Tribun Otomotif

Wuling dan Renault Jual Low MPV Murah, Bagaimana Nasib Avanza?

Dewasa ini, beberapa produsen otomotif di Indonesia nampak berlomba-lomba menghadirkan mobil berharga murah.

Editor: Fajar Anjungroso
Wuling dan Renault Jual Low MPV Murah, Bagaimana Nasib Avanza?
Tribunnews/JEPRIMA
Sales Promotion Girls (SPG) saat berfoto didepan mobil Wuling pada ajang pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS) 2019 di JIExpo Kemayoran, Jakarta Utara, Kamis (25/4/2019). Wuling Motors membawa dua andalan barunya, pertama adalah sebuah small MPV Wuling Confero S yang mengusung fitur baru transmisi pintar ACT (Automated Clutch Transmission) dan medium MPV Wuling Cortez CT yang dilengkapi dengan Turbocharger.(Tribunnews/Jeprima) 

"Segmen paling besar di Indonesia sampai saat ini masih Multi Purpose Vehicle ( MPV) yakni 43 persen dari total kendaraan, setengahnya dikuasai oleh LMPV. Tentu, tepat rasanya bila masuk ke pasar gemuk tersebut. Tapi, produsen harus mencari celah agar bisa bertanding dengan kompetitor, karena sangat padat," kata Soerjo di GIIAS 2019, Tangerang, Sabtu (27/7/2019).

"Maka, harus ada gimmick menarik mulai dari harga yang murah, warranty yang panjang, ditambahkan teknologi sederhana namun fungsional, sah-sah saja. Tapi menariknya, mereka tidak masuk ke LCGC (pertarungan sesama mobil murah)," lanjutnya.

Tidak masuknya produsen tersebut ke segmen LCGC dan sedikit menyenggol pasar LMPV dinyatakan membuat golongan pasar baru di Indonesia.

Yaitu, di antara LCGC dan LMPV yang sebagai patokannya menurut Soerjo adalah Toyota Avanza.

"Mereka (Wuling, Renault, dan lainnya) berhasil menemukan peluang di pasar baru. Jadi skemanya, orang yang baru berpindah dari motor ke mobil masuk ke LCGC, ketika ingin naik kelas, sebelum ke Avanza, masuk ke segmen mereka dahulu. Atau, bisa langsung naik ke Avanza dan sekelasnya (seperti Suzuki Ertiga, Daihatsu Xenia, sampai Honda Mobilio)," kata Soerjo.

Strategi Toyota

Tentu dengan fenomena ini, produsen otomotif seperti Toyota harus memutar strategi kembali. Seperti menyuguhkan sedikit perubahan pada model produk yang ditawarkannya atau biasa dikenal facelift.

"Bila berbicara Avanza, saat ini tekanannya ada dari bawah dan atas (LMPV seperti Xpander). Oleh sebab itu, dari Toyota sendiri pasti harus lakukan refreshment produk dan tentu harus berbeda dengan kompetitor," ucap Soerjo.

Lalu, meningkatkan layanan purna jual, menjaga harga jual kembali (resale value), dan sparepart juga penting.

Model berpose pada peluncuran Toyota New Avanza dan Toyota  New Veloz di Jakarta Pusat, Selasa (15/1/2019). Selama 15 tahun kehadirannya di Indonesia, Toyota Avanza berhasil membukukan total penjualan lebih dari 1,7 juta unit, yang diharapkan kesuksesan tersebut mampu dilanjutkan oleh New Avanza dan New Veloz yang penjualannya ditargetkan mencapai 7.000 - 7.500 unit per bulan.  (Warta Kota/Alex Suban)
Model berpose pada peluncuran Toyota New Avanza dan Toyota New Veloz di Jakarta Pusat, Selasa (15/1/2019). Selama 15 tahun kehadirannya di Indonesia, Toyota Avanza berhasil membukukan total penjualan lebih dari 1,7 juta unit, yang diharapkan kesuksesan tersebut mampu dilanjutkan oleh New Avanza dan New Veloz yang penjualannya ditargetkan mencapai 7.000 - 7.500 unit per bulan. (Warta Kota/Alex Suban) (Alex Suban/Alex Suban)

Tak lupa menjaga kedekatan konsumen kepada industri tersebut. "Ketika konsumen sudah percaya, dia akan continue. Inilah hal yang harus dijaga. Layanan juga harus ditambah agar lebih dekat kepada mereka seperti menghadirkan THS (Toyota Home Service)," kata dia.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas