Bacakan Pleidoi, Eks Wamenaker Noel Curhat Pernah Hidup Susah: Saya Mengais Gelas Plastik Air
Eks Wamenaker Immanuel Ebenezer Gerungan atau Noel menceritakan kisah hidupnya yang diwarnai masa sulit sebelum menuai kesuksesan.
Penulis:
Febri Prasetyo
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
Ringkasan Berita:
- Eks Wamenaker Immanuel Ebenezer atau Noel menceritakan kisah hidupnya yang pernah dipenuhi kekurangan.
- Noel mengaku harus berjuang keras agar mendapat pendidikan di tengah kekurangannya.
- Noel dituntut 5 tahun penjara dalam kasus dugaan gratifikasi dan pemerasan pengurusan sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
TRIBUNNEWS.COM - Mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer Gerungan atau Noel menceritakan kisah hidupnya yang diwarnai masa sulit sebelum menuai kesuksesan.
Kisah itu disampaikan Noel ketika dia membacakan pleidoi atau pidato pembelaannya di Pengadilan Negeri (PN) Tipikor Jakarta Pusat, Senin (25/5/2026).
Adapun saat ini Noel menjadi terdakwa kasus dugaan gratifikasi dan pemerasan pengurusan sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Kementerian Ketenagakerjaan.
Dalam pleidoi itu Noel tidak mengelak atas kesalahan yang dilakukannya. Dia mengaku bersalah dan menyesal.
"Di hadapan Yang Mulia, saya ingin memulai dengan kalimat yang paling sederhana, paling langsung, dan paling jujur: Saya salah. Saya mengaku salah. Saya menyesal," ucap Noel.
Kata Noel, seharusnya dia bisa menjaga amanah dengan lebih baik sebagai seorang pejabat publik.
Noel kemudian menyampaikan kisah hidupnya yang dipenuhi dengan masa sulit. Menurut Noel, sebelum dia dikenal sebagai aktivis, masuk dunia politik, dan menjadi Wamenaker, dia hanyalah anak dari keluarga yang sederhana dan hidup dalam kekurangan.
“Saya tumbuh tanpa sosok ayah. Saat usia saya kurang lebih 2 tahun, ayah saya meninggal. Sejak saat itu ibu saya menjadi tiang utama keluarga,” kata dia.
“Beliau membesarkan kami dalam bersaudara seorang diri.”
Menurut Noel, ibunya bukan orang yang berkecukupan. Noel dan keluarganya tidak memiliki rumah tetap sehingga mereka harus berpindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya.
Noel berkata kesulitan dan kekurangan bukan hal yang asing bagi dia. Eks Wamenakaer itu melihat bagaimana ibunya harus berjuang agar anak-anaknya bisa makan dan mendapat pendidikan.
Baca juga: Noel Ebenezer Ungkap Perkara Korupsi Sertifikasi K3 Buat Nama Baiknya Runtuh dalam Sekejap
“Untuk membiayai sekolah, saya ikut mencari uang sendiri. Saya pernah mengais gelas plastik air mineral. Saya pernah mencuci mobil. Saya melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil agar pendidikan saya tidak berhenti,” ungkap Noel.
Masa sulit yang dihadapinya, menurut Noel, membuatnya memahami bagaimana rasanya menjadi orang kecil. Oleh karena itu, ketika menjadi mahasiswa, dia terjun ke dunia aktivisme.
“Ketika saya berhadapan dengan buruh, pekerja, pencari kerja, pengemudi ojol atau keluarga yang sedang berjuang, saya tidak melihat mereka sebagai angka. Saya melihat manusia. Saya melihat wajah masa kecil saya sendiri.”
Noel mengklaim sudah terbiasa mendengar keresahan rakyat sejak dia masih muda. Dia berkeyakinan bahwa negara harus hadir ketika rakyat menghadapi persoalan nyata.