Soroti Fenomena Clickbait, Kemendikdasmen Minta Pegiat Literasi Perkuat Budaya Baca
Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Suharti menyoroti derasnya arus informasi di era digital terutama fenomena clickbait
Penulis:
Fahdi Fahlevi
Editor:
Theresia Felisiani
Ringkasan Berita:
- Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Suharti menyoroti derasnya arus informasi di era digital, terutama fenomena clickbait.
- Saat ini masyarakat kerap terjebak pada judul berita tanpa membaca isi secara utuh.
- Budaya membaca dan literasi menjadi fondasi penting untuk membangun Indonesia maju.
- Tidak ada negara maju yang memiliki kualitas pendidikan lemah maupun budaya literasi yang buruk.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Suharti menyoroti derasnya arus informasi di era digital.
Menurutnya, saat ini masyarakat kerap terjebak pada judul berita tanpa membaca isi secara utuh.
"Sekarang ini arus informasi lebih banyak berupa judul berita. Yang beredar biasanya hanya judulnya, padahal isinya sering kali berbeda. Clickbait itu membuat orang sering ribut hanya karena membaca judulnya saja," kata Suharti.
Hal itu disampaikan Suharti dalam acara peresmian Pojok Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI) serta integrasi SIBI dengan Senayan Library Management System (SLiMS) di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, Senin (25/5/2026).
Menurutnya, pustakawan, pegiat literasi, dan pengelola taman bacaan harus mampu menjaga ruang berpikir yang lebih mendalam.
"Kami ingin kita semua menjadi penjaga ruang bagi kedalaman berpikir dan membantu buku-buku yang bagus sampai kepada pembaca," ujarnya.
Baca juga: Bentengi Generasi Muda dari Konten Negatif, Literasi Digital Harus Berakar pada Pancasila
Suharti mengatakan budaya membaca dan literasi menjadi fondasi penting untuk membangun Indonesia maju.
Dirinya menegaskan tidak ada negara maju yang memiliki kualitas pendidikan lemah maupun budaya literasi yang buruk.
"Kemajuan Indonesia sangat bertumpu pada kepastian kita untuk mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua dan juga memastikan budaya membaca kita menjadi semakin kuat. Tidak ada negara maju mana pun yang pendidikannya lemah. Tidak ada negara maju mana pun yang literasinya tidak kuat," tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Kemendikdasmen juga meresmikan integrasi SIBI dengan SLiMS sebagai upaya memperluas akses masyarakat terhadap buku-buku bermutu.
Suharti menjelaskan SIBI saat ini menjadi salah satu kandidat penerima Penghargaan Tata Kelola RI 2026. Melalui sistem tersebut, proses seleksi hingga kurasi buku dilakukan secara terintegrasi.
"Melalui sistem ini semuanya lengkap, mulai dari seleksi buku, kurasi buku, semuanya ada di dalam sistem tersebut," katanya.
Baca juga: Kapan Peringatan Hari Buku Nasional? Berikut Ucapan dan Sejarah Singkatnya
Ia juga menyebut SLiMS yang pertama kali dikembangkan di Perpustakaan Kemendikdasmen kini telah digunakan secara luas di sekolah-sekolah Indonesia.
Bahkan sistem ini diadopsi sejumlah negara lain seperti Bangladesh dan wilayah Asia Tengah.
Menurut Suharti, integrasi kedua sistem itu diharapkan dapat membuat akses terhadap buku bermutu tidak lagi terbatas oleh jarak maupun keterbatasan infrastruktur perpustakaan.