Khutbah Jumat, 15 Mei 2026: Idul Adha dan Reset Hati dari Cinta Dunia
Berikut teks Khutbah Jumat 15 Mei 2026 yang mengangkat tema tentang “Idul Adha dan Reset Hati dari Cinta Dunia”.
Penulis:
Lanny Latifah
Editor:
Salma Fenty
TRIBUNNEWS.COM - Khutbah Jumat 15 Mei 2026 mengangkat tema “Idul Adha dan Reset Hati dari Cinta Dunia”.
Khutbah Jumat merupakan ceramah agama yang disampaikan khatib sebelum pelaksanaan salat Jumat, berisi pesan keagamaan serta pengingat bagi umat Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Tema khutbah kali ini mengajak umat Islam menjadikan Idul Adha sebagai momentum memperkuat keimanan dan mengurangi kecintaan berlebihan terhadap urusan duniawi.
Melalui kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, jemaah diajak memahami makna keikhlasan, pengorbanan, dan ketaatan kepada Allah SWT.
Selain itu, ibadah kurban juga menjadi pengingat pentingnya berbagi, peduli terhadap sesama, serta menata kembali hati agar lebih sederhana dan bertakwa dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Melansir laman simbi.kemenag.go.id, berikut teks khutbah Jumat, 15 Mei 2026:
Baca juga: Teks Khutbah Jumat Besok, 15 Mei 2026: Keutamaan Berkurban bagi Orang yang Beriman
Idul Adha dan Reset Hati dari Cinta Dunia
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَضْحَى مَوْسِمًا لِتَجْدِيْدِ الْإِيْمَانِ، وَجَعَلَ الْقُرْبَانَ دَرْسًا فِي الصِّدْقِ وَالْإِخْلَاصِ، وَتَحْرِيْرِ الْقَلْبِ مِنْ أَسْرِ الدُّنْيَا. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِيْ لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى زَادُ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَطَرِيْقُ النَّجَاةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.
Ma’asyiral muslimin, jemaah Iduladha yang dimuliakan Allah,
Hari ini kita bertakbir. Tetapi takbir tidak boleh berhenti di lisan. Takbir harus turun ke hati. Ketika kita berkata Allah Mahabesar, kita sedang ditanya: benarkah Allah yang paling besar dalam hidup kita? Atau yang lebih besar justru dunia: uang, jabatan, gengsi, pujian, popularitas, kenyamanan, dan keinginan untuk selalu terlihat berhasil?
Iduladha datang bukan hanya membawa hewan kurban ke tempat penyembelihan. Iduladha membawa hati kita ke ruang pemeriksaan. Ada yang harus ditanya. Ada yang harus dibongkar. Ada yang harus di-reset. Seperti ponsel atau laptop yang terlalu penuh: memorinya sesak, kerjanya lambat, perintah sederhana pun terasa berat. Kadang hati manusia juga begitu. Terlalu penuh oleh ambisi, gengsi, iri, takut kalah, takut miskin, takut tidak dipuji, takut tidak dianggap berhasil.
Akhirnya hati menjadi berat untuk taat, berat untuk ikhlas, berat untuk melepas, berat untuk tenang. Maka Iduladha datang sebagai reset hati: membersihkan ruang batin dari cinta dunia yang berlebihan, agar Allah kembali menjadi yang paling besar dalam hidup kita.
Maka pada pagi Iduladha ini, mari kita ajukan tiga pertanyaan kepada diri sendiri. Pertanyaan pertama: “apa yang paling menyibukkan hidup kita?”
Jemaah sekalian,
Banyak manusia hari ini tampak sibuk, tetapi belum tentu terarah. Bangun pagi mengejar target. Siang mengejar uang. Malam mengejar pengakuan. Hari demi hari dihabiskan untuk menaikkan angka: angka saldo, angka aset, angka pengikut, angka pencapaian, angka jabatan, angka pujian. Kita mengejar dunia seperti orang kehausan meminum air laut. Makin diminum, makin haus.
Media sosial membuat hidup orang lain terlihat selalu lebih indah. Rumah orang lain lebih bagus. Kendaraan orang lain lebih baru. Karier orang lain lebih cepat. Liburan orang lain lebih jauh. Lalu hati kita gelisah. Bukan karena kita tidak punya nikmat, tetapi karena kita terus membandingkan nikmat kita dengan nikmat orang lain. Padahal Allah Swt telah memperingatkan:
اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُ.
“Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu” (Q.S. At-Takatsur [102]: 1).