Jelang Muktamar, PBNU Diminta Rangkul Semua Kader Potensial
Nahdlatul Ulama didorong menjaga persatuan jelang Muktamar ke-35, dengan pesan agar kepengurusan PBNU merangkul seluruh potensi kader.
“Kokoh memegang prinsip seperti Gus Dur, namun lentur dalam bersikap. Terbuka dalam pemikiran, namun tidak melompati pagar pembatas akidah,” lanjutnya.
Selain itu, NU juga dinilai harus aktif memberi fatwa dan panduan atas problem sosial, kebangsaan, hingga ekonomi umat.
Gus Salam menyebut KH Afifuddin mencontohkan pemikiran Sahal Mahfudz melalui konsep fikih sosial yang selama ini menjadi rujukan warga NU.
“Banyak kiai NU yang dengan literasi fiqhiyyahnya bisa memberi pedoman kepada umat tentang kemaslahatan di bidang ekonomi, pertanian, pendidikan, lingkungan, kebudayaan, bahkan politik,” ujarnya.
Menurut Gus Salam, pesan paling penting yang ia tangkap dari para masyayikh adalah NU harus tetap mandiri dan tidak mudah didikte pihak mana pun.
“Mandiri bukan berarti menjauh dari pemerintah, tapi menjadi mitra kritis yang mendukung bila maslahat dan meluruskan bila ada mudarat,” pungkasnya.
Muktamar ke-35 NU
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) dijadwalkan berlangsung pada Juli atau Agustus 2026, setelah sebelumnya PBNU menetapkan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) digelar pada April 2026.
"Terkait agenda organisasi, rapat menetapkan Munas dan Konbes NU 2026 akan digelar pada bulan Syawal 1447 H atau April 2026, sementara Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada Juli atau Agustus 2026," kata Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.
Agenda ini menjadi forum tertinggi dalam organisasi NU untuk menentukan arah kebijakan, kepemimpinan, serta konsolidasi jam’iyyah di tengah dinamika sosial, politik, dan keagamaan nasional.
Muktamar NU merupakan momentum penting karena di forum inilah dilakukan evaluasi terhadap program kerja PBNU, pembahasan isu-isu strategis umat, serta pemilihan kepemimpinan baru, khususnya posisi Rais Aam dan Ketua Umum Tanfidziyah.
Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, keputusan yang dihasilkan dalam Muktamar biasanya memiliki dampak luas, tidak hanya bagi warga nahdliyin, tetapi juga bagi arah kebijakan keagamaan dan sosial di tingkat nasional.
Selain aspek kepemimpinan, Muktamar ke-35 NU juga akan menjadi ajang pembahasan isu-isu aktual yang dihadapi umat Islam dan bangsa Indonesia.
Tema-tema seperti moderasi beragama, peran NU dalam menjaga persatuan nasional, serta respons terhadap tantangan global seperti disrupsi teknologi dan geopolitik diperkirakan akan menjadi bagian dari agenda pembahasan.
Baca juga: Jelang Muktamar ke-35 NU, Gus Salam Disebut Punya Visi dan Roadmap yang Jelas
Dengan basis kultural yang kuat melalui jaringan pesantren dan organisasi masyarakat, NU diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam menjawab tantangan zaman.