Memanusiakan Air untuk Mencegah Bencana
Air bukan sekadar sumber daya. Dengan memanusiakan air, kita bisa mencegah banjir, longsor, dan krisis air bersih.
Editor:
Sri Juliati
1. Banjir dan Longsor
Fenomena ini adalah respons langsung terhadap hilangnya daya serap tanah. Deforestasi membuat lapisan tanah penahan air hilang.
Air hujan yang turun tidak lagi tertahan dan menyeret massa tanah (longsor), atau mengalir deras sebagai limpasan permukaan (run-off) yang membanjiri dataran rendah.
Di perkotaan, masalah diperparah oleh drainase kota yang buruk. Penggunaan beton dan aspal secara masif menutup permukaan tanah, sementara sampah menyumbat parit dan gorong-gorong.
Air yang seharusnya mengalir terhenti, mencari jalur baru, dan akhirnya menggenangi pemukiman.
2. Kekeringan dan Krisis Air Bersih
Di musim kemarau, kegagalan dalam memanusiakan air menciptakan krisis air. Penutupan daerah resapan (sumur, biopori) menyebabkan air hujan terbuang sia-sia.
Akibatnya, cadangan air di akuifer habis. Penarikan air tanah secara berlebihan yang dilakukan oleh industri atau kawasan padat penduduk mempercepat kekeringan sumur dangkal.
Lebih jauh lagi, di kawasan pesisir, penipisan akuifer memicu intrusi air laut, mencemari air tanah dan membuatnya tidak layak minum.
Mengembalikan Air sebagai Kawan
Memanusiakan air membutuhkan tindakan nyata dan kolektif. Solusi harus dilaksanakan dari tingkat individu hingga kebijakan.
Skala Individu dan Rumah Tangga
- Konservasi Air Praktis: Memperbaiki kebocoran pipa, menggunakan kembali air cucian (Greywater) untuk menyiram tanaman, dan mematikan keran saat tidak digunakan.
- Sistem Biopori dan Sumur Resapan: Setiap rumah tangga diwajibkan membuat lubang biopori atau sumur resapan. Biopori adalah investasi kecil dengan dampak besar, mengembalikan air ke tanah dan mengurangi beban drainase kota.
- Pemanenan Air Hujan (Rain Harvesting): Memasang sistem penampungan air hujan sederhana di rumah untuk digunakan pada keperluan non-minum.
Skala Komunal dan Kebijakan
Menanggapi perintah Presiden Prabowo, maka perlu kiranya kajian strategis dari PT sebagai solusi kebijakan 'memanusiakan air' kembali, yaitu:
1. Rehabilitasi Lahan Kritis: Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama dalam program reforestasi di daerah hulu dan kawasan DAS yang rusak.
Penanaman pohon lokal yang memiliki daya serap air tinggi harus menjadi prioritas.
2. Tata Ruang Berbasis Air: Kebijakan tata ruang harus ketat, melarang pembangunan di zona resapan air dan sempadan sungai.
Prinsip ini memastikan bahwa fungsi ekologis lahan dipertahankan di atas kepentingan ekonomi jangka pendek.
Baca tanpa iklan