski Grup C telah melayangkan proses terhadap hal ini, dewan juri tidak mendengarkannya dan menjelaskan bahwa keputusan mutlak berada di tangan mereka. Begitu pun dengan pembawa acaranya yang menegaskan keputusan tetap berada di tangan dewan juri.

Rekomendasi Untuk Anda

Lomba pun tetap dilanjutkan dan SMAN 1 Sambas keluar sebagai juara pertama untuk mewakili Kalimantan Barat ke tingkat nasional.

Melihat kejadian ini, Lalu pun mengatakan MPR dan DPR sangat menyayangkannya. Padahal, tujuan diadakannya acara itu untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan mensosialisasikan empat pilar yang menjadi pondasi dalam berbangsa dan bernegara. 

"Apa yang kita lihat bersama bahwa dalam video tersebut juri tidak mendengarkan protes ataupun ketidakpuasan dari salah satu peserta, kemudian tidak ditanggapi, itu mencerminkan tidak demokratisnya acara tersebut," ungkapnya, dikutip dari YouTube Kompas TV, Rabu (13/5/2026).

Oleh karena itu, Lalu meminta agar lomba cerdas cermat tersebut diulang dan harus dijadikan sebagai ajang untuk menanamkan kecintaan terhadap tanah air, menanamkan nilai-nilai paham-paham kebangsaan, baik Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI.

"Perlu kiranya panitia yang terlibat di dalam acara tersebut untuk dilakukan evaluasi dan sebisa mungkin acara-acara semacam ini bisa dilaksanakan secara terbuka, secara transparan, dan menjunjung tinggi asas keadilan," tegasnya,

Selain itu, Lalu melihat adanya arogansi dari juri LCC tersebut. Padahal, seharusnya dewan juri bisa memberikan contoh yang baik.

Baca juga: Dua Juri dan MC Lomba Cerdas Cermat MPR Kalbar Digugat ke PN Jakpus, Ini Isi Gugatannya

"Di situ kita lihat arogansi dari juri tersebut. Seharusnya acara ini adalah penanaman nilai-nilai kebangsaan, maka jalannya acara itu juga harus mencerminkan nilai-nilai yang ada di dalam paham kebangsaan, seharusnya juri ini juga harus memberi contoh," ujarnya.

"Tentu kami mendorong untuk dilakukan evaluasi terhadap seluruh tahapan pelaksanaan dari kegiatan ini. Kami mengapresiasi yang disampaikan oleh siswi yang memprotes tadi, itu bentuk keberanian, itu bentuk demokratisasi," tambah Lalu.

Dalam hal ini, menurut Lalu, justru dewan juri yang harus belajar dari peserta tentang demokrasi yang harus dijunjung tinggi.

Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas