Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Pengamat Nilai Serangan Melalui Medsos ke Prabowo Dilakukan Secara Terstruktur

Pengamat menyoroti maraknya serangan terhadap Presiden Prabowo Subianto di media sosial yang dinilainya memiliki pola tidak lazim.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Pengamat Nilai Serangan Melalui Medsos ke Prabowo Dilakukan Secara Terstruktur
Sekretariat Presiden
KUNJUNGAN KERJA - Presiden Prabowo Subianto saat tiba di Bandara Orly, Paris, Prancis, pada Selasa, (26/5/2026). Pengamat intelijen dan geopolitik menyoroti maraknya serangan terhadap Presiden Prabowo di media sosial yang dinilainya memiliki pola tidak lazim. 

Menurut dia, operasi seperti itu membutuhkan biaya tinggi karena dilakukan secara berkelanjutan di berbagai platform.

“Operasi seperti ini mahal. Butuh buzzer, tim produksi konten, distribusi isu, penguatan algoritma, sampai pengelolaan trending topic. Jadi kalau berlangsung massif dan konsisten, sulit disebut organik,” ujarnya.

Ia menduga ada keterlibatan kelompok elite tertentu yang memiliki pengalaman dalam operasi intelijen dan perang informasi.

“Dalam dunia intelijen, kegagalan membaca eskalasi kerusuhan adalah persoalan serius," ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa operasi digital seperti yang terjadi saat ini umumnya berkaitan dengan persaingan kepentingan di kalangan elite kekuasaan.

Ia juga menyoroti berbagai isu yang terus dimainkan untuk membentuk persepsi negatif terhadap Presiden Prabowo.

Menurutnya, sebagian isu sengaja diproduksi agar masyarakat mengalami kelelahan psikologis hingga kehilangan kepercayaan kepada pemerintah.

Rekomendasi Untuk Anda

“Kalau setiap hari publik disuguhi narasi negatif, lama-lama terbentuk kesan bahwa negara sedang gagal. Itu teknik klasik dalam operasi persepsi,” ujarnya.

Amir mengingatkan pemerintah agar tidak meremehkan perang opini di media sosial.

Ia menilai ketidakstabilan politik modern sering kali berawal dari perang narasi yang tampak sederhana, namun perlahan mengikis legitimasi pemerintah.

Karena itu, ia mendorong pemerintah memperkuat sistem deteksi dini terhadap operasi digital, termasuk memetakan jaringan penyebaran isu, aktor penggerak, serta sumber pendanaannya.

“Intelijen modern harus mampu membaca traffic opini digital. Karena hari ini serangan terhadap negara bisa dimulai dari algoritma,” katanya.

(Tribunnews.com)

Sesuai Minatmu
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas