Aksi Mahasiswa Menggema, Ini Catatan Eksponen 98
Andrianto Andri, mengaku bangga melihat mahasiswa masih memiliki keberanian menyampaikan aspirasi di ruang publik
Penulis:
Erik S
Editor:
Eko Sutriyanto
Andrianto menilai MBG dan KDMP merupakan instrumen strategis memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus menggerakkan ekonomi desa. Ia berpendapat program-program tersebut layak dikawal dan dievaluasi secara objektif, bukan ditolak secara apriori.
Kritik terhadap Tuntutan Penurunan Harga BBM
Selain menyoroti tema besar aksi, Andrianto juga mengkritisi salah satu tuntutan mahasiswa terkait penurunan harga bahan bakar minyak (BBM).
Menurut dia, harga BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar internasional, sementara pemerintah tetap mempertahankan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar.
"Kalau yang naik adalah BBM non-subsidi, maka harganya memang dipengaruhi pasar global. Pemerintah tidak menaikkan harga BBM subsidi. Karena itu tuntutan tersebut perlu dilihat kembali secara proporsional dan berbasis data," katanya.
Waspadai Kepentingan Elite di Balik Gerakan
Andrianto mengingatkan bahwa sejarah politik Indonesia menunjukkan gerakan mahasiswa sering kali menjadi arena tarik-menarik kepentingan elite.
Ia menyebut sejumlah momentum politik besar, mulai dari 1966, 1974, 1978 hingga 1998, tidak pernah sepenuhnya steril dari pengaruh kelompok-kelompok berkepentingan yang berusaha memanfaatkan energi mahasiswa untuk tujuan tertentu.
"Mahasiswa harus tetap kritis, tetapi juga harus kritis terhadap siapa yang diuntungkan dari setiap gerakan yang mereka lakukan. Jangan sampai idealisme mahasiswa dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki agenda politik terselubung," ujarnya.
Baca juga: Demo Besar Elemen Mahasiswa di Jakarta Dinilai Bagian dari Demokrasi yang Sehat
Publik Menunggu Hasil
Andrianto meyakini gerakan yang dibangun di atas asumsi yang tidak sesuai dengan kondisi riil masyarakat akan sulit memperoleh dukungan luas. Menurut dia, sebagian besar masyarakat saat ini lebih menaruh perhatian pada efektivitas program-program pemerintah yang berdampak langsung terhadap kebutuhan sehari-hari.
Ia menilai pemerintah sedang menunjukkan keseriusan dalam menjalankan agenda pembangunan berbasis kesejahteraan, terutama melalui penguatan ketahanan pangan, peningkatan kualitas gizi masyarakat, dan pemberdayaan ekonomi desa.
"Pada akhirnya masyarakat akan menilai berdasarkan hasil yang mereka rasakan. Yang dibutuhkan hari ini bukan sekadar narasi bahwa negara sedang gagal, melainkan evaluasi yang jujur terhadap program-program yang sedang berjalan. Kritik tetap penting, tetapi harus berdiri di atas fakta dan kepentingan rakyat," kata Andrianto/Mantan Sekjend Jaringan Aktivis ProDemokrasi (ProDEM)
Demokrasi Sehat
Ketua Umum EMUD (Emak Muda) Relawan Prabowo, Hj. Oktasari Sabil, menilai penyampaian kritik dan aspirasi oleh mahasiswa merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang harus dihormati.
Menurut dia, kebebasan berpendapat telah dijamin oleh konstitusi dan menjadi salah satu instrumen penting dalam mengawal jalannya pemerintahan.
"Kami menghormati hak setiap warga negara untuk menyampaikan aspirasi, termasuk mahasiswa, kritik merupakan bagian dari demokrasi yang sehat," kata Oktasari dalam keterangannya, Selasa (16/6/2026).
Meski demikian, Oktasari mengingatkan agar kritik yang disampaikan tetap mengedepankan objektivitas serta mempertimbangkan berbagai upaya yang sedang dilakukan pemerintah dalam menjalankan program-program pembangunan.
Menurutnya, pemerintah saat ini tengah berupaya menjalankan sejumlah agenda strategis yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.