Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:00 WIB
France
Prancis
3 - 1
Senegal
Senegal
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 05:00 WIB
Iraq
Irak
Live
Norway
Norwegia
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
Argentina
Argentina
VS
Algeria
Aljazair
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:00 WIB
Austria
Austria
VS
Jordan
Yordania
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Pengamat Nilai Jokowi Lebih Tepat Pimpin PSI Sebagai Ketua Umum

Wacana bergabungnya mantan Presiden RI ke-7, Joko Widodo (Jokowi), ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kembali menjadi sorotan. 

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Reza Deni
zoom-in Pengamat Nilai Jokowi Lebih Tepat Pimpin PSI Sebagai Ketua Umum
Youtube PSI
JOKOWI DAN PSI – Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) memberi arahan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) 2026 di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (31/1/2026). 
Memuat video…

Ringkasan Berita:
  • Pengamat menilai Jokowi lebih tepat memimpin PSI sebagai ketua umum.
  • Posisi Ketua Dewan Pembina dinilai belum cukup mendongkrak elektabilitas PSI.
  • Basis relawan loyal Jokowi dianggap modal penting menghadapi Pemilu 2029.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wacana bergabungnya mantan Presiden RI ke-7, Joko Widodo (Jokowi), ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kembali menjadi sorotan. 

Di tengah kabar bahwa Jokowi akan ditempatkan sebagai Ketua Dewan Pembina PSI, pengamat politik justru menilai posisi tersebut belum cukup strategis untuk mendongkrak kekuatan partai.

Direktur Pusat Riset Politik Hukum dan Kebijakan Indonesia (PRPHKI), Saiful Anam, menilai apabila PSI serius ingin meningkatkan daya saing politiknya menjelang Pemilu 2029, maka Jokowi sebaiknya ditempatkan sebagai Ketua Umum partai.

"Kalau Jokowi hanya menjadi Ketua Dewan Pembina, saya kira PSI tidak akan mampu melenggang ke Senayan dengan signifikan. Bahkan perolehan suaranya bisa jadi tidak terlalu besar," ujar Saiful kepada wartawan, Selasa (16/6/2026).

Menurut Saiful, posisi Ketua Dewan Pembina untuk Jokowi hanya akan menjadikan Jokowi sebagai simbol partai.

Rekomendasi Untuk Anda

Padahal, mantan Presiden dua periode itu memiliki pengaruh politik yang jauh lebih besar dan berpotensi menjadi motor utama penguatan elektoral PSI.

Menurutnya, kepemimpinan PSI saat ini masih membutuhkan penguatan, baik dari sisi pengalaman politik maupun kemampuan membangun komunikasi dengan publik.

Saiful secara khusus menyoroti Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, yang menurutnya masih memerlukan jam terbang politik lebih banyak.

Selain itu, dia menilai basis relawan Jokowi yang selama ini dikenal loyal dan militan merupakan modal politik besar yang bisa dimanfaatkan PSI apabila Jokowi memegang kendali langsung di dalam partai.

"Pendukung Jokowi dikenal sangat loyal dan militan. Mereka cenderung mengikuti arahan Jokowi secara penuh."

"Artinya, relawan Jokowi ini adalah kekuatan politik besar yang seharusnya bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh PSI," katanya.

Baca juga: Ketum Militan Gibran soal Kasus Ijazah Jokowi: P21 Itu Tidak Perlu Tersangka Diberikan Tembusan

Menurut Saiful, jika Jokowi hanya ditempatkan sebagai ikon partai tanpa kewenangan strategis, maka PSI akan sulit meniru lonjakan elektoral yang pernah diraih Partai Demokrat pada Pemilu 2009.

"Jokowi jangan hanya dijadikan simbol. Ia harus menjadi pemegang tampuk kepemimpinan tertinggi, yaitu sebagai Ketua Umum PSI," kata dia.

Lebih lanjut, dosen pascasarjana Universitas Sahid Jakarta itu menilai kapasitas politik Jokowi saat ini sudah berada pada level yang setara dengan para ketua umum partai besar nasional.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas