Beban Rakyat Bertambah, Legislator Nasdem Usulkan Gaji DPR Dipangkas Separuhnya
Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto meyakini situasi ekonomi Indonesia kini tidak baik dan beban rakyat makin berat.
Penulis:
Febri Prasetyo
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
''Dampak inflasinya mungkin tidak sebesar kenaikan BBM subsidi, tetapi tetap ada tekanan terhadap biaya hidup, terutama bagi kelas menengah yang mobilitas hariannya menggunakan Pertamax,'' ujar Erwin, Kamis, (11/6/2026).
Dia berkata kelas menengah saat ini sudah menghadapi tekanan dari harga pangan, biaya pendidikan, cicilan, dan pelemahan daya beli. Karena itu, kenaikan harga BBM ini bisa membuat ruang konsumsi semakin sempit.
Ketika biaya transportasi pribadi naik, masyarakat biasanya akan mengurangi belanja non-prioritas, seperti makan di luar, rekreasi, belanja ritel, dan konsumsi barang tahan lama. Ini tentu bisa berdampak ke sektor perdagangan, ritel, UMKM, restoran, dan jasa.
Erwin juga menjelaskan harga pangan dan kebutuhan sehari-hari, dampaknya lebih bersifat tidak langsung. Karena distribusi pangan dan logistik utama umumnya memakai solar atau BBM subsidi, efek langsungnya relatif terbatas.
Namun, tetap ada risiko second-round effect, terutama dari biaya operasional pelaku usaha kecil, distribusi jarak pendek, kurir, kendaraan operasional, dan ekspektasi kenaikan harga. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kenaikan BBM nonsubsidi ini menjadi alasan kenaikan harga yang tidak proporsional di pasar.
Baca juga: Harga Pertamax Disebut Bisa Tembus Rp20.000, DPR: Pemerintah Masih Tahan Harga BBM
''Kalau Pertamax naik sekitar 30 persen, bukan berarti harga barang otomatis naik 30 persen. Dampak ke harga barang sangat bergantung pada porsi BBM dalam struktur biaya masing-masing sektor,'' katanya.
''Dari sisi Kadin, kami memandang pemerintah perlu menjaga agar dampak rambatan tidak meluas. Pertama, pastikan pasokan dan harga BBM subsidi tetap stabil serta tepat sasaran,'' ungkapnya.
(Tribunnews/Febri/Sanusi)