150 Mahasiswa FISSG Universitas Budi Luhur Ikut Program 'Istana untuk Anak Sekolah'
Sebanyak 150 mahasiswa mengikuti program “Istana untuk Anak Sekolah” di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.
Penulis:
Taufik Ismail
Editor:
Wahyu Aji
Ringkasan Berita:
- Sebanyak 150 mahasiswa mengikuti program “Istana untuk Anak Sekolah” di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.
- Mahasiswa mendapat kesempatan melihat langsung Istana Merdeka, Kantor Presiden, dan Istana Negara sebagai pusat pengambilan kebijakan penting nasional.
- Program ini menjadi ruang belajar terbuka bagi mahasiswa untuk memahami sejarah, birokrasi, dan dinamika ketatanegaraan secara langsung.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Sebanyak 150 mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Studi Global (FISSG) Universitas Budi Luhur mengunjungi di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Mereka mengikuti program bertajuk "Istana untuk Anak Sekolah".
Melalui program tersebut Istana bertransformasi menjadi ruang kelas terbuka yang masif, di mana para peserta tidak hanya sekadar mendengarkan pemaparan teoretis, melainkan melainkan melihat langsung heritage sejarah dan dinamika birokrasi yang selama ini hanya dapat mereka akses melalui layar kaca, buku teks kuliah, ataupun beranda media sosial.
Langkah strategis ini diinisiasi langsung oleh Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti guna membekali generasi muda dengan pemahaman empiris mengenai tata kelola negara serta memicu semangat kepemimpinan yang cerdas dan berbudi luhur menjelang Indonesia Emas 2045.
Suasana antusiasme yang tinggi menyelimuti rombongan mahasiswa saat melangkahkan kaki memasuki kawasan pusat kekuasaan eksekutif tersebut.
Program bertajuk "Istana untuk Anak Sekolah" ini bertransformasi menjadi ruang kelas terbuka yang masif, di mana para peserta tidak hanya sekadar mendengarkan pemaparan teoretis, melainkan menyaksikan langsung heritase sejarah dan dinamika birokrasi yang selama ini hanya dapat mereka akses melalui layar kaca, buku teks kuliah, ataupun beranda media sosial.
Dipandu oleh tim protokoler Istana, para mahasiswa diajak berkeliling menyusuri sudut-sudut arsitektur yang sarat akan nilai historis, mulai dari Istana Merdeka, Kantor Presiden, hingga Istana Negara.
Di sinilah tempat di mana keputusan-keputusan geopolitik dan domestik krusial yang menentukan arah bangsa diambil oleh para kepala negara dari masa ke masa.
Bagi para mahasiswa lintas program studi, termasuk Kriminologi, melihat langsung episentrum kebijakan publik ini memberikan perspektif baru yang mendalam mengenai realitas ketatanegaraan.
"Saya merasa senang sekali bisa berada di Istana Merdeka ini, karena selama ini hanya melihat di TV dan sekarang bisa menyaksikan secara langsung kantor Presiden. Terima kasih Pak Presiden," ujar Ebil, mahasiswa Program Studi Kriminologi Universitas Budi Luhur.
Kunjungan edukatif berskala besar ini bukan sekadar agenda wisata kasual di kala senggang akademis.
Di balik pergerakan ratusan mahasiswa ini, terdapat visi besar yang diarsiteki oleh Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti (YPBLC).
Yayasan yang menaungi Universitas Budi Luhur ini secara konsisten terus mengintegrasikan kurikulum berbasis nilai-nilai keluhuran budi dengan pengayaan wawasan global yang aplikatif di lapangan.
Ketua Badan Pengurus Harian (BPH) YPBLC, Julian Bongsoikrama, B.A., M.Sc. secara terpisah memberikan penegasan mendalam terkait esensi dari keterlibatan universitas dalam agenda kenegaraan ini.
Ia menyampaikan bahwa untuk melahirkan pemimpin masa depan, dunia akademik tidak boleh membatasi dinding pengetahuannya hanya di dalam ruang kelas tertutup.