Harga BBM Pertamax Naik, Kelas Menengah Dinilai Paling Terdampak, Pengeluaran Rumah Tangga Terasa
Kelompok masyarakat kelas menengah dinilai menjadi pihak paling terdampak kenaikan harga BBM non subsidi jenis Pertamax per 10 Juni 2026.
Penulis:
Suci Bangun Dwi Setyaningsih
Editor:
Endra Kurniawan
Sementara itu, Pengamat Ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS), Lukman Hakim, menilai kenaikan harga BBM memicu naiknya harga berbagai kebutuhan pokok.
Pun dengan kenaikan BI-Rate atau suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50, otomatis akan berdampak pada bunga pinjaman masyarakat.
“BI rate naik sama harga BBM naik itu kan jadi dampaknya berlapis ya di masyarakat. Saya rasa kalau situasinya seperti itu jadi BI rate kan naik otomatis pinjaman naik,” katanya kepada Tribunnews, Rabu (10/6/2026).
Lukman Hakim menjelaskan, tekanan ekonomi semakin berat ini, karena nilai tukar rupiah yang melemah membuat harga barang berbahan impor ikut terkerek naik.
“Kemudian BBM naik kan otomatis kebutuhan bahan pokok naik, belum lagi nilai tukar melemah. Itu barang-barang yang ada komoditi impornya kayak roti, kemudian gandum, mie ayam, tempe itu pasti naik semua kan," imbuh Lukman.
Oleh karena itu, masyarakat perlu segera melakukan penyesuaian pola pengeluaran agar kondisi keuangan rumah tangga tetap aman.
Masyarakat diminta memilah kebutuhan yang benar-benar penting dan mendesak untuk dipenuhi terlebih dahulu.
Strategi Atur Keuangan di Tengah Naiknya BBM dan BI Rate
Di tengah situasi ini, Ila Abdulrahman, seorang financial planner asal Banyuwangi, Jawa Timur, menyampaikan pentingnya mengatur keuangan dalam rumah tangga.
Ila menekankan tentang kontrol terhadap pengeluaran rumah tangga.
Alumni IPB University, Bogor ini, menyarankan agar masyarakat mengerem utang agar tidak menambah cicilan.
"Setelah gejolak global, gejolak Indonesia, kadang rumah tangga mengalami gejolak yang naik dan lain sebagainya. Yang terpenting adalah satu, jangan tambah utang konsumtif lagi."
"Jangan menambah cicilan utang, jangan menambah plafon pinjaman lagi. Kalau memang penghasilannya belum mencukupi, kontrol pengeluaran, cari alternatif barang pengganti sejenis," ungkap Ila kepada Tribunnews, Rabu (10/6/2026).
Kemudian, delete pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu.
Lebih lanjut, Ila mengingatkan, pentingnya menjaga rasio cicilan utang dari pendapatan. Selain itu, dana darurat dan tabungan dalam bentuk apapun juga diperlukan untuk menjaga keuangan rumah tangga.
Baca juga: Dihimpit BI Rate & Harga BBM Naik, Rumah Tangga Bisa Perkuat Dana Darurat hingga Jaga Porsi Cicilan
Sebagai informasi, Bank Indonesia (BI) menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen
Kenaikan BI rate 25 bps ini, sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah dan sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen sesuai target Pemerintah.