Tribun

Inflasi Dorong Gelombang PHK Massal Pada Ratusan Karyawan Startup di Asia Tenggara

Lonjakan inflasi di pasar global, telah menghantui para pelaku usaha khususnya perusahaan startup di kawasan Asia Tenggara untuk melakukan PHK

Penulis: Namira Yunia Lestanti
Editor: Sanusi
zoom-in Inflasi Dorong Gelombang PHK Massal Pada Ratusan Karyawan Startup di Asia Tenggara
ist
Ilustrasi Startup/ Lonjakan inflasi di pasar global, telah menghantui para pelaku usaha khususnya perusahaan startup di kawasan Asia Tenggara untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada ratusan karyawannya. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, SINGAPURA – Lonjakan inflasi di pasar global, telah menghantui para pelaku usaha khususnya perusahaan startup di kawasan Asia Tenggara untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada ratusan karyawannya.

Langkah ini diambil setelah ekonomi global terus dihantui inflasi akibat lonjakan harga bahan pangan dan energi, kondisi tersebut makin diperparah dengan adanya kebijakan ekstrem The Fed yang menaikkan suku bunga negaranya. Hal inilah yang membuat para pemilik bisnis startup terpaksa memangkas karyawannya, demi mengurangi kerugian di tengah ketidakpastian ekonomi.

“Kenaikan suku bunga akan meningkatkan biaya melakukan bisnis, dan biaya modal, dan ekspektasi pengembalian bagi investor. Dengan suku bunga yang lebih tinggi maka hal tersebut akan menurunkan margin keuntungan perusahaan,” kata Jefrey Joe, mitra pengelola perusahaan modal ventura Alpha JWC.

Baca juga: Penguatan Rubel Terhadap Dolar AS Dorong Perlambatan Inflasi Rusia

Seperti Shopee, e-commerce asal Singapura tersebut, baru – baru ini telah melakukan pemangkasan pekerja dari layanan pengiriman makanan dan pembayaran di sejumlah negara seperti Argentina, Chili dan Meksiko. Cara ini diambil Shopee dengan maksud untuk memfokuskan sumber daya perusahaan, sehingga mereka dapat meningkatkan efisiensi kinerja.

Langkah serupa juga diikuti oleh startup asal Singapura lainnya, mengutip CNBC Internasional StashAway, platform digital satu ini dikabarkan telah melakukan pemangkasan sebanyak 14 persen atau 31 karyawan pada bulan Mei hingga Juni.

Selanjutnya ada iPrice, Platform belanja online asal Malaysia yang juga melakukan PHK massal pada seperlima dari 250 karyawannya di bulan Juni. Kemudian Zenius yang memangkas lebih dari 200 karyawannya yang berlokasi di kawasan Asia-Pasifik, Eropa, Timur Tengah dan Afrika,Amerika.

Menyusul yang lainnya, JD.id situs e-commerce asal China yang berlokasi di Indonesia belakangan diketahui juga tengah merencanakan pemangkasan pekerjanya, meski hingga saat ini JD.id belum mau menyebut berapa banyak karyawannya yang akan dirumahkan.

Baca juga: Daftar Startup di Indonesia yang Melakukan PHK Sepanjang Tahun 2022

Namun direktur umum manajemen JD.id menyebut bahwa langkah ini ditempuh perusahaan dengan tujuan untuk menjaga daya saing di tengah kondisi pasar yang kompetitif.

Meski Asia Tenggara termasuk wilayah yang memiliki prospek bagus bagi para perusahaan teknologi, untuk merintis usahanya lantaran ramainya populasi kelas menengah,serta tingkat penggunaan internet yang tinggi.
Namun karena pergerakan ekonomi global masih berjalan lambat membuat perusahaan memilih jalan aman dengan tidak melakukan penambahan karyawan dan tetap melanjutkan tren gelombang PHK hingga beberapa bulan kedepan,

“Saya pikir kita mungkin akan melihat lebih banyak PHK terjadi selama beberapa bulan ke depan,” kata Jessica Huang Pouleur, mitra di perusahaan modal ventura Openspace.

Deretan Start-up yang PHK Karyawannya, dari Fabelio hingga LinkAja

Jumlah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap karyawan perusahaan semakin meningkat. Kondisi makro ekonomi yang terguncang selama masa pandemi, menjadi salah satu penyebabnya.

Selain itu, terdapat penyesuaian pada fokus dan kebutuhan bisnis perusahaan.

Tren PHK ini juga menimpa beberapa perusahaan rintisan atau lebih dikenal dengan nama start-up. Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun terakhir, terhitung ada 4 perusahaan start-up yang melakukan PHK pada karyawannya.

Lalu, apa saja perusahaan-perusahaan tersebut? Dilansir dari Kompas.com, berikut daftarnya:

1. Fabelio

Pada Desember 2021 lalu, salah satu perusahaan furnitur Fabelio, viral di media sosial karena diduga tidak membayar hak karyawan hingga dituding menggunakan ormas untuk memaksa karyawannya mengundurkan diri (resign).

Selain gaji yang tidak dibayar, Fabelio diduga belum membayarkan BPJS para pekerja hingga masih memiliki tunggakan hutang ke vendor.

Head of Human Capital Management Fabelio Febrian mengaku, Fabelio memang melakukan pengurangan jumlah karyawan sejak awal tahun 2021. Hal itu, sebagai langkah efisiensi perusahaan yang mengalami kesulitan secara finansial. Pada periode awal tahun 2021, ada sekitar 20-an karyawannya yang dipecat.

Selama pandemi Covid-19, tingkat penjualan furnitur di Fabelio memang menurun drastis. Konsumen yang datang dan berbelanja ke showroom juga semakin sedikit. Fabelio pun menutup hampir seluruh gerai atau showroom yang berada di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), Bandung dan Surabaya.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas