Pidato Lengkap Prabowo di Munas XVII HIPMI: Ungkit soal Kunker ke Luar Negeri hingga Mobil Dinas
Prabowo menyinggung banyak hal terutama terkait upaya menciptakan iklim usaha yang sehat, termasuk penegakan hukum yang konsisten.
Editor:
Hasanudin Aco
TRIBUNNEWS.COM, LAMPUNG - Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutannya pada pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, Rabu 10 Juni 2026.
Dalam sambutannya, Prabowo menyinggung banyak hal terutama terkait upaya menciptakan iklim usaha yang sehat, termasuk penegakan hukum yang konsisten.
Presiden juga mengungkit soal seringnya kunjungan ke luar negeri hingga mobil dinas Maung yang kerap dia gunakan mengalami kerusakan.
Selengkapnya pidato Prabowo di Munas XVII HIPMI dikutip dari situs Presiden RI, Kamis 11 Juni 2026:
Saudara-saudara sekalian,
Tentunya kita terus-menerus tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala, Tuhan Maha Besar. Kita masih diberi kesehatan, masih diberi karunia, bangsa kita diberi kedamaian.
Dan, hari ini kita hadir bersama dalam acara Musyawarah Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia yang Ke-18 Tahun 2026. Saya diberi tahu bahwa hari ini adalah hari ulang tahun HIPMI, tanggal 10 Juni 2026, ya.
Ini kalau dijumlahin angkanya ini angka baik, ya. 10 Juni, Juni, kan, bulan keenam, ya. Jadi kalau 10 tambah 6 itu, kan, 17. Iya, kan? 1 sama, ya, 17, 1 sama 7, [sama dengan] 8. Belum selesai. 2026 jumlahnya 10, ya. Oh, iya, okelah. Oh, bukan 10. Iya, benar 10, 1 tambah 6 [sama dengan] 7, 7 sama 10 [sama dengan] 17, 1 sama 7 [sama dengan] 8.
Makanya angka 8 itu angka selalu melekat sama saya. Makanya benar-benar sepertinya saya sama HIPMI agak cocok begitu dari dulu. Karena saya kenal tokoh-tokoh HIPMI semua hampir semuanya, kelakuannya, sudah saya kenal semuanya itu juga. Jadi jangan macam-macam aku sudah tahu kelakuanmu semua itu. Gelagatnya pun sudah saya tahu.
Saudara-saudara,
HIPMI sebagai wadah pengusaha muda adalah wadah yang sangat penting. Dan lahirnya HIPMI dengan wawasan nasionalisme sebagaimana diutarakan adalah sangat penting. Sebenarnya tidak ada kemajuan suatu bangsa tanpa nasionalisme, sebenarnya tidak ada. Bahkan mbah, mbahnya kapitalisme, ya, guru-guru kapitalisme sekalipun mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya bisa datang dengan nasionalisme, ya.
Ada enggak itu ya, slide-nya itu dari, dari profesor, ada, Saudara Yuza? Sudah bisa dipasang? Kalau dibaca, ya. Ini dari bukunya Profesor Liah Greenfeld, The Spirit of Capitalism.
“Today, it is claimed, we live in the period of late capitalism, and possibly in the postindustrial society; yet nationalism is not gone, nor does it show any signs of being gone soon. Nationalism first appeared in England, becoming the preponderant vision of society there. The sustained growth characteristic of modern economy is not self-sustained; growth is stimulated and sustained by nationalism.”
Ya, kan, HIPMI pintar Bahasa Inggris semua, ya. Baik, saya terjemahkan sedikit. Saya, yang bagian kedua ajalah yang paling penting, ya. Nasionalism, yang saya ambil yang apa, kalimat terakhir. “The sustained growth characteristic of modern economy.”
Jadi karakteristik, sifat dari ekonomi modern is not self-sustained, tidak maju, tidak berkembang dengan sendirinya. Growth, pertumbuhan disimulasi dan dipertahankan oleh nasionalism. Ini adalah, ini adalah guru kapitalisme.
