Influencer Sebut Rupiah Melemah Justru Bagus, Ferry Latuhihin Bingung: Ini Belajarnya Gimana?
Ekonom senior Ferry Latuhihin mengaku bingung dengan klaim para influencer bahwa pelemahan rupiah justru bagus bagi Indonesia.
Penulis:
Febri Prasetyo
Editor:
Nuryanti
Ringkasan Berita:
- Beberapa influencer menyebut pelemahan nilai tukar rupiah justru bagus bagi Indonesia.
- Ekonom Ferry Latuhihin membantah klaim itu karena Indonesia masih banyak mengimpor.
- Menurut Ferry, para influencer itu menjerumuskan atau menyesatkan.
TRIBUNNEWS.COM – Sejumlah influencer atau pemengaruh di media sosial mengklaim bahwa menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) justru akan berdampak bagus bagi Indonesia.
Mereka menjadikan kebijakan Tiongkok sebagai contohnya. Negara itu pernah dengan sengaja menurunkan nilai mata uang renminbi Tiongkok terhadap dolar AS guna mendorong ekspor.
Ekonom senior Ferry Latuhihin mengaku bingung dengan klaim para influencer itu. Dia kemudian membantahnya.
“Yang diuntungkan itu, kalau kita boleh dibilang sebagai negara eksportir, mungkin iya, tapi juga tidak terlalu lemah seperti ini,” kata Ferry dalam siniar di kanal YouTube miliknya, Senin, (1/6/2026).
“Contohnya China. China itu memang menahan exchange rate-nya terhadap dolar pada level 7, satu dolar [setara dengan] tujuh yuan, karena memang Cina menjaga supaya currency-nya tidak terlalu menguat terhadap dolar AS supaya ekspornya tetap jalan karena dia memang export-led economy.”
Ferry yang juga juga dikenal sebagai mantan anggota Dewan Pakar Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran itu menyatakan kondisi Indonesia berbeda. Indonesia banyak mengimpor dari luar.
“Kalau Indonesia, kita lihat saja tahu dan tempe itu kedelainya impor. Semuanya impor. Belum lagi gula, beras mungkin.”
Menurut Ferry, klaim para influencer itu justru menjerumuskan atau misleading.
“Nah, makanya saya bingung juga ini belajarnya gimana,” ucap Ferry.
“Lucunya begini. Kalau memang bagus untuk ekonomi kita, kenapa BI (Bank Indonesia) dipaksa untuk mengintervensi?”
Ferry kemudian menyinggung Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang mengklaim fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah menurunya nilai tukar rupiah. Namun, ternyata rupiah terus melemah.
Baca juga: IHSG Dibayangi Merosotnya Nilai Tukar Rupiah, Investor Asing Masih Angkat Kaki
Dia khawatir bahwa orang-orang yang menilai melemahnya rupiah itu bagus sebenarnya adalah para buzzer bayaran.
Di samping itu, Ferry kembali memprediksi bahwa rupiah akan terus melemah hingga Rp25.000 per dolar AS pada semester kedua tahun ini karena tiap hari ada tekanan yang luar biasa.
Adapun menurut data dari laman resmi BI per 2 Juni 2026, satu dolar AS setara dengan Rp17.972 (kurs jual) dan Rp17. 793 (kurs beli).
Rhenald Khasali satu suara dengan Ferry
Ekonom Rhenald Khasali juga memiliki pendapat yang sama dengan Ferry. Dia mengkritik orang-orang yang menilai positif pelemahan rupiah.