Pengamat Nilai Serangan Melalui Medsos ke Prabowo Dilakukan Secara Terstruktur
Pengamat menyoroti maraknya serangan terhadap Presiden Prabowo Subianto di media sosial yang dinilainya memiliki pola tidak lazim.
Penulis:
Wahyu Gilang Putranto
Editor:
Ayu Miftakhul Husna
Ringkasan Berita:
- Amir Hamzah nilai serangan digital terhadap Prabowo berlangsung terorganisasi, masif, dan sistematis.
- Serangan opini di media sosial disebut bagian operasi psyops dan delegitimasi politik.
- Pemerintah diminta memperkuat deteksi dini terhadap operasi digital dan perang narasi modern.
TRIBUNNEWS.COM - Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menyoroti maraknya serangan terhadap Presiden Prabowo Subianto di media sosial yang dinilainya memiliki pola tidak lazim.
Ia melihat serangan di berbagai platform digital seperti Facebook, X, YouTube, Instagram, hingga Threads berlangsung secara terorganisasi, masif, dan sistematis.
Menurut Amir, dalam konteks intelijen modern, pertarungan opini di ruang digital kini telah berkembang melampaui sekadar perdebatan biasa antarpendukung politik.
Ia menilai serangan yang dilakukan terus-menerus dengan pola narasi serupa dan waktu penyebaran yang hampir bersamaan mengarah pada upaya delegitimasi kekuasaan politik.
“Kalau kita lihat polanya, ini bukan sekadar kritik spontan masyarakat. Ada orkestrasi narasi, ada pengulangan isu, ada penggiringan emosi publik, dan ada target utama yaitu menurunkan legitimasi Presiden Prabowo di mata rakyat,” kata Amir Hamzah dalam pernyataannya, dikutip Sabtu (30/5/2026).
Ia menjelaskan, salah satu ciri operasi digital yang terstruktur dapat dilihat dari kemunculan isu serupa secara bersamaan di berbagai platform media sosial dalam rentang waktu yang berdekatan.
Narasi tersebut kemudian diperkuat oleh akun anonim, influencer politik, video pendek, meme, hingga komentar-komentar yang diarahkan untuk membangun persepsi tertentu.
Amir menyebut dalam dunia intelijen pola semacam itu dikenal sebagai psychological operation atau psyops digital, yakni bentuk perang psikologis yang bertujuan memengaruhi persepsi publik secara luas.
“Tujuan akhirnya bukan hanya membuat pemerintah dikritik, tapi menciptakan ketidakpercayaan publik secara luas. Itu yang disebut delegitimasi,” ujarnya.
Ia juga menilai pola serangan terhadap Prabowo memiliki kemiripan dengan operasi digital yang pernah terjadi di sejumlah negara ketika pemerintah mulai diguncang melalui perang opini sebelum muncul tekanan politik yang lebih besar.
Dalam pandangannya, perang modern saat ini tidak lagi selalu mengandalkan kekuatan militer konvensional.
Baca juga: Guru Besar Trisakti Soroti Transparansi Anggaran Rp 100 Miliar Untuk Sapi Kurban Prabowo
Serangan dapat dilakukan melalui sektor ekonomi, informasi, media sosial, hingga manipulasi persepsi masyarakat.
“Sekarang perang itu hybrid war. Medan tempurnya bukan hanya militer, tetapi juga media sosial. Kalau opini publik berhasil dikendalikan, maka stabilitas politik bisa diguncang tanpa harus mengerahkan pasukan,” katanya.
Amir menilai operasi digital yang menyerang Prabowo menunjukkan adanya dukungan sumber daya besar di belakangnya.