Jadi, Saudara-saudara, Jepang maju, Amerika maju, Eropa Barat maju, Tiongkok bangkit sekarang karena nasionalisme. Jadi, HIPMI tadi disampaikan oleh tokoh-tokoh HIPMI, hadir pendiri HIPMI di sini, salah satu saya juga kenal Pak Siswono. Nafas lahirnya adalah nasionalisme.
Tapi, Saudara-saudara, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri, apa benar-benar sistem ekonomi kita sudah berdasarkan nasionalisme? Marilah kita tanya kepada diri kita sendiri. Marilah kita lihat dengan mata dan hati yang terbuka, dan kalau kita lihat dengan mata dan hati yang terbuka, kita akan sadar bahwa sistem ekonomi yang dijalankan sekarang ini penuh dengan tantangan-tantangan, penuh dengan pertanyaan-pertanyaan.
Jadi, Saudara-saudara, sebagai wadah dari pengusaha muda, HIPMI adalah suatu wadah yang sangat penting. Karena wadah ini sebagaimana tadi disampaikan, melahirkan pemimpin-pemimpin. Pemimpin masyarakat, ya, pemimpin ekonomi. Dan, benar. Coba, berapa tokoh HIPMI yang muncul sebagai tokoh-tokoh bangsa, tokoh-tokoh nasional, ya? Pak Latief menjadi menteri, menjadi pengusaha pribumi besar.
Pak Siswono juga berapa kali jadi menteri. Pak Bakrie Menko, Pak Aburizal Bakrie Menko dan juga ketua partai politik besar, Partai Golkar, juga Ketua Kadin (Kamar Dagang dan Industri) kalau tidak salah, ya, Pak Aburizal Bakrie? Pak Erwin Aksa. Sekarang Pak Bahlil Lahadalia Ketua Umum Partai Golkar, partai yang besar, beliau juga Menteri ESDM, ya.
Jadi, Saudara-saudara, demikian besar peran daripada HIPMI. Tapi, di tengah peran besar itu, saya, saya mengimbau Saudara-saudara bersama-sama marilah kita menatap keadaan bangsa kita dengan jujur.
Saudara-saudara sekalian,
Menurut pandangan saya, menurut keyakinan saya, bahwa bangsa kita telah menyimpang dari pemikiran, dari warisan pendiri-pendiri bangsa kita sendiri. Pendiri-pendiri bangsa kita telah mewarisi kepada kita, meneruskan kepada kita hal-hal yang luar biasa, yang saya katakan kecemerlangan, kecemerlangan. Yang pertama tentunya Sumpah Pemuda, ya. Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa.
Satu bahasa mempersatukan kita, dan bahasa yang dipilih bukan bahasa mayoritas, bahasa suku yang minoritas, diambil jadi bahasa kebangsaan dan mampu mempersatukan. Kecemerlangan selanjutnya adalah Pancasila, Pancasila yang telah mempersatukan. Ini saya kira sudahlah kita, ya, kita terima dan anak-anak muda sekarang menerima, seolah-olah, ya, apa ya, itu biasa.
Tapi, Saudara-saudara, lihatlah dunia sekarang, lihatlah dunia hari ini. Perang di mana-mana, perang di Eropa, di tempat lahirnya demokrasi perang. Sama-sama, mereka itu ras yang sama, bedanya apa Ukraine sama Rusia? Hampir sama bahasanya, hampir sama agamanya. Perang, perangnya luar biasa. Hitungannya kira-kira tiap bulan belasan ribu yang mati, tiap bulan. Belum lagi Gaza, belum lagi Palestina, Suriah, Irak, Libya, Sudan, Yaman, Somalia. Pakistan, perang, ya.
Tetangga kita, Kamboja perang sama Thailand, Myanmar perang. Jadi, janganlah kita menganggap apa yang kita miliki sekarang adalah biasa-biasa saja. Di tengah itu semua, kita juga harus mengakui bahwa apa yang diberikan oleh pendiri bangsa kita, selain Pancasila adalah Undang-Undang Dasar 1945, itupun kita tinggalkan. Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, yang sangat jelas dan sangat gamblang, itu tidak mau, tidak mau dibicarakan. Tidak mau dibicarakan dan tidak mau di, apalagi diberlakukan.
Jadi, Saudara-saudara HIPMI sebagai pengusaha muda, sebagai pelaku ekonomi, tadi disebut sebagian besar UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah). Saudara harusnya bertanya, ya, kan. Saudara sering dengar negara kita begitu kaya, tapi kita lihat banyak rakyat kita yang hidupnya sangat-sangat susah.
Masalahnya adalah, menurut keyakinan saya, bahwa kita telah meninggalkan sendi-sendi yang paling penting, yaitu sendi rancang bangun bangsa. Bagaimana kita mau mendirikan gedung tanpa suatu blueprint, tanpa suatu gambar teknis? Kalau kita menyimpang dari blueprint, dari, dari cetak biru kita menyimpang, gedung itu runtuh. Kita sudah diberi rancang bangun, blueprint, tapi kita pura-pura bahwa itu tidak penting. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Ini lip service, yang dibesarkan adalah konglomerasi.
Saya kaget, saya memang benar disebut, saya memang bukan ahli keuangan. Tapi saya kaget, waktu saya kampanye, saya berurusan dengan ibu-ibu yang ikut, apa itu, Super Mikro. Mekaar, ya, Kredit Super Mikro. Mereka rata-rata bayar bunga itu 24 persen. Saudara pengusaha, pengusaha-pengusaha besar pinjam uang dari bank, bank Himbara (Himpunan Bank Milik Negara), bank milik pemerintah, bunganya 9 persen, 10 persen.
Bagaimana orang miskin bayar bunga lebih tinggi daripada pengusaha besar? Jadi, kejanggalan-kejanggalan ini, ini saya coba luruskan. Saya sangat yakin, kita laksanakan Pasal 33, tentunya dengan, dengan arif, dengan bijaksana tapi kita laksanakan, saya yakin Indonesia akan bangkit dengan cepat, kita akan bangkit.
Saudara-saudara sekalian,
Kita diberi karunia luar biasa oleh Mahakuasa. Tadi di video kalian itu, iya, kan, ada apa itu? Rute rempah-rempah. Dari dulu, Nusantara kita didatangi karena kekayaannya, ya. Negara-negara, apa, bangsa-bangsa asing itu datang ke sini waktu itu, berbulan-bulan ke sini, bukan wisata, dia ke sini mencari kekayaan, sampai sekarang. Jadi, Saudara-saudara, segala kekayaan kita, tantangannya adalah harus dikelola oleh kita dengan sebaik-baiknya, dengan secerdas-cerdasnya.
Saudara-saudara,
Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara, yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Ini Bahasa Indonesia, tidak perlu ditafsirkan, tidak perlu diterjemahkan, harus dilaksanakan. Bumi, dan air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Ini adalah perintah Undang-Undang Dasar. Kita perang kemerdekaan dengan Undang-Undang Dasar ini.
Dan, logikanya, ini kekayaan kita. Masa kekayaan kita, ya, diolah, diambil, dijual ke luar negeri, hasil jualannya tidak ditaruh di Indonesia? Masuk akal atau tidak, coba? Ya. Kalau, katakanlah Saudara punya warung. Setiap hari Saudara jualan, ya, setiap hari Saudara jualan. Jualan apa saja di warungmu. Dan, setiap hari keuntunganmu kau taruh di tempat tabunganmu. Di lemarimu, atau di lacimu, atau di mana. Kemudian laci itu, lemari itu, tas itu diambil orang lain. Kamu merasa biasa atau tidak? Tabunganmu diambil.
Saudara-saudara,
Selama berapa puluh tahun, tabungan Indonesia diambil. Dan, uangnya tidak ditaruh di Indonesia, ditaruh di luar negeri. Dan, kita kadang sekarang, uh, iya, kan.
Saudara-saudara,
Saya tadi dikatakan berapa kali maju jadi presiden, untuk jadi presiden. Tadi disebut, apa, tiga kali kalah. Salah, empat kali kalah. Iya. Saya usaha jadi presiden dari 2004, Konvensi Golkar, ya, kan. 2004, 2009, 2014, 2019, 2024. Lima kali, empat kali kalah, empat kali kalah. Orang bingung sudah empat kali kalah masih mau maju lagi. Saudara-saudara, ada analis-analis, ya, podcast-podcast, ya, Prabowo pengin banget jadi presiden, sampai sekian kali.
Saudara-saudara,
Kenapa saya ingin jadi presiden? Saya ingin jadi presiden karena saya sudah lihat dari tahun 90-an, Indonesia menuju arah yang salah. Saya sudah melihat. Saya bukan mau jadi presiden hanya untuk jadi presiden. Lu kira enak? Iya, kan? Karena kadang-kadang masyarakat elite kita ini elite yang memang kejam. Elite kita ini, ya, tapi hampir semua elite bangsa-bangsa seperti kita ribut terus.
Sukanya, elitenya suka ribut, rakyat tidak. Rakyat paling ngerti, rakyat ngerti bahwa untuk dapat hidup yang baik harus ada kerukunan, harus ada apa, harus ada paguyuban, harus ada kerja sama, harus ada saling mengisi, bukan saling menghantam. Tapi elite semakin pintar. Jadi ada presiden kayak Pak Jokowi yang jarang ke luar negeri. Disalahkan, iya, kan. “Jokowi enggak pernah ke luar negeri, Jokowi tidak peduli politik luar negeri.” Saya sering ke luar negeri, “Prabowo sering ke luar negeri.” Aneh.
Sebetulnya enggak ada masalah gitu. Situasi mungkin berubah. Sekarang dinamikanya geopolitik begitu kacau. Kita tidak tahu kawan siapa, lawan siapa. Kita beruntung, saya beruntung, Presiden Indonesia menerima warisan dari pendiri-pendiri bangsa kita, bahwa politik luar negeri Indonesia adalah politik non-aligned, politik nonblok. Kita bersahabat sama semua negara, kita bersahabat sama semua kekuatan.
Kita tidak mau terlibat dengan pakta-pakta militer siapa pun. Karena itu, begitu saya menerima mandat sebagai presiden, saya langsung, saya langsung gariskan politik luar negeri kita meneruskan politik non-aligned, politik nonblok, politik bebas aktif. Seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Ini adalah garis yang saya tempuh. Sekarang saya baik sama Presiden Putin, baik saya. Tapi saya baik juga sama Presiden Trump. Di sini saya disalahkan, di situ saya disalahkan, tapi enggak ada masalah.
Saudara-saudara,
Noise selalu ada, yang penting kita yakin garis kita di mana. Selama saya yakin saya kerja untuk bangsa dan rakyat Indonesia, selamanya saya tidak ragu ragu.
Saudara-saudara, Saudara-saudara,
Kadang-kadang kita sebagai negara yang disukai oleh banyak negara. Indonesia sekarang disukai, Indonesia dicari karena Indonesia dikenal tidak mau punya musuh. Nah, sekarang saya tanya kepada Saudara, saya tanya kepada Saudara, ya. Karena ada, ada yang sok lebih pintar dari segala-galanya. Bayangkan saya sebagai Presiden Indonesia, saya dipilih oleh rakyat untuk menjaga rakyat Indonesia.
Sekarang, kalau ada negara superpower, ya, katakanlah Presiden Trump, mengundang saya ke Amerika, berani saya enggak datang? Kalau Presiden Amerika Serikat mengundang Presiden Indonesia dan Presiden Indonesia enggak hadir, coba saja.
Jadi, Saudara-saudara, sudah Presiden Amerika undang, Presiden Rusia undang juga. Gue nongol di Washington, gue enggak nongol di Moskow, enggak bisa, Saudara-saudara. Habis itu diundang lagi oleh Presiden Xi Jinping, ya gue hadir, benar enggak? Diundang lagi oleh India. India 1,4 miliar orang, ya. Pasarnya besar, teknologinya hebat. Jadi, Brasil sama.
Jadi, Saudara-saudara, inilah risiko negara yang sahabatnya banyak. Kita Indonesia ini negara terbesar di ASEAN, kita anggota APEC, anggota Konferensi Islam (OKI), anggota, sekarang anggota BRICS, anggota G20.
Kita kalau diundang kita enggak hadir, ya, ini saya mau cerita sama Saudara-saudara. Untuk membela kepentingan rakyat memang kita harus memelihara hubungan baik dengan semua pemerintah itu. Makanya, saya katakan politik Indonesia adalah politik tetangga yang baik. Kita ingin menjadi tetangga yang baik kepada semua negara sekitar kita dan negara yang lain di dunia, Saudara-saudara sekalian.
Saudara-saudara,
Kemarin saya, dua hari, tiga hari ini saya menerima berapa, 18 duta besar. Hampir semuanya menyampaikan undangan dari presiden dan perdana menteri masing-masing. “Kami berharap Presiden Indonesia dapat berkunjung ke negara kami.” Bayangkan 18 negara itu, terbangnya udah klenger aku.
Saudara-saudara,
Ini saya hanya cerita. Saudara-saudara sebagai pemimpin-pemimpin muda yang di antara Saudara, ya, pasti akan ada yang akan muncul sebagaimana ketua-ketua umum sebelumnya. Saudara adalah wadah pemimpin, jadi Saudara harus mengerti, mengerti masalah bangsa. Saya di forum ini pada kesempatan ini, saya ingin mengingatkan Saudara-saudara.
Setialah kepada sejarah kita sendiri. Tanpa kesetiaan kepada sejarah, tanpa cinta tanah air, kamu tadi, saya sudah tayangkan, mbahnya kapitalisme, tidak ada pertumbuhan tanpa nasionalisme, Saudara-saudara.
Dan, pengusaha-pengusaha haruslah jadi pengusaha yang patriotik. Saudara menumpuk kekayaan, saya kira semua ajaran apakah agama, apakah filosofi, semua ajaran kekayaan yang kau dapatkan dengan baik gunakanlah untuk tujuan yang baik, gunakanlah untuk membantu orang yang belum mampu, Saudara-saudara sekalian. Baru Indonesia akan bangkit.
Tapi, kalau Saudara kaya raya, habis itu kekayaannya kau bawa lari di luar negeri dan kau tidak peduli dengan rakyat sekitarmu, ya, masa depan bangsa kita tidak akan baik. Bangsa kita baik karena nilai-nilai bangsa kita. Di antara nilai nilai bangsa kita yang harus kita jaga adalah nilai-nilai yang turun-temurun dari nenek moyang kita, antara lain gotong-royong, saling membantu. Yang kuat angkat yang lemah.
Para pengusaha kunci dari kebangkitan suatu bangsa. Saudara yang akan menciptakan lapangan kerja. Karena itu pemerintah harus membuat keadaan yang baik untuk para pengusaha. Keadaan yang baik itu, antara lain hukum harus kita tegakKan. Kalau kita tidak tegakkan hukum yang terjadi adalah hukum rimba, hukum liar, yang terjadi adalah hukum berdasarkan kekuatan dan di ujungnya tidak baik bagi kita semua.
Ada yang mengatakan Prabowo tidak suka dan nanti akan mengusir investor-investor asing, ternyata tidak seperti itu. Saya ketemu banyak investor-investor yang akan masuk. Tapi, kita ngerti bahwa di antara kita ada yang selalu tidak suka dengan berlakunya hukum. Mereka suka keadaan yang liar.
Jadi, Saudara-saudara, saya titip HIPMI bangkitlah dengan semangat cinta tanah air yang luar biasa. Akan ada kesulitan, pasti ada kesulitan. Sekarang tidak hanya kita yang sulit, hampir seluruh dunia yang sulit karena perang teluk, ya, ada Selat Hormuz, ada Laut Merah, tapi kita bersyukur kekuatan kita besar.
Akan ada tantangan. Kita sekarang sudah swasembada pangan, sudah swasembada pangan. Jangan kau anggap pangan itu tidak penting, tanpa pangan tidak ada republik manapun di dunia ini. Tidak ada negara tanpa pangan. Banyak negara sekarang dalam keadaan panik, mereka sulit cari makan. PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) sudah warning tahun ini akan ada kelaparan besar-besaran. Kita alhamdulillah kuat. Ini tidak bisa kita tutup mata.
