From Dream to White Coat: Menyiapkan Langkah Menuju FK-Unpad
GO bekerja sama dengan FK Unpad menggelar Webinar Sosialisasi FK Unpad untuk memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai dunia pendidikan kedokteran.
Editor:
Sri Juliati
"Yang terpenting adalah adanya lifelong learning. Seorang dokter tidak pernah berhenti belajar karena ilmu kedokteran terus berkembang," ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa memilih pendidikan kedokteran sebaiknya tidak semata-mata didasarkan pada pandangan mengenai prestise profesi atau pertimbangan materi.
Lebih dari itu, menjadi dokter adalah panggilan untuk menolong sesama melalui ilmu yang terus dipelajari sepanjang hidup.
"Masuk fakultas kedokteran memang tidak mudah, tetapi dengan persiapan yang baik, kerja keras, serta strategi belajar yang tepat, peluang itu selalu terbuka. Yang terpenting adalah memastikan bahwa pilihan untuk menjadi dokter benar-benar lahir dari niat untuk mengabdi dan membantu orang lain," pesannya kepada para peserta webinar.
Mempersiapkan Mimpi dengan Strategi bersama Ganesha Operation
Dalam webinar tersebut, Direktur Utama Ganesha Operation, Prof. Dr. Ir. Bob Foster, M.M., memberikan motivasi kepada para peserta yang bercita-cita menempuh pendidikan di bidang kedokteran.
Ia mengingatkan, program studi kedokteran merupakan salah satu program paling diminati di berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia, termasuk di Universitas Padjadjaran yang memiliki reputasi akademik kuat hingga tingkat internasional. Tingginya minat ini membuat proses seleksi menjadi sangat kompetitif.
Di sisi lain, Prof. Bob juga menyoroti bahwa kebutuhan tenaga dokter di Indonesia masih cukup besar. Ia menjelaskan, rasio jumlah dokter di Indonesia saat ini baru sekitar 0,47 per 1.000 penduduk, masih jauh dari standar ideal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu satu dokter untuk setiap 1.000 penduduk.
Ia juga menampilkan data tingkat persaingan klaster kesehatan di Universitas Padjadjaran melalui jalur SNBT 2025. Program Studi Pendidikan Dokter S1, misalnya, mencatat 2.944 peminat dengan daya tampung hanya 99 kursi atau tingkat kelulusan sekitar 3,4 persen.
Persaingan serupa juga terlihat pada program studi lain seperti Pendidikan Dokter Gigi (3,2%), Kedokteran Hewan (4,8%), Farmasi (4%), Ilmu Keperawatan (3,5%), Psikologi (2,2%), hingga Kebidanan yang hanya sekitar 0,5%.
Meski demikian, ia menegaskan, ketatnya persaingan seharusnya tidak membuat siswa merasa pesimis. Sebaliknya, kondisi tersebut justru perlu dijadikan pemicu semangat untuk mempersiapkan diri secara lebih serius.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Bob juga memperkenalkan konsep Formula 3B yang menjadi prinsip belajar di Ganesha Operation, yaitu Belajar, Berlatih, dan Bertanding.
Menurutnya, kebiasaan belajar yang konsisten, memperbanyak latihan soal, serta mengukur kemampuan melalui simulasi ujian menjadi langkah penting dalam mempersiapkan diri menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi.
Ia menambahkan, masa depan seseorang tidak hanya ditentukan oleh tujuan yang ditetapkan, tetapi juga oleh kebiasaan yang terus dilakukan setiap hari.
Kehidupan Mahasiswa Kedokteran dan Dukungan Akademik
Dalam kesempatan yang sama, Manajer Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran Unpad, Dr. Yuni Susanti Pratiwi, dr., AIFO., M.Kes., turut memberikan gambaran mengenai kehidupan mahasiswa serta sistem pembelajaran yang diterapkan di FK Unpad.
Ia menjelaskan, proses seleksi masuk ke Universitas Padjadjaran, khususnya melalui jalur SNBP, tidak hanya bertumpu pada satu indikator saja.
Baca tanpa iklan