Menuju Kota Bebas Banjir, Pemkot Surabaya Tambah Tiga Rumah Pompa Baru
Pemkot Surabaya mengoperasikan tiga rumah pompa baru untuk mempercepat penanganan banjir di wilayah selatan dan timur.
Editor:
Content Writer
TRIBUNNEWS.COM - Ikhtiar Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam menuntaskan persoalan banjir dan genangan di wilayah Surabaya Selatan dan Timur mulai menunjukkan hasil nyata. Sejak Januari 2026, tiga rumah pompa baru telah beroperasi sebagai bagian dari strategi penguatan sistem pengendalian banjir.
Tiga rumah pompa tersebut berada di kawasan Margorejo Indah, Dukuh Menanggal, dan Ahmad Yani. Masing-masing memiliki kapasitas 6,5 meter kubik per detik dan dilengkapi dengan tiga unit pompa serta saringan sampah untuk mendukung percepatan aliran air.
Saat meninjau Rumah Pompa Dukuh Menanggal pada Senin (4/5/2026), Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menuturkan, penanganan banjir di wilayah selatan dan timur menjadi salah satu prioritas pemkot yang ditargetkan tuntas pada tahun ini.
Untuk mendukung target tersebut, Pemkot Surabaya menjalankan berbagai langkah strategis secara bertahap. Upaya itu meliputi pembangunan rumah pompa, pengerukan saluran, pengaturan elevasi air, hingga pembangunan storage atau box penampungan air.
"Ini adalah (program) pembangunan yang dilakukan Pemkot Surabaya di tahun 2026. Karena nanti target di tahun 2026 tidak ada lagi banjir," ujar Wali Kota Eri.
Menurutnya, keberadaan tiga rumah pompa baru tersebut, mampu mempercepat surutnya air sekaligus mengurangi beban saluran di kawasan padat pemukiman. Bahkan, pemkot juga menambah rumah pompa baru di sejumlah titik rawan genangan, seperti Panjang Jiwo dan Jalan Nginden Intan Timur atau depan Gereja Bethany Nginden.
"Jadi nanti kita akan bangun rumah pompa baru di Panjang Jiwo depan SPBU, satu di depannya Gereja Bethany Nginden di tahun ini," ujarnya.
Baca juga: Gerakkan Ekonomi Kota, Surabaya Vaganza 2026 Tingkatkan Kunjungan Wisata hingga 12,5 Persen
Wali Kota Eri menjelaskan bahwa salah satu persoalan utama banjir di wilayah selatan berasal dari penumpukan beban aliran air yang tidak proporsional. Selama ini, aliran air dari kawasan Karah dan Jambangan bermuara ke Avour Wonorejo sehingga memicu banjir dan antrean air.
"Kalau di Margorejo banjir, otomatis air akan balik dan menyebabkan wilayah Karah serta Jambangan ikut banjir," katanya.
Berdasarkan evaluasi di lapangan, Pemkot Surabaya kemudian memanfaatkan saluran Kebon Agung yang memiliki kapasitas lebih longgar. Karena itu, Pemkot menghubungkan saluran Kebon Agung dengan Kali Surabaya menggunakan pompa. Dengan skema tersebut, aliran dari kawasan Karah dan Jambangan tidak lagi dialirkan ke Margorejo dan menuju Avour Wonorejo.
"Maka saya minta (aliran dari Karah-Jambangan) yang menuju Margorejo ditutup, lalu dialihkan menuju Kebon Agung. Sementara aliran di Margorejo diteruskan ke Avour Wonorejo. Kita bagi bebannya agar adil dan tidak menumpuk di satu titik," paparnya.
Ia menekankan pemetaan aliran air sebagai faktor penting dalam penanganan banjir. Perubahan arah aliran, elevasi saluran, hingga posisi rumah pompa harus dihitung secara detail agar sistem pengendalian banjir berjalan optimal.
"Makanya saya juga mengajak teman-teman lurah, camat, dan kepala dinas (ke lokasi) untuk memastikan dan memahami aliran air. Jadi ada yang kita balik-aliran airnya, maka secara otomatis elevasinya juga harus tahu," katanya.
Dalam tinjauan tersebut, para camat dan lurah juga diminta memahami teknis pengukuran elevasi menggunakan alat seperti theodolite dan waterpass. Pemahaman menyeluruh dari hulu hingga hilir dinilainya menjadi kunci penyelesaian genangan di tingkat wilayah.
Selain membangun rumah pompa baru, Pemkot juga menyesuaikan metode pembangunan berdasarkan kondisi saluran di wilayah timur. Pada sisi saluran Jemursari sampai Sarono Jiwo, pembangunan akan dilakukan menggunakan metode Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP).