Tekanan Rupiah dan Arus Keluar Modal Asing Jadi Ujian Transisi Menuju Tatanan Baru Ekonomi Pancasila
Peneliti Ekonomi GREAT Institute Yossi Martino menilai bahwa ujian kredibilitas ini merupakan konsekuensi logis dari langkah berani pemerintah.
Namun, intervensi tersebut harus memberi kepastian, bukan menambah ketidakpastian.
Karena itu, GREAT Institute menilai pemerintah perlu menjaga tiga kredibilitas sekaligus. Pertama, kredibilitas fiskal, yaitu memastikan program besar memiliki prioritas, sumber pembiayaan, dan batas risiko yang jelas.
Kedua, kredibilitas kelembagaan, yaitu memastikan program strategis memiliki tata kelola, indikator kinerja, evaluasi, dan pengawasan terbuka.
Sebagaimana yang dilakukan pada program MBG, pemerintah perlu terus memperkuat tata kelola Koperasi Merah Putih melalui sistem pengawasan, pelaporan, dan akuntabilitas yang memadai.
Berbagai keraguan yang berkembang di masyarakat terkait tata kelola program, termasuk dugaan penyimpangan pengelolaan anggaran, perlu segera diklarifikasi melalui investigasi yang independen, transparan, dan berbasis fakta.
Keterbukaan hasil investigasi oleh institusi yang berwenang merupakan prasyarat penting untuk memperkuat kredibilitas kelembagaan serta menjaga kepercayaan publik terhadap program.
Ketiga, kredibilitas makroekonomi, yaitu menjaga independensi Bank Indonesia, stabilitas rupiah, dan koordinasi fiskal-moneter tanpa mengaburkan tanggung jawab masing-masing otoritas.
“Independensi Bank Indonesia harus dijaga bukan untuk menyenangkan pasar, tetapi untuk melindungi daya beli rakyat. Disiplin fiskal juga bukan berarti menolak program rakyat, melainkan memastikan program rakyat dapat dibiayai secara berkelanjutan. Kepastian usaha bukan berarti menyerahkan ekonomi kepada korporasi, melainkan menciptakan lingkungan agar investasi, produksi, ekspor, dan penciptaan kerja dapat berjalan dengan risiko yang terukur,” kata Yossi.
GREAT Institute memandang bahwa ketegangan antara agenda pembangunan nasional dan dinamika pasar global merupakan realitas yang tidak dapat dihindari.
Tantangan Indonesia bukan memilih antara rakyat atau pasar, melainkan memastikan keduanya dapat bekerja saling melengkapi untuk mencapai tujuan konstitusional berupa kesejahteraan rakyat.
Baca juga: Hendri Satrio Kupas Akar Pemikiran Ekonomi Presiden Lewat Buku Estafet Ideologi Sumitro ke Prabowo
“Ekonomi Pancasila tidak boleh berhenti sebagai slogan. Ukuran keberhasilannya terletak pada kemampuannya menghasilkan pertumbuhan yang inklusif, menjaga stabilitas ekonomi, dan memperluas kesejahteraan masyarakat. Pada akhirnya, kualitas implementasi yang bersih dari korupsi, akuntabel, transparan, dan patuh pada hukum akan jauh lebih menentukan arah perekonomian Indonesia ke depan,” kata Yossi.