Saudara-saudara,
Kita menuju swasembada energi. Kita sedang bekerja keras, perhitungan kita tiga tahun lagi kita benar-benar sangat kuat di bidang energi, Saudara-saudara sekalian.
Saudara-saudara sekalian,
Dan, yang paling penting kita akan melakukan industrialisasi, industrialisasi. Kita akan melaksanakan industrialisasi melalui hilirisasi. Semua komoditas kita akan kita olah dan akan menjadi industri-industri di Indonesia. Ini kesempatan untuk pengusaha-pengusaha muda bangkit, karena kita tidak mau hanya jadi pasarnya bangsa lain, kita mau pasar Indonesia harus dinikmati oleh putra putri Indonesia.
Setelah 81 tahun merdeka, kita harus punya mobil buatan Indonesia sendiri. Kita sudah mulai merintis sekarang, TNI sudah pakai jip buatan putra putri Indonesia sendiri. Presidenmu, presidenmu, saya sekarang pakai mobil buatan rakyat Indonesia sendiri.
Ini kayak kampanye saja ini. Kampanye masih lama. Ini aku ke sini lagi menggugah semangatmu.
Jadi, Saudara-saudara, berapa hari yang lalu, berapa hari yang lalu. Enggak, ini aku mau cerita ini, ya. Aku mau cerita ini berapa hari yang lalu, saya dengar pembicaraan di antara, di antara anak buah saya. Mereka tanya, “Eh, harga mobil ini berapa, ya? Harga mobil itu berapa, ya?” Begitu. Saya pikir, “Wah, aku udah enggak bisa lagi nanya-nanya seperti itu.”
Suka tidak suka, karena saya presiden, saya harus kasih contoh saya harus pakai mobil buatan anak-anak Indonesia. Jadi, jadi saya mengerti. Ini, kan, mobil baru satu [sampai] dua tahun kita bangun, iya, kan. Yang namanya sesuatu yang baru, ya, mungkin tidak sebagus kalau saya pakai BMW atau Mercedes, iya, kan.
Kalau Pak Ara pakai Mercedes mungkin, ya. Aku udah enggak bisa lagi. Saya pakai Maung. Nah, suatu saat saya ini suka tidur di mobil, ya, saya suka tidur di mobil. Jadi suatu saat saya lagi tidur di mobil, tahu-tahu karena hujan keras di luar, saya tidur tahu-tahu tik, tik. Saya bangun. Rupanya bocor. Yang namanya baru, ya, kan. Ya aku kirim kembalilah ke, ini kan buatan Pindad. Aku bilang, “Eh, Pindad, tolonglah bocornya dikurangi gitu.” Habis itu pakai mobil naik gunung geredak, geredak, geredak. Tapi geredak enggak apa-apa, demi nasionalisme saya tetap pakai mobil ini.
Saudara-saudara, Saudara-saudara, Saudara-saudara, Saudara-saudara,
Saudara harus ingat, Saudara harus ingat orang tuamu. Waktu kau kecil orang tuamu berjuang keras mencari sepatu untuk kamu berangkat sekolah, mencari baju untuk kamu. Mungkin temanmu sepatunya lebih bagus, tapi ini sepatu dari orang tuamu. Mau bagus, mau bocor, mau geredek-geredek mobil itu buatan, buatan anak-anak Indonesia. Berarti dari ibu kita, ibu pertiwi, Saudara-saudara sekalian.
Ya sudah, sebentar. Saya minta izin, kalau sudah begini harus minum kopi saya. Kalau udah begini bisa dua jam lagi saya bicara.
Saudara-saudara, Saudara-saudara,
Percayalah masa depan Indonesia luar biasa, Saudara-saudara sekalian. Tapi, tapi kuncinya adalah kita harus bersatu, kita harus rukun. Suku berbeda, agama berbeda, latar belakang, latar belakang boleh berbeda, partai boleh berbeda, tapi cinta tanah air tidak boleh luntur dari kita. Benar tadi, habis bertarung jadi satu. Kita harus kerja. Makanya saya selalu, saya selalu menggagas, mengusulkan gagasan Indonesia Incorporated.
Indonesia Incorporated adalah Indonesia sebagai satu kesatuan, satu kesatuan ekonomi. Kita bersaing bukan bersaing untuk saling membunuh, kita bersaing untuk saling mengangkat, Saudara-saudara sekalian. Bersaing untuk saling mengangkat, bersaing untuk saling memperkuat. Hanya bangsa yang bodoh yang mau bertikai, yang mau konflik.
Kita lihat, lihat dengan mata kita, lihat dengan mata kita apa yang terjadi kepada bangsa-bangsa lain yang kaya raya, yang punya kekayaan luar biasa, punya gas, punya minyak, punya emas, tapi perang, perang, perang. Perang saudara. Saya sedih banyak di antara mereka itu kawan saya semua, saya sedih. Saya sangat sedih.
Contoh, Sudan. Sudan kaya luar biasa, perang terus. Pertama perang utara sama selatan. Utara Islam, selatan Kristen. Yang selatan, misahkan diri. Begitu misahkan diri, selatan perang sama perang. Kristen sama Kristen perang. Yang utara, Islam sama Islam perang. Rakyat jutaan, jutaan hilang rumah. Puluhan ribu mati. Negara sangat kaya. Libya, negara sangat kaya. Irak, negara sangat kaya. Suriah, Saudara-saudara.
Jadi, anak-anak muda, pemimpin-pemimpin muda, bangunlah budaya yang baik. Nasionalis, tapi kerja sama. Jangan membenci, jangan selalu dendam. Dua hal yang sudah harus kita hindari. Jangan benci, jangan dendam. Bersaing, biasa. Menang, kalah, enggak ada masalah. Nyatanya saya lima kali di maju, empat kali kalah, yang penting terakhirnya saya diberi kesempatan.
Dan, Saudara mau percaya atau tidak percaya, saya, waktu saya, waktu saya menang diumumkan oleh KPU, ya. Saya menang diumumkan oleh KPU, you bisa cek saya menang dengan angka 58,58 persen. Jadi tunggu, tunggu, tunggu. 58, 5 plus 8 [sama dengan] 13, benar? 5 sama 8 [sama dengan] 13, 13 sama 13 [sama dengan] 26, 2 tambah 6 [sama dengan] 8. Ini kayak kampanye di kecamatan, asik juga ini, asik juga, ya. Jangan-jangan ini Gerindra semua ini.
Saudara-saudara,
You boleh cek lagi, waktu diumumkan di TV saya lihat jam, ya, diumumkan jam 14.03 WIB. 14.03 WIB. 1 sama 4 [sama dengan] 5, 5 sama 3 [sama dengan] 8.
Saudara-saudara,
Ini baru pembukaan. Ini, ini ada 28 slide, bagaimana? Dibacakan? Enggak, enggak, enggak.
Saudara-saudara,
Salah satu, salah satu kemampuan pemimpin harus bisa merasakan kemauan rakyat. Dan, dan saya merasakan rakyat saya ini yang duduk di depan ini sudah capai, betul? Sudah, gue sudah, gue sudah tahu lu. Sudah tahu, saya sudah tahu. Tapi kalian malu, nanti dibilang HIPMI tidak semangat, jadi semangat. Padahal, padahal di hatimu, “Apalagi dia orang ngomong lagi.” Benar, kan? Benar.
Pokoknya, Saudara-saudara, Saudara-saudara, percayalah kita berada sudah di jalan yang benar. Kita sudah kembali kepada Pancasila yang benar, Undang-Undang Dasar ‘45 yang benar. Kita mau bangun Indonesia yang bersatu. Semua suku, semua agama, semua kelompok etnis, semua ras, semua budaya bersatu untuk kita bangkit. Percaya, masa depan kita luar biasa, Saudara-saudara. Kalau enggak, kalau enggak luar biasa gue enggak mau jadi Presiden Indonesia.
Saudara-saudara,
Saya mengajak sekarang, ya, karena ini HIPMI. HIPMI pengusaha, pengusaha. Tunggu dulu, pengusaha Indonesia banyak dosanya. Betul? Lu enggak bisa bohong sama gue, gue sudah ngerti lu. Itu tokoh-tokoh HIPMI ini gue kenal dari kecil. Bambang Wiyogo gue kenal dari dia masih punya rambut. Ini semua satu-satu ini kenal semua itu. Cicip, ini semua gue kenal semua itu. Bang Latief gue kenal juga.
Saudara-saudara,
Tapi, sudahlah. Ya, enggak apa-apa. Dosa kita tutup, kita bangkit ke depan. Sekarang jangan coba-coba melanggar hukum. Saudara akan, Saudara akan kalah, kenapa? Sekarang ada teknologi, sekarang ada AI (artificial intelligence), ada kecerdasan. Sekarang semua dokumen setebal ini bisa dibaca dalam lima menit. Kontrak setebal ini, lima menit.
Jadi, Saudara-saudara, mari kita raih masa depan yang baik, ya. Kita kuasai, kita kendalikan semua untuk sebesar-besar kemampuan rakyat kita. Kita percaya, kita bisa membangun Indonesia yang hebat. Semua negara melihat sebenarnya Indonesia tidak terbendung. Kita sudah algoritmanya sudah ada, hitungannya sudah ada. Kalau kita pandai dan kita cerdas, 2045 kita ekonomi keempat terbesar di dunia, Saudara-saudara. Ya, yang muncul nanti nomor 1 Tiongkok, nomor 2 Amerika Serikat, nomor 3 India, nomor 4 Republik Indonesia.
Saudara-saudara,
Dan, pada saat itu, 2045, adalah 19 tahun lagi, kan? 20 tahun lagi, ya? 20 tahun lagi Saudara-saudara berada di puncak karirmu. Saya nanti di Hambalang monitor kalian di bawah. Kalau belum dipanggil Yang Maha Kuasa. Kalau dipanggil Yang Maha Kuasa aku lihat, tetap saya monitor kalian. Kalau kalian kurang ajar, malam-malam aku turun nyari kau. Jangan main-main kau. Kau melanggar berkhianat kepada Merah Putih, aku turun aku cari kau.
Slide-slide enggak usah, ya? Kalian, eh, mana saya punya staf? Buku-buku sudah dibawa? Sudah terima buku-buku saya? Belum? Ini penutupan tanggal berapa? Tanggal berapa? Besok? Besok penutupan? Tolong, ya. Besok buku-buku saya sudah di sini semua. Tapi buku saya dibaca, jangan dipajang saja, ya, kan.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saudara-saudara,
Inti-intinya sudah saya sampaikan. Kita butuh pengusaha-pengusaha yang militan, yang semangat, yang cerdas, yang tidak mengenal menyerah. Jatuh, bangkit lagi, jatuh, bangkit lagi, jatuh lagi, bangkit lagi. Dan selalu saya titip, kita harus bersatu, gotong-royong. Kalau ada yang menghasut, memecah belah, yakinlah dia bekerja untuk orang lain bukan untuk orang Indonesia, Saudara-saudara. Yang nyinyir, nyinyir, nyinyir, biar.
Ingat, ya, ajaran dari guru-guru kita, biar anjing menggonggong kafilah tetap terus. Kita berada di jalan yang benar, kita akan menuju kemenangan dan kehebatan, Saudara-saudara sekalian. Dulu waktu pejuang-pejuang kita, waktu mereka mengatakan merdeka, banyak juga yang nyinyir. “Merdeka? Bagaimana kita mau merdeka? Bikin peniti saja tidak bisa.” Dulu, kan, begitu. Tapi, kita merdeka.
Saudara-saudara,
Percaya kepada pemimpinmu. Kami tidak akan berkhianat kepada kalian, kami tidak akan berkhianat kepada bangsa Indonesia. Dari waktu muda pun kami siap mati untuk bangsa ini, Saudara-saudara. Saya ingin mati di atas jalan yang benar, saya ingin mati di atas jalan Merah Putih, saya ingin mati membela rakyat saya.
Kali ini, kali ini benar-benar wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita sekalian.
Terima kasih, HIPMI.
HIPMI jaya!
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.