Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

PJJ dan Pengaruhnya Terhadap Psikologi Anak Jelang Ujian Sekolah

Bagi anak yang cepat atau mudah beradaptasi, PJJ mungkin bukan sebuah masalah. Namun tidak demikian bagi anak yang sulit atau tidak cepat beradaptasi.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Hendra Gunawan
Editor: Dewi Agustina
zoom-in PJJ dan Pengaruhnya Terhadap Psikologi Anak Jelang Ujian Sekolah
istimewa
Ilustrasi Pembelajaran jarak jauh 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Salah satu hal yang dikemukakan oleh Kemendikbud terkait dampak dari pembelajaran jarak jauh (PJJ) adalah adanya tekanan psikologis pada anak.

Dimana, itu bisa berupa stres lantaran minimnya interaksi dengan guru, teman dan lingkungan, bisa juga dikarenakan tekanan akibat sulitnya pembelajaran jarak jauh itu sendiri.

Bagi anak yang cepat atau mudah beradaptasi, PJJ mungkin bukan sebuah masalah. Namun tidak demikian bagi anak yang sulit atau tidak cepat beradaptasi.

Alih-alih efektif, PJJ justru dapat mendatangkan tekanan. Terlebih saat menghadapi ujian.

Ya, ketidaksiapan menghadapi ujian tak dimungkiri dapat menjadi pemicu stres lainnya pada anak.

Bukan saja membuat anak kurang termotivasi belajar, ada juga yang stres karena memiliki target yang tinggi tetapi bingung untuk mencapainya karena tidak ada guru yang mendampingi secara fisik.

Psikolog Intan Erlita MPsi, dalam acara PODCAST Telset TV.
Psikolog Intan Erlita MPsi, dalam acara PODCAST Telset TV. (Istimewa)

Lantas, bagaimana caranya agar psikologi anak tetap stabil/terjaga selama pembelajaran jarak jauh? Termasuk juga menjaga agar tetap stabil menjelang ujian sekolah?

Rekomendasi Untuk Anda

Tentu bukan perkara mudah. Karena bagaimanapun ada begitu banyak perbedaan yang harus dihadapi antara sebelum dan selama pandemi.

Sebagai contoh, jika sebelum pandemi dulu pembelajaran 100 persen dilakukan di sekolah. Dimana siswa memiliki atau membentuk pola belajar yang umumnya sama.

Misalnya belajar berkelompok, belajar dengan teman sebaya, mandiri, atau dengan guru sebagai fasilitator yang dapat memantau maksimal pembelajaran siswa.

Setelah pandemi, pembelajaran dilakukan dari rumah, jarak jauh, sehingga rangkaian prosedur belajar yang dilakukan pun ikut berubah. Lebih banyak mandiri.

Kalaupun ada belajar berkelompok, itu dilakukan secara virtual, sehingga tentunya ada perbedaan.

Peran guru dalam proses pembelajaran pun demikian, menjadi sangat berkurang. Sebagai gantinya, orang tua mengambil alih.

Sekali lagi, ini tidak mudah. Bukan saja bagi orang tua, tetapi juga si anak. Dari sini, berbagai tekanan psikologis mulai berdatangan.

Pada level tertentu, bahkan membuat anak menjadi kurang termotivasi dalam aktivitas pembelajaran.

Halaman 1/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas