Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Otomotif
LIVE ●

Mobil Operasional Diam-diam Gerus Cash Flow Perusahaan, Begini Solusinya

Mempertahankan mobil operasional terlalu lama bisa menggerus nilai aset perusahaan. Simak cara menjaga nilainya tetap optimal.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Content Writer
zoom-in Mobil Operasional Diam-diam Gerus Cash Flow Perusahaan, Begini Solusinya
Istimewa
INSPEKSI KENDARAAN - Menentukan waktu yang tepat untuk menjual kendaraan menjadi kunci agar perusahaan tidak kehilangan nilai aset. Data kondisi kendaraan yang lengkap dapat menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih terukur. 

TRIBUNNEWS.COM - Salah satu kesalahan yang paling umum terjadi adalah mempertahankan kendaraan perusahaan terlalu lama karena merasa mobil masih layak jalan.

Secara operasional, anggapan tersebut mungkin benar. Mesin masih hidup, AC masih dingin, dan kendaraan belum mengalami kerusakan besar. Namun, dari sisi aset, nilainya sebenarnya terus menurun setiap bulan.

Di saat bersamaan, biaya kepemilikan justru mulai meningkat. Memasuki tahun keempat dan kelima, sejumlah pengeluaran mulai membengkak, antara lain:

  • Servis berkala yang mulai lebih sering.
  • Komponen fast moving yang mulai banyak diganti.
  • Risiko downtime yang meningkat.
  • Serta potensi kerusakan besar yang mulai bermunculan.

Jika sebelumnya biaya servis tahunan hanya Rp 3–5 juta, pada usia ini pengeluaran bisa naik menjadi Rp 10–15 juta per tahun. Angka tersebut bahkan bisa lebih tinggi apabila terjadi kerusakan pada transmisi, sistem pendingin, atau kaki-kaki.

Yang sering tidak disadari, perusahaan sebenarnya mengalami dua kerugian sekaligus, yaitu:

  • nilai aset yang turun.
  • biaya mempertahankan aset yang naik.

Pada titik tertentu, kendaraan tak lagi menghasilkan efisiensi. Sebaliknya, kendaraan justru mulai menggerus arus kas (cash flow) operasional.

Simulasi: Selisih Waktu Jual Bisa Mengubah Nilai hingga Puluhan Juta

Untuk menggambarkan kondisi tersebut, ada baiknya menengok sebuah simulasi sederhana. Misalnya, sebuah perusahaan memiliki kendaraan operasional yang dibeli seharga Rp 250 juta.

Rekomendasi Untuk Anda

Apabila dijual pada tahun ke-4, kendaraan tersebut umumnya masih memiliki posisi tawar yang baik dengan rincian sebagai berikut:

  • Nilai pasar masih berada di kisaran Rp 140–150 juta.
  • Kondisi kendaraan umumnya masih relatif sehat.
  • Risiko kerusakan besar (major repair) belum terlalu tinggi.
  • Kendaraan masih menarik bagi showroom maupun pengguna akhir (end user).

Sebaliknya, apabila kendaraan baru dijual pada tahun keenam atau ketujuh, kondisinya akan jauh berbeda, yakni:

  • Nilai pasar bisa turun ke Rp 90–110 juta.
  • Jarak tempuh sudah tinggi.
  • Risiko kerusakan besar meningkat.
  • showroom mulai lebih agresif menekan harga.

Artinya, hanya karena terlambat menjual satu hingga dua tahun, perusahaan bisa kehilangan nilai sebesar Rp 30–50 juta per unit. Angka tersebut belum termasuk biaya tambahan yang sudah dikeluarkan selama mempertahankan kendaraan.

Jual ke Showroom: Cepat Cair, tetapi Ada Biaya Tersembunyi

Setelah memutuskan untuk menjual kendaraan, perusahaan biasanya dihadapkan pada dua opsi utama, yakni melepas ke showroom atau langsung ke pengguna akhir (end user). Di antara keduanya, jalur showroom menjadi pilihan yang paling umum karena dinilai praktis.

Sejumlah kelebihan yang ditawarkan jalur ini antara lain:

  • Transaksi lebih cepat.
  • Tidak perlu mencari pembeli,
  • Cocok untuk penjualan armada dalam jumlah besar.
  • Proses administrasi lebih sederhana.

Kendati demikian, ada harga yang harus dibayar dari kepraktisan tersebut. Showroom membeli kendaraan bukan untuk dipakai, melainkan untuk dijual kembali.

Itu artinya, mereka membutuhkan margin keuntungan, biaya refurbish, biaya stok unit, hingga penyangga (buffer) risiko apabila kendaraan sulit terjual. Akibatnya, harga beli showroom hampir selalu berada di bawah nilai pasar.

Sebagai contoh, sebuah kendaraan dengan nilai pasar Rp 145 juta tentu memiliki sejumlah komponen biaya bagi showroom, seperti:

  • Estimasi biaya refurbish sebesar Rp 5–8 juta.
  • Margin dealer sebesar Rp 10–15 juta.
Sesuai Minatmu
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas